Pendidikan Rasa Bisnis

Pendidikan Rasa Bisnis





Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap Program Organisasi Penggerak (POP). Evaluasi ini dilakukan setelah beberapa organisasi masyarakat menyatakan mundur karena menilai banyak kejanggalan dalam program ini.

"Kemendikbud telah memutuskan untuk melakukan proses evaluasi lanjutan untuk menyempurnakan program organisasi penggerak," ujar Nadiem dalam konferensi pers secara daring, Jumat (tribunnews.com, 24/7/2020).

Seperti diketahui, PGRI, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan mundur dari Program Organisasi Penggerak yang diluncurkan Kemendikbud.

POP merupakan salah satu program unggulan Kemendikbud. Program ini bertujuan memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru penggerak demi meningkatkan kualitas dan kemampuan peserta didik. Dalam program itu, Kemendikbud melibatkan sejumlah organisasi masyarakat dan individu yang memiliki kapasitas untuk meningkatkan kualitas para guru melalui berbagai pelatihan.

Kemendikbud mengalokasikan anggaran Rp 595 miliar per tahun untuk membiayai pelatihan atau kegiatan yang diselenggarakan organisasi terpilih. Hal ini mengingatkan dengan program Kartu Prakerja, yang juga menghabiskan banyak dana tapi tak banyak berguna mengentaskan mereka yang terdampak Covid-19.

Lantas mengapa menjadi program unggulan Mendikbud, untuk apa dan apa targetnya? Sebab tujuan dari pendidikan adalah sebagaimana yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3:

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Adakah hubungannya pendidikan dengan pelatihan para guru guna mempelajari berbagai pelatihan, tak pelak lagi ini mengarah kepada sistem pendidikan vokasi yang tujuannya adalah output yang terampil dan siap bekerja.

Beginilah negara korporatokrasi, negara tidak berperan untuk mengurusi kepentingan umat dan justru menguntungkan para kapital. Akan di bawa ke mana pendidikan negeri ini jika masih diterapkan sistem kapitalisme yang culas ini?

Dengan dana yang lumayan besar alangkah bijaknya jika kemudian bisa disalurkan kepada bidang yang lain, berupa sarana dan prasarana sekolah yang kurang, bisa untuk gaji guru honorer yang terbengkalai dan lain sebagainya. Yang jelas wajah pendidikan kita sedang tak sedap dipandang mata, penuh dengan campur tangan mereka yang hanya ingin mengkapitalisasi pendidikan.

Ulah siapa lagi jika bukan mereka yang benci Islam, mengapa demikian? Sebab Islam kini mulai terbangun dari mimpi panjangnya dan segera mengambil langkah mengembalikannya kepada kejayaannya dulu. Orientasi pendidikan yang melenceng inilah yang akhirnya menjebak kita bahwa gambaran pendidikan barat adalah yang terbaik.

Padahal Islam sebagai agama yang sempurna telah membuktikan bahwa sistem pendidikan negara mampu mencetak ratusan ilmuwan terkenal di dunia bahkan hingga kini buah pikir mereka masih dipergunakan baik di dunia.

Pendidikan dalam Islam tidak akan berfungsi sebagai badan sosial yang itu menarik dana dari masyarakat. Sebab, setiap aspek kehidupan didukung oleh Baitulmaal sebagaimana pendidikan. Dengan pos-pos yang disebutkan dalam syariat. Tak hanya kurikulum yang ditetapkan negara Daulah tapi juga sarana dan prasarananya. Sehingga anak didik akan mendapatkan pendidikan yang maksimal. Wallahu bish showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: