SEKILAS DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

SEKILAS DUNIA PENDIDIKAN ISLAM



Oleh Halimah dan Yuli 
(Aktivis Muslimah)

Kemunculan Covid-19 mengubah segala aktivitas di tengah masyarakat, semua dilakukan secara online demi memutus rantai penularan Covid-19 yang telah merenggut banyak korban. Mulai dari bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, memiliki mimpi dalam lima tahun ke depan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK akan diminati orangtua siswa dan siswa itu sendiri. Saking tingginya minat itu, dia ingin melihat kepala sekolah SMK menolak peserta didik karena membeludaknya para pendaftar. theworldnews.net/id-news/27/06/2020

Maka dari itu, Nadiem mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan industri. Strategi ini dinilai penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya. Menurut Nadiem, Kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha. Pemerintah, kata Nadiem, memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak Kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian. Nadiem mengatakan ‘perjodohan massal’ antara pihak Kampus dan industri dilakukan hingga tahap kontrak rekrutmen mahasiswa di perusahaan, terkait peluang usaha.lensaindonesia.com/2020/07/04

Biaya pendidikan yang tinggi menjadi beban bagi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi diakibatkan pandemi covid-19, dan akses internet yang belum mumpuni di semua wilayah di Indonesia juga menjadi penghambatnya. Pendidikan terasa kehilangan sisi strategis sebagai salah satu pilar pembangun peradaban. Dalam sistem sekuler kapitalistik, pendidikan hanya ditempatkan sekadar sebagai pengukuh penjajahan kapitalisme global yakni sekadar sebagai pencetak mesin pemutar roda industri sehingga hanya untuk memenuhi pasar industri milik para kapitalis. 

Kurikulum yang dibuat berorientasi pada sistem vokasi, output pendidikan harus match dengan kebutuhan pasar perindustrian bahkan negara terkesan berperan besar pada terjadinya kapitalisasi dan sekularisasi di bidang pendidikan. Pendidikan dapat menentukan kualitas sosok atau pribadi pembangun peradaban. Misalnya di negara-negara AS, Inggris , Prancis, dan Swedia, pendidikan tak hanya mengajarkan sains dan teknologi, tapi juga peradabannya yang khas, yaitu sekulerisme sebagai basis peradaban Barat (Western Civilitation). (S. Waqar Ahmad Husaini, 2002:58).

Negara dengan peradaban yang maju dan berkesejahteraan sebagaimana dalam Khilafah Islam yang pernah berjaya selama kurang lebih 1300 tahun juga ditentukan oleh pengelolaan pendidikan pada masa itu. Ketika kita ingin mencetak sumber daya manusia handal, maka sistem pendidikan harus disiapkan secara benar, baik dari sisi paradigma membangun pendidikan hingga implementasinya dalam kehidupan. Selain mencetak generasi yang berfikir dan bersikap sesuai aturan Islam yang berasal dari Allah SWT., Islam juga memberikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan masyarakat yang mengharuskan negara untuk memenuhinya. Karena hal ini berkaitan dengan fungsi dasar negara menjamin dan menanggung segala kebutuhan dasar masyarakat. Rasulullah Saw. bersabda:“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Islam merupakan agama dengan cara pandang hidup yang benar, datang dari Sang Maha Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Dalam Islam, sistem pendidikan yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari akidah Islam. Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat (lihat Al-Dzariat:56; ali Imran: 102). Pendidikan dalam Islam membentuk syakhsiyah (pola pikir dan pola sikap) islamiyah pada diri setiap muslim, memiliki tsaqafah islam yang luas, serta membekali dirinya (peserta didik) dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan. Konsep dari pendidikan ini hanya bisa dipakai jika khilafah Islamiyah telah diterapkan. Adapun penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang bermutu tentunya memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat sebagaimana sejarah memberitahukan bahwa negara khilafah memberikan jaminan pendidikan secara gratis bagi seluruh warganya. Negara juga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan lebih tinggi. Hal itu menunjukkan kurikulum pendidikan dan peran negara Khilafah yang sangat baik dalam penyediaan pendidikan telah melahirkan para cendekiawan muslim terdepan di dunia.[]



Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: