Bulan Muharram; Refleksi Kemerdekaan Hakiki

Bulan Muharram; Refleksi Kemerdekaan Hakiki



Oleh : Tri Silvia

.
.
Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 20 Agustus 2020 umat muslim telah memasuki tanggal 1 Muharram 1442 H. Banyak sekali keistimewaan yang terdapat dalam bulan Muharram ini, diantaranya; penyebutan bulan Muharram dengan istilah Syahrullah (bulan Allah), merupakan satu dari empat bulan suci yang telah Allah tetapkan, disyariatkan puasa Sunnah 9 dan 10 Muharram, bulan dilarangnya berbuat zalim, serta ditetapkannya Muharram sebagai bulan pertama di dalam kalender hijriah.
.
Berbicara mengenai sejarah, penetapan kalender Tahun Baru Islam dilakukan pada masa pemerintahan ‘Umar bin al-Khattab (13-23 H/634-644 M) setelah bermusyawarah dengan para sahabat lainnya. Hal yang menjadi tumpuan penetapan tahun pertama hijriah adalah bukan tahun kelahiran Rasul atau wafatnya. Akan tetapi tahun hijrahnya Rasulullah Saw dan para sahabat ke Madinah.
.
Lalu mengapa Muharram yang dijadikan sebagai bulan pertama dalam kalender tahun hijriah, sedangkan hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah itu terjadi pada bulan Rabiul Awal. Jawabannya berpegang pada ayat Alquran surat At-Taubah ayat 108, yang artinya, "... Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya..."

Para sahabat memahami, bahwa yang dimaksud “hari pertama” di dalam ayat ini bukan hari pertama secara mutlak. Tetapi, hari pertama ketika Rasul tiba di Quba’, hari dimana Islam mendapatkan kemuliaan. Saat itu Rasul bisa menunaikan ibadah kepada Rabb-nya dengan aman dan tenang. Karena itu, hari yang dijadikan patokan penanggalan adalah “hari pertama kemenangan”. Dan itu terjadi lebih tepatnya pada saat terjadinya bai'at aqobah kedua.

Bai’at Aqabah kedua sebagai penanda penyerahan kekuasaan (istilam al-hukm) dari kaum Anshar kepada Rasulullah Saw. Bai’at sumpah setia untuk memberikan pertolongan dan perlindungan kepada Rasul dan agamanya. Karena Bai’at Aqabah II ini terjadi di pertengahan bulan Dzulhijjah, maka awal bulan berikutnya, yaitu 1 Muharram ditetapkan sebagai “Hari Pertama” kemenangan itu. Itulah mengapa Muharram dijadikan bulan pertama dalam penandaan kalender hijriah.
.
Selain masuknya kita ke dalam bulan Muharram atau seringkali disebut sebagai tahun baru hijriah, sebenarnya tak lama sebelumnya masyarakat negeri ini disibukkan pula dengan perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. Berbagai perlombaan dilakukan meskipun dalam kondisi yang masih saja memprihatinkan, menjadi lebih memprihatinkan sebab pandemi yang belum mau berakhir dan jumlah korban yang semakin membengkak. Selain itu posisi negeri yang sudah mulai masuk ke jurang resesi pun menambah parah kondisi.
.
Perayaan kemerdekaan kali ini memang unik, ada yang melakukannya secara virtual namun adapula yang katanya mengedepankan protokol kesehatan tapi tetap saja dilakukan dengan cara berkerumun dan berkumpul. Melakukan lomba-lomba klasik yang sebenarnya tidak terlalu urgent untuk dilakukan. Untuk menghormati pengorbanan para pahlawan katanya. Adapula yang memberi alasan lain, untuk menyemarakkan hari kemerdekaan. Hari kemerdekaan yang sebenarnya banyak sekali pihak yang mempertanyakan hakikatnya sendiri. Apakah benar negeri ini sudah merdeka? Sebenarnya apa sih arti kata merdeka itu sendiri?
.
Merdeka dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: Tidak terkena atau lepas dari tuntutan: Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Melihat dari pengertian tersebut, maka dapat difahami bahwasanya merdeka yang diartikan disana tidak hanya meliputi kemerdekaan fisik, melainkan termasuk juga aspek ekonomi, pendidikan, pergaulan dan lainnya.
.
Hal-hal di atas amat penting untuk diperhatikan. Lantas bagaimana dengan negeri ini? Apakah bisa disebut merdeka? Negeri ini memang telah dinyatakan merdeka secara fisik sejak tahun 1945. Namun sayang, kemerdekaan tersebut hanya terbatas pada fisik saja. Sedangkan hukum dan sistem pemerintahan masih memakai produk pemikiran penjajah saat itu, Belanda. Ada sedikit pengaturan Islam yang diadopsi namun itu semua terkalahkan dengan sistem Kapitalis yang terus saja mendominasi.
.
Lihatlah bagaimana kekayaan negeri ini terus menerus dikeruk tanpa henti oleh para investor asing, nilai mata uang merosot tajam, jumlah hutang negara yang semakin meroket, pajak semakin mengular, PHK dimana-mana, pengangguran pun sudah menjadi buih, investor asing dikejar sedang para pelaku ekonomi dalam negeri ditekan, prosedur identitas rakyat domestik dipersulit sedangkan warga asing dipermudah. Dalam rangka memperbanyak jumlah investor asing katanya, namun nyatanya hanya memperburuk kondisi alam dan sumber daya manusia yang sudah dimiliki. Saat ini rakyat sedang kesulitan diterpa wabah yang sudah sedemikian parah, Pemerintah justru menolak lockdown sebab tak mau menanggung kebutuhan rakyatnya sendiri. Apakah semacam ini yang disebut merdeka?
.
Lalu lihat pula pendidikan anak-anak kita sekarang, bagaimana kemudian mereka dijadikan bahan uji coba pergantian kurikulum dari satu periode ke periode lainnya. Begitupun tentang ketidakjelasan metode dan materi ajar yang terus berusaha untuk menjauhkan Islam yang hakiki (sebagai agama mayoritas di Indonesia) dengan pengajaran ilmu-ilmu praktis keduniawian. Semua itu amat besar pengaruhnya pada buruknya kualitas kepribadian para pelajar saat ini.
.
Belum lagi masalah dalam hal pergaulan, mereka dihadapkan dengan teladan pergaulan barat yang mengedepankan kebebasan. Melakukan pergaulan tanpa batas, yang melahirkan pergaulan bebas dan perzinahan, pun berbagai kelainan seksual. Sungguh hal tersebut makin menghancurkan anak-anak remaja kita saat ini. Padahal nyatanya mereka adalah para pemuda yang kelak akan mewarisi tonggak kepemimpinan negeri ini. Bagaimana bisa di tengah kehancuran mereka kita masih bisa berteriak 'Merdeka'?
.
Sebaliknya, jika kita menilik sejarah tentang ditetapkannya Muharram sebagai penanda bulan pertama di kalender hijriah, sungguhlah amat nyata kemerdekaan di dalamnya. Kondisi Rasulullah Saw dan para sahabat sebelum terjadinya bai'at aqobah kedua sungguh sangat memprihatinkan. Bai'at aqobah kedua menjadi sebuah kemenangan bagi Rasulullah Saw dan kaum muslimin, dimana setelahnya kaum muslimin dapat bebas dari penderitaan akibat perlakuan buruk kaum Quraisy di Mekkah. Selain itu, bai'at ini menjadi penanda kemenangan pertama kaum muslimin melawan kesyirikan.
.
Tak lama setelahnya terjadilah peristiwa hijrah kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah dan dilanjutkan dengan pembentukan Daulah Khilafah Islamiyah yang kemudian menjadi tameng utama kaum muslimin melawan kesyirikan dan membawa mereka pada kejayaan dan kegemilangan peradaban. Ini adalah kemerdekaan yang sebenarnya, tidak hanya sekedar merdeka secara fisik melainkan merdeka secara pemikiran dan sistem tata aturan. Mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran, Daulah Khilafah Islamiyah kemudian menjadi negara superpower dunia selama berabad-abad dan menguasai dua pertiga dunia.
.
Sungguh umat Islam hari ini sedang dihadapkan pada kesengsaraan dan kerusakan yang amat parah di berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut tidak lain disebabkan karena masih bercokolnya sistem penjajahan kapitalisme saat ini. Saat dimana semua orang dengan bangganya meneriakkan kata Merdeka. Kata yang sebenarnya belum bisa mereka pahami secara sempurna.
.
Jangan sampai kita menutup mata akan kerusakan yang terjadi, sebab kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kerusakan tersebut akan menimpa atau merusakkan barang di sekitar kita. Sungguh umat muslim itu bersaudara, jangan sampai kita abai dengan penderitaan saudara-saudara kita sesama muslim.
.
Merdeka hakikatnya tak memerlukan perayaan, melainkan butuh bukti konkret yang nyata. Sebagaimana yang terjadi dalam peristiwa besar hijrahnya Rasulullah Saw dan para sahabat ke Madinah. Suatu perubahan besar dengan melepaskan diri dari penghambatan pada kesyirikan dan kemunafikan menuju pada kemenangan dengan tegaknya Daulah Islamiyah di bawah Liwa dan Roya Panji Rasulullah Saw. Di bulan yang mulia ini, marilah kita sama-sama berdoa mudah-mudahan Allah genapkan tahun ini menjadi tahun kemenangan, tahun dimana umat Islam akan terbebas dari segala penderitaan dan keterpurukan, termasuk juga wabah yang melanda.
.
Wallahu A'lam bis Shawwab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: