Sarjana Menjadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah?

Sarjana Menjadi Ibu Rumah Tangga, Salahkah?


Oleh: Sri Purwanti, Amd.KL
Pegiat Literasi Tanah Bumbu


Dewasa ini profesi sebagai ibu rumah tangga kerap di pandang sebelah mata. Muncul anggapan tidak perlu sekolah tinggi jika ujung-ujungnya berseragam daster. Padahal faktanya menjadi ibu rumah tangga  perlu kesabaran dan perjuangan ekstra. Menurut riset, tugas seorang ibu rumah tangga memerlukan waktu paling sedikit 98 jam kerja per minggu, atau 2,5 kali lipat lebih besar dibandingkan profesi lain.


Dilansir dari kompas.com,  ahli optic Jul-Eye melakukan riset pada 2013. Jul-Eye menemukan bahwa seorang ibu rumah tangga rata-rata memiliki 26 tugas, mulai dari mengorganisir makanan ringan, membersihkan rumah sampai mengingat hal-hal penting. 


Sungguh bukan tugas yang ringan.
Sistem kapitalis yang diadopsi oleh negeri ini, mengukur keberhasilan sesorang melalui karir. Kebahagiaan dinilai dari banyaknya materi, kedudukan yang tinggi, maupun fasilitas hidup yang mewah dan lengkap. Dalam pandangan kapitalis, seorang perempuan maka tidak heran jika ibu rumah tangga dianggap tidak memiliki prestige karena tidak menghasilkan materi (uang) secara langsung, apalagi jika ia seorang sarjana.


Islam Memuliakan Perempuan

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Memiliki seperangkat aturan untuk menjalani kehidupan di dunia.  Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan yang mulia sehingga wajib dilindungi. Bahwan wanita yang salehah mendapat gelar sebagai perhiasan dunia, sebagaimana disebut dalam sebuah hadis yang artinya: “ Dunia itu perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salehah” (H.R Muslim). Ini merupakan gambaran yang luar biasa.


Dalam keluarga perempuan memiliki tugas yang tidak ringan, mendidik dan mempersiapkan anak-anak menjadi generasi yang berkualitas. Perempuan merupakan tonggak peradaban, karena dari rahimnya lahir generasi penerus tongkat estafet perjuangan. Berkat didikannya generasi tersebut akan menentukan arah peradaban.


 Islam tidak mewajibkan seorang wanita bekerja, meski juga tidak melarangnya. Karena nafkah merupakan tanggung jawab kepala keluarga. Dengan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga berarti ia berusaah untuk berada dalam ranah yang sesuai dengan fitrahnya. Berada di dalam rumah mempersiapkan generasi penerus, pewaris peradaban.


Ibu Rumah Tangga Tidak Perlu Pintar?

Hal ini tentu saja anggapan yang kurang tepat, mengingat perannya  sebagai pendidik pertama dan utama. Seorang perempuan yang cerdas, dan bersyaksiyah Islam niscaya akan mampu membimbing anaknya menjadi anak yang berkualitas. Pendidikan di dalam keluarga sangat penting, sehingga memerlukan pendidik yang mumpuni. Untuk menjadi seorang ibu yang cerdas dan pintar tidak harus selalu berkorelasi dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Karena sejatinya kecerdasan berasal dari kemahiran berpikir, dan luasnya wawasan.


Islam tidak membatasi perempuan untuk menuntut ilmu,  bahkan kewajiban ini sama dengan kewajiban yang dibebankan kepada kaum laki-laki. Sebagaimana disebut dalam sebuah hadis yang artinya: “ Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”(H.R Ibnu Majah).


Karena porsi waktu bersama anak lebih besar, maka seorang ibu harus berilmu supaya bisa menjelaskan banyak hal atas pertanyaan yang diajukan anak. seorang ibu harus bisa menstimulasi seluruh tahapan tumbuh kembang anak, mulai melatih motorik halus, motorik kasar, mengajarkan adab dan kecakapan hidup.


Tidak ada yang sia-sia jika seorang sarjana memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Karena menjadi ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia. Pekerjaan yang tidak menuntut imbalan dari siapapun kecuali rida Allah.
Wallahu a’lam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: