Teganya, Tunjangan Guru Dipotong untuk Penanganan Covid-19!

Teganya, Tunjangan Guru Dipotong untuk Penanganan Covid-19!




Oleh: Widdiya Permata Sari*


Virus Covid -19 ternyata mampu merubah tatanan dunia global. Begitu juga dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Penanganan pemerintah terhadap kehidupan masyarakat yang terdampak covid-19 sangat disayangkan. Kebijakan rezim di negeri ini, bukannya berpihak pada penderitaan masyarakat akibat dampak yang ditimbulkan oleh pandemi corona tapi pemerintah malah menambah beban pikiran kepada masyarakat khususnya guru.

IKATAN Guru Indonesia (IGI) memprotes langkah pemerintah yang memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020.Dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp53,8 triliun menjadi Rp50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp698,3 triliun menjadi Rp454,2 triliun.
Kemudian pemotongan dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus, dari semula Rp2,06 triliun menjadi Rp1,98 triliun. 

“Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 merugikan sejumlah pihak, yang justru sebetulnya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah di tengah situasi penyebaran virus korona,” kata Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim dalam pernyataan tertulis yang diterima Media Indonesia, Senin (20/4).(m.media Indonesia.com, 20/04/2020)

Menjadi seorang pendidik generasi bukanlah sesuatu yang mudah, karena ditangan guru lah kualitas generasi dipertaruhkan bahkan dengan keseriusan proses mendidik yang diberikan seorang guru adalah kunci keberhasilan pendidikan generasi, jadi jelas bahwa menjadi seorang pendidik untuk mencetak genarisi yang membanggakan  itu tak semudah seperti membalikan telapak tangan, begitu banyak perjuangannya agar seorang guru tidak gagal dalam mendidiknya.

Alih-alih negara memberikan penghargaan terhadap guru-guru yang sudah berjuang keras untuk mengajar anak-anak bahkan untuk menciptakan generasi-generasi anak bangsa yang membanggakan inimalah memberikan sebuah kezaliman kepada guru. Karena pemotongan tunjangan profesi guru, terlebih di tengah pandemi dan krisis ekonomi yang kian parah, jelas merupakan bentuk kezaliman meskipun alesan bahwa negara memotong tunjangan guru tidak lain untuk kepentingan Covid.

Padahal tunjangan kebijakan profesi untuk guru dan dosen bersertifikasi telah diatur dalam Undang-undang no 14 tahun 2005. Dalam undang-undang tersebut dikatakan adalah hak semua tenaga pengajar yang telah mendapat sertifikasi sesuai amanah, maka mereka berhak atas tunjangan profesi guru tanpa diskriminasi. Polimik ini sebenarnya telah menunjukan kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan para pendidik.

Sebagai situsi pelayanan rakyat negara seharusnya menjamin terciptanya pendidikan yang berkualitas secara mutlak, mulai menjamin fasilitas sarana dan prasana pendidikan, kurikulum pendidikan, termasuk menjamin kesejahteraan tenaga pendidik dengan gaji yang cukup. 

Namun nyatanya saat ini pendidikan justru jauh dari kata sempurna, karena masih banyak sekali sarana prasarana yang masih kurang seperti halnya buku pelajaran yang menopang untuk terciptanya pembelajaran agar siswa mampu menemukan wawasan lebih luas dengan membaca buka, bahkan tidak hanya penunjang belajar siswa saja yang memprihatinkan melainkan gajih Sorang pendidik pun masih sangat jauh dari kata sempurna. Bahkan sekalinya negara memberikan tunjangan kepada guru masih juga terjadi diskriminasi.

Sebenarnya kegagalan ini tidak lepas dari sistem keuangan negara saat ini yang bertumpu pada sektor pajak dan hutang. Inilah ciri negara yang berada dalam cengkraman sistem kapitalis. Negara memiliki SDA yang sangat melimpah namun justru diberikan kepada asing, alhasil mereka tidak mampu menopang jaminan pendidikan yang membutuhkan dana besar. Artinya dalam bemberi tunjangan kepada tenaga pendidik diperlukan sistem kuangan yang tangguh sehingga negara bisa memberikan jaminan tersebut.

Dalam sistem Islam yaitu Khilafah penyelengaraan pendidikan berkualitas merupakan tanggungjawab negara. Negara wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur  pendidikan yang cukup dan memadai, seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran dan lain sebagainya. Termasuk tanggung jawab ini menjamin kesejahteraan guru dengan memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja dikantor pendidikan.

Posisi guru dalam sistem Islam adalah sebagai aparatur negara (muwazif daulah). Tidak ada pembedaan status PNS dan Honorer. Semua guru dimuliakan dalam sistem Islam karena perannya yang begitu strategis. Sistem pendidikan Islam sangat memuliakan profesi guru. Kesejahteraan guru sangat diperhatikan. Sebagaimana pada masa Khalifah Umar bin Khattab, gaji guru adalah 15 dinar/bulan atau sekitar Rp 36.350.250,- ( 1 dinar = 4,25 gram. Dan jika 1 gram = Rp 570.200).

Selain itu, di zaman Shalahuddin al Ayyubi, gaji guru di dua madrasah yaitu Madrasah Suyufiah dan Madrasah Shalahiyyah berkisar antara 11 dinar sampai dengan 40 dinar. Artinya gaji guru bila di kurs dengan nilai saat ini adalah Rp 26.656.850,- sampai Rp 96.934.000,-

Pembiayaan pendidikan di dalam negara Khilafah seluruhnya diambil dari Baitul Mal yakni dari kepemilikan negara serta pos milkiyyah 'amah (hasil pengelolaan SDA). Dana dari kedua pos ini sangat mumpuni untuk menjamin ketahanan keuangan negara  untuk menjamin kesejahteraan pegawainya sekalipun dalam kondisi pandemi.

Oleh karena itu, pendidikan pada masa Khilafah jauh lebih berkualitas dan terbukti melahirkan para ilmuan handal yang berkepribadian Islam. Semuanya ditopang oleh sistem pendidikan, ekonomi, sosial dan bidang lainnya yang berdasarkan Islam. Tentu, kita merindukan masa-masa itu, sehingga masalah kritis mengenai gaji tenaga pendidik dan output pendidikan yang terus membelit bisa segera teratasi. InsyaAllah... aamiin yaa Rabbal Alamiin


*(Komunitas Muslimah Perindu Syurga)


Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: