Sistem Demokrasi Melanggengkan Dinasti Politik

Sistem Demokrasi Melanggengkan Dinasti Politik



Oleh Amma Faiq

Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) semakin memanas. Sang putra mahkota siap meneruskan jejak ayahanda untuk memperebutkan tampuk kekuasaan. Meskipun Sang putra mahkota menolak mencalonkan diri karena merupakan keturunan raja, namun tak dipungkiri bahwa dinasti politik adalah hal lumrah dalam sistem demokrasi. Ya, oligarki pemerintahan memang lama terjadi. Banyak pejabat negeri merupakan pewaris dari para penguasa terdahulu. Dinasti politik dianggap cara ampuh melanggengkan kekuasaan versi kaum elit yang haus ambisi kekuasaan.

Kekuasaan para penguasa saat ini dimanfaatkan untuk meraih dukungan dan memuluskan anggota keluarga memegang tampuk kekuasaan. Tak ada lagi syarat kredibilitas yang harus disandang. Bahkan tak ada lagi rasa malu jika tak menjalankan tugas sesuai dengan mandat negeri. Pemilu demokrasi yang sarat akan pesta pora dengan modal besar membuat para petarung berusaha mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Berusaha mengembalikan modal dan menjalankan konsekuensi atas diterimanya tampuk kekuasaan. Tak pedulikan rakyat namun mengutamakan kepentingan partai dan para pemodal.

Berusaha mempertahankan dinasti politik agar tidak berpindah ke dinasti keluarga yang lain. Tak peduli apakah sosok yang diusung memiliki visi misi, tanggung jawab dan kapabilitas yang sesuai harapan. Demokrasi sebagai sistem yang menaungi sungguh telah meniscayakan dinasti politik ini. Tak ada harapan bagi rakyat dalam sistem ini. Kecuali dengan sistem lain yang menyandarkan wahyu dan keimanan dalam penerapan sistemnya.

Islam yang mulia nan agung memandang berbeda dengan demokrasi terkait sosok pemimpin. Pemimpin bertakwa merupakan kunci dari keberkahan hidup negeri. Dialah seorang muslim yang baligh, berakal, merdeka, mampu dan adil yang berhak membimbing masyarakat negeri. Bebas dari segala intervensi partai politik keluaga, kolega ataupun yang lainnya. Adil dan mampu menerapkan Islam secara keseluruhan. Berakal dan terjaga dari segala hal yang merusak akal. 

Gigih dalam mempertahankan tegaknya dinnul Islam dan daulah Islam yang menjadi pelindung seluruh warga negeri dan kaum muslimin. Sejarah sebagai salah satu bukti menggambarkan indahnya kehidupan antar umat beragama dibawah panji yang satu yaitu panji tauhid. Sudah saatnya umat Islam sadar akan politik yang merusak negeri. Sudah saatnya umat Islam memilih pemimpin berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Cukuplah janji Allah SWT menjadi penyemangat akan tugas mulia untuk selalu menyerukan penegakkan daulah Islam. Allah SWT berfirman, "Dan jika penduduk negeri beriman dan bertaqwa ( kepada Allah sesungguhnya Kami ( Allah ) bukakan kepada mereka ( pintu-pintu ) berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ( ayat-ayat Kami ), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjahan.” ( Qs. Al-A’raf: 96 ).
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: