Tidak Sense Of Crisis, Cacat Bawaan Sistem Kapitalis

Tidak Sense Of Crisis, Cacat Bawaan Sistem Kapitalis



Oleh: Serli Agustina

ketidak pekaan pemerintah yang terjadi saat ini bisa kita lihat dari kasus Covid-19 yang semakin bertambah perkian harinya bahkan perhari bisa mencapai 1000 kasus. Menyedihkan.

Seolah negara tak mengurusi rakyatnya yang padahal dana Covid-19 begitu besar. Dilansir dari CNBC.Indonesia(24/5/2020),Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan soal anggaran sebesar Rp 75 triliun untuk penanganan Covid-19. Dan yang baru dicairkan hanya 1,53%, jadi kemana anggaran itu menguap?

Baru-baru ini kita ketahui beredarnya  unggahan video sidang kabinet 18 Juni 2020 Bapak Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi marah kepada para menteri , Tribunbanyumas,(28 Juni 2020) "Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa enggak punya perasaan? Suasana ini krisis!" ujar Jokowi dengan nada tingi. Lah  saya lihat Bapak,  dan  masih melihat ini  masih normal, berbahaya sekali." lanjut Jokowi

Bapak nomor satu di Indonesia marah kepada para menteri karena lambannya kinerja para menteri, tidak ada nya progres sehingga Covid-19 tidak kunjung usai. Jelas tak selesai, bukankah kita disuruh untuk berdamai dengan Covid-19, bersahabat layaknya teman manusia ?

Ketidak sigapannya pemerintah kita menjadikan Indonesia sense of crisis baik itu dari segi ekonomi, kesehatan bahkan tingkat kematian. Peraturan yang menjadikan rezim tidak mementingkan kehidupan rakyat, kebutuhan rakyat, seakan sekarang sudah baik-baik saja padahal virus ini  menunjukkan grafik kurva yang meningkat.

Perlu kita sadari, jika yang dibutuhkan dalam penangangan pandemi ini adalah landasan yang benar dalam pengambilan kebijakan.

Sistem kapitalis yang mendarah daging di Indonesia menjadikan Indonesia negara yang miskin, meski sebenarnya, kita negara yang kaya akan sumber daya alam. Tapi akibat sistem ini perindividu boleh atau berhak memiliki SDA yang seharusnya itu dikelola oleh negara.

Dalam  sistem kapitalis yang mana siapa pemilik modal besar dia bisa berkuasa. Tidak heran jika para pejabat sekarang gencar memasukkan uang rakyat kekantong  dengan jumlah yang tak tanggung-tanggung demi kehidupan yang wah.

Selama dalam koridor kapitalisme, tidak akan lahir kebijakan benar karena selalu akan menguntungkan para kapitalis.

Sistem kapitalis akan terus menjadikan kita rakyat yang susah lagi sengsara dalam memenuhi kebutuhan melihat rezim sekarang yang kian hari bak lintah yang menghisap darah rakyatnya. Kita yang dipersulit akan segala hal baik pendidikan saat ini maupun dalam kesehatan seolah kita tak memiliki pemimpin.


Maka dari itu mengapa kita hanya diam? Seperti bebek yang hanya mengikuti pemimpin yang ada didepan barisan. Sudah seharusnya kita melihat betapa bobroknya sistem kufur ini. Sistem yang hanya  menjadi alat untuk  para rezim tanpa belas kasihan kepada rakyat sedikit pun. Dana yang semestisnya untuk kebutuhan rakyat kini entah kemana.

Sudah jelas terlihat sistem Barat yang kita comot ini tidak ada titik terangnya tidak bisa menyelesaikan sama sekali. Pemimpin yang harusnya berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ini tapi dia malah sibuk menyalahkan kinerja bawahannya.

 Masalah apapun selama sistem Barat masih memimpin maka tidak akan ada penyelesaian.
Yang kita butuhkan adalah peraturan Ilahi peraturan yang bisa memimpin dunia selama 1000 tahun lebih,  dan itu tidaklah diragukan lagi yang bisa kita buktikan dari kekhilafahan terakhir yang ada di Turki.

Sistem yang sudah ada sejak berabad silam namun karena kebencian orang kafir kepada kejayaan Islam sehingga akhirnya sistem paripurna ini  digantikan dengan sistem buatan manusia yang yang terbukti banyak cela.

Sistem Islam yang mengatur seluruh penjuru dunia. Dengan satu pemimpin dan satu peraturan yakni peraturan Allah Swt. Sistem yang bisa menyelesaikan segala problematika.

Semakin pekatnya malam maka semakin dekat dengan terbitnya matahari fajar.
Bunga mawar bunga melati
Gema kebangkitan Islam
Menyebar keseluruh pelosok negri

Wallahu a'lam bisshawab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: