Saatnya Liberalisme Tak Mendapat Tempat

Saatnya Liberalisme Tak Mendapat Tempat





Oleh : Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Pengadilan Agama Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menerima permohonan dispensasi nikah sebanyak 237 perkara selama periode Januari-Juli 2020. Dari angka tersebut sebanyak 52 persen pengajuan lantaran hamil di luar pernikahan dan sisanya atau 48 persen tidak hamil (IDN Times, 27/7/2020).

Ketua Panitera, Pengadilan Agama Jepara, Taskiyaturobihah mengaku angka pengajuan dispensasi nikah meningkat seiring diberlakukannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 atas revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan. Yakni disebutkan usia pernikahan maksimal 19 tahun untuk semua calon mempelai, baik laki-laki maupun perempuan.

Kurangnya umur 19 tahun menjadi faktor utama naiknya permohonan. Ia pun menyatakan tingginya pengajuan perkara dispensasi menikah terjadi hampir di seluruh Pengadilan Agama se-Indonesia, tak terkecuali di Jepara.

"Jika pada UU Nomor 1 tahun 1974 pada pasal 7 disebutkan calon pengantin perempuan usia maksimal 16 tahun dan laki-laki maksimal 19 tahun, maka sekarang keduanya maksimal 19 tahun, jeda umur 3 tahun (dari perempuan) itu menjadi faktor tingginya permohonan dispensasi nikah. Akhirnya jumlahnya semakin meningkat sejak Oktober 2019 sampai sekarang," imbuhnya.

Mengapa yang terjadi saat batas usia pernikahan dinaikkan menjadi 19 tahun justru banyak pelanggaran? Sebab ini menyalahi fitrah manusia. Dalam Islam, manusia baligh batasannya adalah tak boleh lebih dari 15 tahun. Sudah muncul tanda-tanda kedewasaan atau belum, tetap batas maksimal seorang anak dianggap baligh adalah 15 tahun.


Salah satu dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, "Terangkatlah pertanggungjawaban dari tiga golongan, yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak-anak hingga ia ihtilam (bermimpi basah dan mengeluarkan mani), dan orang gila hingga ia sembuh (kembali berakal)."


Tanda-tanda balig dapat diketahui melalui tiga hal. Yang pertama, umur anak laki-laki dan perempuan, yang dalam hal ini ada beragam pendapat ulama. Kedua, apakah seseorang sudah bermimpi basah (atau mengeluarkan mani) atau belum. Ketiga, untuk perempuan, apakah ia sudah haid atau belum. Meskipun pendapat 4 imam Mazhab ada perbedaan, tapi rata-rata mengatakan usia baligh tak lebih dari 15 tahun menurut Mazhab Syafi'i dan Hambali.

Dalam Islam, usia akil balig sangat penting, itulah usia yang menandai apakah seseorang sudah dapat dibebani kewajiban menjalankan syariat sepenuhnya atau belum. Sehingga tidak akan terjadi kezaliman baik bagi yang bersangkutan maupun masyarakat.

Bandingkan dengan fakta hari ini, menikah dibawah umur 18 tahun dianggap pernikahan dini, kemudian dinarasikan sesuatu yang buruk baik itu tentang kesehatan reproduksi, tanggung jawab menjadi orangtua, biaya hidup yang sulit dan sebagainya.

Negara malah membolehkan zina dalam bentuk pacaran atau penjajahan. Sedangkan setan tak pernah berhenti menggoda mereka yang berdua-dua atas nama cinta dan penjajahan. Berapa banyak kemudian kasus hamil diluar nikah, masih lebih baik mereka meminta dispensasi karena usia mereka masih" dibawah" aturan, tapi bagaimana yang tak berani menikah bahkan takut sehingga tak ada yang mau bertanggung jawab?

Kasus berikutnya pastilah banyaknya bayi tak berdosa yang dibuang ayah ibunya. Banyak hal yang terpaksa rusak hanya karena satu kesalahan diawal. Rusaknya nasab, rusaknya waris, wali dan yang lainnya.

Ini bukti bahwa sekulerisme sangat berbahaya, tak hanya bila dianut oleh individu, tapi lebih-lebih oleh sebuah sistem. Hidup manusia tak beradab bahkan melebihi hewan. Memperturutkan hawa nafsu semata, padahal mereka makluk paling mulia yang di ciptakan Allah SWT.

Sekulerisme yang mengakar dalam sistem menciptakan kebebasan bagi manusia untuk mengekspresikan apapun sekehendaknya, tanpa batas dan tanpa aturan. Maka, semestinya baik sekulerisme maupun liberalisme tak mendapatkan tempat.

Bukankah ini cukup membuktikan bahwa kebebasan yang diusung demokrasi membuat generasi hari ini semakin rusak? Sudah selayaknya kita bersegera mencampakkan demokrasi dan beralih pada sistem dari Ilahi, syariah kaffah. Wallahu a' lam bish showab.

Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: