Depresi Kaum Milenial

Depresi Kaum Milenial




Oleh: Neng Ipeh*


Sebagai generasi terbesar kedua setelah generasi Baby Boomer, pola hidup dan kebiasaan generasi milenial kerap menjadi headline di berbagai media massa. Salah satu isu yang sering muncul adalah tingginya angka depresi pada generasi milenial. 

Pandemi Covid-19 telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Bagi mereka dengan mental kuat mungkin bisa melaluinya dengan baik, namun tidak sedikit juga yang mengalami depresi akibat terlalu lama di rumah. Terlebih bagi yang biasa melakukan aktivitas di luar ruang. Menjaga kesehatan mental di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 tentu menjadi suatu hal yang penting, terutama bagi kaum milenial.

Hal ini dikarenakan kaum milenial terbilang paling rentan terganggu mentalnya pasca pemerintah menerapkan social distancing atau membatasi aktivitas di luar rumah. Kondisi ini membuat gerak generasi milenial yang biasa aktif bersosialisasi ini menjadi terbatas. Dari kekhawatiran tentang tertular Covid-19 hingga ketidakpastian tentang masa depan, keadaan ini pasti akan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental.

"Generasi milenial adalah yang paling terpapar dengan problem mental health seperti depresi, merasa kesepian dan lain-lain," kata Staf Khusus Milenial Presiden, Adamas Belva Syah Devara (bisnis.com/12/08/2020)

Dari berbagai survei yang telah dilakukan mengenai krisis kesehatan mental masyarakat saat pandemi, permasalahan tersebut tentunya menjadi momok yang menakutkan, karena kesehatan mental memiliki dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Secara fitrah manusia dianugerahi adanya perasaan murung, lesu, tidak ada ghairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lainnya. Semua itu muncul ketika tidak terpenuhi gharizah-gharizahnya (naluri). Baik naluri beragama, naluri mempertahankan diri dan naluri untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang. Ketika perasaan-perasaan itu muncul namun tidak ada solusinya maka tentu akan menyebabkan stress hingga akhirnya mengalami depresi. 

Sayangnya seseorang yang terkena depresi parah akan melakukan tindakan di luar akal sehat seperti bunuh diri. Bunuh diri adalah ungkapan putus asa seseorang saat dirinya menghadapi ujian kehidupan. Mereka berpikir dengan bunuh diri, masalah hidup mereka selesai.

Dalam Islam, aneka ragam masalah manusia dalam kehidupan adalah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wata'ala sebagaimana yang tertuang dalam:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ Tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang berdusta“. (Qs. Al-Ankabut [29]: 2-3).

Sehingga sebagai seorang muslim tentu kita meyakini bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui, telah mempersiapkan metode terbaik-Nya dalam syariat Islam sebagai penyelesai semua masalah hidup manusia. 

Maka saat kita diuji dengan masalah, kita harus mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah). Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Sebanyak apapun masalah hidup kita, Allah Maha Tahu kadar kemampuan kita untuk menjalaninya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Islam pun mengajarkan kepada umatnya agar bersikap peka, berempati, tidak cuek, egois atau individualis terhadap lingkungan sekitar. Khususnya saat mereka melihat ada kemungkaran atau masalah yang sedang terjadi di sekitar mereka. Oleh sebab itu, dakwah (saling menasihati) adalah kewajiban bagi seluruh masyarakat.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran [3]: 104)


*(aktivis BMI Community Cirebon) 
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: