Budak Cinta Kaum Milenial

Budak Cinta Kaum Milenial



Oleh: Dian Sefianingrum

Bucin alias budak cinta menjadi fenomenal baru yang viral di tengah kaum milenial. Sebagaimana sebutannya sebagai budak cinta tentunya ia berposisi layaknya budak yang boleh diperlakukan apa saja oleh orang yang memperbudaknya atas nama cinta. Selain itu, yang lebih parahnya mereka memposisikan dirinya sebagai bucin yang rela memperbudak dirinya sendiri.

Fenomena bucin di tengah kaum milenial ini merupakan gambaran dari sebuah generasi yang galau, mudah terombang-ambing arus zaman yang semakin liberal dan hedonis. Bagi mereka yang penting perasaan cintanya tersalurkan walaupun di luar nalar sehat. 

Penampakan fenomena bucin ini ada dalam bentuk sebagai berikut: pertama, fenomena bucin terhadap sosok idola. Seseorang sering melakukan hal yang ekstrem ketika berhubungan dengan idolanya seperti menangis dan teriak saat bertemu dengan idolanya, menanti kedatangan idola di bandara atau di hotel tempat dia menginap, serta pamer soal kehebatannya di depan orang lain. 

Pada taraf yang parah, seorang fans bisa sampai memasang GPS (Global Positioning System) di mobil idola secara ilegal agar mengetahui kemanapun idolanya pergi. Hal ini pernah terjadi pada seleb K-Pop yang dikuntit oleh fansnya yang terobsesi secara berlebihan. Fans akan menganggap idola sebagai milik pribadi, sehingga tidak ada satu pun yang boleh memilikinya. Hal ini dapat berakibat fatal dan membahayakan orang lain yang paling ekstrem adalah sampai menyebabkan terbunuhnya idola karena sikap posesif fans, seperti yang dilakukan oleh salah seorang fans John Lennon yang membunuh idolanya sendiri.

Menjadi delusional ini adalah tahap yang paling berbahaya dimana suatu kondisi ketika kita percaya pada suatu hal yang kita khayalkan sehingga tidak bisa memisahkan antara khayalan dan kenyataan. Misalnya, ketika kita percaya bahwa cowok/cewek ideal bagi kita adalah yang mirip dengan idola kita itu. Dalam kondisi yang sudah parah, kita bahkan sampai merasa memiliki hubungan khusus dengan si idola.

Jika idolanya adalah seorang penguasa atau politikus maka seorang bucin biasanya akan sangat aktif menyebarkan berita-berita baik tentang sang idola dan menolak secara tegas berita-berita negatif tentang idolanya. 

Kedua, fenomena bucin terkait urusan cinta terhadap lawan jenis. Kaum milenial yang sudah terkena virus merah jambu cenderung akan selalu menjaga ucapan dan tindak-tanduknya agar tidak menyinggung hati sang kekasih. Bahkan untuk sekedar untuk terlihat keren dan gentle di depan kekasih ia akan melakukan pengorbanan apapun, waktu, tenaga, bahkan uang. Setiap malam minggu ia akan berusaha menyenangkan kekasih dengan mengajaknya shopping di mall, makan-makan di kafe, dan jalan-jalan ke tempat hiburan malam. Bahkan terdapat semboyan yang membuat miris yakni cinta tidak harus memiliki. Tidak heran banyak yang terjerumus pada perbuatan dosa dan maksiat.

Di dalam kehidupan yang serba diukur dengan materi ini berimbas pada pemilihan idola dalam kehidupannya. Mereka mengidolakan seseorang dari keindahan fisik, penampilan glamour disertai dengan gaya hidup yang update menjadi standar di dalam pemilihan sosok idola. 

Mereka akan menjadikan idolanya tersebut sebagai teladan hidupnya. Mulai dari penampilan fisiknya, cara berpakaiannya yang kekinian, pergaulan yang bebas, hingga pola kehidupannya dicontoh. Mereka bisa mengorbankan waktu, tenaga, harta, bahkan jiwanya hanya untuk sekedar bisa bertemu dan menghadiri show sang idolanya. Tidak jarang kewajiban sholat dilalaikan. Patutlah kiranya dalam hal ini untuk direnungkan sabda Nabi Muhammad Saw. yang artinya: 

"Seseorang itu tergantung dengan agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa kalian itu berteman"

Oleh karenanya dalam hal ini untuk selektif dalam memiliki teman dan idola. Sebaik-baik idola adalah Nabi Muhammad Saw. juga dari kalangan para sahabat Nabi, para ulama salafush sholih dan para ilmuwan muslim yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan Islam.

Mengenai manajemen cinta sebagai seorang muslim kita memiliki agama dan ideologi Islam yang ajarannya sudah paripurna. Islam sudah memberikan panduan. Sesungguhnya adanya rasa cinta adalah hal yang wajar karena manusia mempunyai naluri nau' yakni naluri melanjutkan keturunan. Salah satu penampakannya adalah rasa cinta pada lawan jenis. Keberadaan naluri ini adalah dalam rangka agar laki-laki dan wanita bisa menikah dan mempunyai keturunan atau anak bukan untuk bersenang-senang di luar pernikahan.

Dalam pandangan Islam generasi muda adalah generasi penerus yang akan membangun peradaban gemilang. Karena itu, khilafah Islam memberikan perhatian besar pada generasi muda ini. Khilafah akan menerapkan sistem pergaulan Islam dan membersihkan kehidupan masyarakat dari konten media yang merusak mereka salah satunya bucin ini. Khilafahpun akan memberikan bekal pemahaman dan pendidikan terkait fenomena dan manajemen cinta yang benar. Penerapan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan inilah yang akan menyelamatkan generasi dari berbagai kerusakan

Wallahua'lam
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: