Bullying dan Tawuran: Siklus Parasit yang Harus Dibasmi

Bullying dan Tawuran: Siklus Parasit yang Harus Dibasmi




Oleh: Weni Anggraeni S.Pd
(Aktivis Dakwah)

Dunia pendidikan digegerkan dengan aksi bullying pelajar. Kejadian ini, bukanlah yang pertama kali dalam dunia pendidikan Indonesia. Pelajar yang seharusnya memiliki kepribadian baik malah berprilaku seperti tidak terdidik.

Pelajar hari ini emosinya mudah tersulut, seperti kasus yang terjadi pada siswi SMK Pusaka Nusantara 2 yang menjadi korban bullying atau perundungan oleh siswi SMP Mutiara Hikmah lantaran saling ejek di media sosial. Korban dipaksa minta maaf, mencium kaki, dan ditarik dari sepeda motornya. Kejadian ini membuat korban trauma, dan tak mau keluar rumah karena wajahnya muncul di medsos (megapolitan.kompas.com, 28/7/2020).

Belum lagi kasus tawuran di kalangan pelajar, yang semakin menambah keprihatinan kita. Juli lalu, tawuran pelajar di Bekasi menelan korban jiwa. Korban mengalami luka bacok dipunggung dengan menggunakan celurit. Aksi tawuran ini dilakukan oleh SMK Permata Bangsa dengan SMK Gema Karya Bangsa Kota Bekasi (m.cnnindonesia.com, 23/7/2020).

Komisioner Komisi KPAI, Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan (nasional.republika.co.id, 10/2/2020)

Siklus Parasit dalam Dunia Pendidikan 

Jika dipahami lebih dalam, kasus Bullying dan tawuran yang sering dilakukan oleh para pelajar, sedikit-banyak dipengaruhi oleh tontonan, film dan game yang mempertontonkan "kekerasan" hingga akhirnya ditiru oleh para remaja. Sudah semestinya pemerintah mengambil langkah dalam menyelesaikan masalah ini. Karena bullying merupakan siklus parasit yang keberadaannya dapat merusak generasi bangsa.

Selain tontonan, pengaruh sistem pendidikan yang berasas sekularisme menjadikan pelajar kering rohani, mereka hanya dituntut untuk mengejar nilai akademis semata tanpa dibarengi pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia.

Apa yang telah dilakukan pemerintah belum membuahkan hasil yang manis. Ibarat seseorang yang sedang flu, ingin sembuh tapi hanya dikasih tisue. Nyatanya, pemberian sanksi bagi para pelaku bullying dan tawuran belum bisa membuat jera para pelaku. Hingga hari ini masih jamak ditemukan kasus-kasus serupa yang terulang kembali.

Bagaimana solusi Islam 

Mencaci, memukul atau berbuat zalim kepada sesama mahluk merupakan hal yang dilarang dalam Islam. Allah SWT telah menegaskan dalam firmanNya Quran surat  Al-Hujurat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Bullying dan tawuran adalah masalah yang tak boleh dianggap remeh. Perlu adanya sebuah tindakan tegas dalam mengatasi masalah ini. Mulai dari tindakan pencegahan dan pengobatan.

Tindakan pencegahan bisa dimulai dari keluarga sebagai benteng utama, keluarga harus berfungsi sebagaimana mestinya. Orang tua harus menanamkan aqidah yang kuat serta memberikan tauladan yang baik bagi anak-anak. Selain itu, kondusivitas masyarakat harus tercipta, karena jika keluarga sudah bersusah payah mendidik tetapi lingkungan masyarakat buruk, maka hal ini bisa mencemari apa-apa yang anak sudah dapatkan di rumah.

Oleh karena itu, negara harus menerapkan kurikulum yang lahir dari aqidah Islam, yang akan membentuk pribadi taqwa dan berakhlak mulia. Negara pun harus mendukung terciptanya kondusivitas ditengah-tengah masyarakat dengan memberantas film-film dan game yang tidak bermanfaat yang dapat merusak pola pikir dan pola sikap masyarakat.

Sudah saatnya tata cara kehidupan dikembalikan pada Islam yang berasal dari Allah SWT. Sebagai Al Kholiq dan Al Mudabbir. Yakni diterapkannya syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan yang akan melahirkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu'alam bish showab
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: