Di Balik Kerjasama Vaksin, Untung Atau Buntung?

Di Balik Kerjasama Vaksin, Untung Atau Buntung?



Oleh: Nur Hikmah (Muslimah Pengukir Peradaban)


Pandemi covid 19 belum berakhir. Sekitar 6 bulan pandemi di negeri ini, kasus positif covid setiap harinya terus melejit. Sebagaimana dilansir di kompas.com, pemerintah melakukan kerja sama vaksin dengan Sinovac China. Yang sekarang sudah uji klinis ke-3 yang berarti vaksin siap dipasarkan.

Pembuatan vaksin ini digenjot karena selain dibutuhkan juga sangat menguntungkan secara ekonomi (wartaekonomi.co.id). Maka semua negara berlomba-lomba untuk untuk membuat vaksin. Kerjasama antara Biofarma dan Sinovac pun mendapat dukungan penuh oleh pemerintah. Apalagi sebelumnya perusahaan vaksin asal China ini pernah melakukan kerjasama sebelumnya.

Seandainya negara ini mampu menekan grafik penularan virus Covid 19, Sinovac tak perlu datang ke Indonesia. Sejak awal memang negara ini terlambat dalam menangani pandemi covid 19. Atau bisa dikatakan tidak serius. Buktinya, turis asing dari China bebas masuk ke Indonesia. Orang sakit dan sehat tidak dibedakan. Penanganan bagi yang sakit pun tidak maksimal, terlebih yang sehat. Sehingga virus Covid ini dengan mudah menyebar dan menular. Tak heran, setiap hari semakin meningkat jumlah penderitanya.

Kerjasama antara BUMN Biofarma dengan Produsen Vaksin Sinovac sudah dilakukan. Pada tahap ini untuk uji klinis calon vaksin. Dan pemerintah menonjolkan aspek keuntungan yang didapat oleh Indonesia berupa alih teknologi dan keuntungan ekonomi dari produksi yang akan dilakukan di dalam negeri. 

Kerjasama yang dilakukan BUMN dengan produsen vaksin ini patut mendapat perhatian. Jangan sampai menjadi kerjasama swasta (B to B) yang memonopoli kepentingan umum demi keuntungan segelintir pihak. Kapitalisme yang dianut oleh negeri ini, menjadikan kepentingan rakyat nomor sekian. Dan kepentingan kapitalis, menjadi kepentingan utama. Untung untuk kapitalis, buntung untuk rakyat.


Islam mewajibkan negara tidak menjadikan faktor keuntungan sebagai pertimbangan utama pengambilan kebijakan. Negara harus berorientasi kepada maslahat umum yakni mendapatkan obat yang tepat dengan memfokuskan pada aspek kelayakan dan keamanan. Bukan aspek keuntungan semata.

Islam menggariskan bahwasannya pemimpin adalah penanggung jawab utama bagi yang dipimpinnya. Perisai dan pelayan rakyat. Bahkan Islam mengecam bagi pemimpin yang tifak amanah dalam mengurusi rakyatnya, diharamkan mencium surga atasnya.
"Tidaklah seorang hamba yang Allah minta dia mengurus rakyat, dia mati pada hari di mana dia menipu (mengkhianati) rakyatnya kecuali Allah haramkan baginya surga." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Saatnya negeri ini kembali kepada Islam. Sistem aturan yang paling baik untuk negeri ini yang akan menghasilkan keberkahan dan kemaslahatan karena ketaatan. Ketaatan kepada sang Pencipta Allah SWT.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: