Dimana Posisimu Wahai Pengemban Dakwah ?

Dimana Posisimu Wahai Pengemban Dakwah ?





Oleh: Endah Husna

          Kian hari banyak pendakwah yang ditangkap karena menyampaikan kebenaran, karena mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Menjadi pendakwah adalah pilihan hidup bagi orang-orang terpilih, apalagi ditengah jaman yang banyak orang memilih hidup nyaman dan aman, jauh dari hidup pengemban dakwah yang penuh tantangan.
          Kini pilihan banyak orang dalam mengarungi kehidupan adalah "zona aman" atau "zona nyaman". Keyakinan (agama) tidak lagi jadi pedoman. Ideologi tak lagi jadi sandaran. Saat sekarang yang penting aman, sejauh mungkin tantangan penuh resiko dihindarkan.
          Karena zona aman dan nyaman ini pulalah yang tidak sedikit tokoh agama, ulama atau kiyai atau ustadz yang tidak tertarik melibatkan diri dengan dakwah yang penuh resiko ini. Dengan alasan, dakwah kan tidak harus seperti itu. Dakwah tidak harus terjun ke dakwah politik atau perjuangan syariah dan khilafah. Atau mereka sendiri yang memilih untuk berbagi tugas. Kamu dakwahnya disana saya di zona aman saja.
          Dakwah sejak kelahirannya, yakni sejak Nabi dan Rasul pertama diutus hingga Nabi dan Rasul akhir zaman diturunkan, sejatinya dakwah bukanlah zona aman dan nyaman. Tak terkecuali Rasulullah saw, mengalamai masa dakwah dengan penuh tantangan, mulai dari ditentang, dihadanga, dihalang-halangi, diboikot, dimusuhi hingga diancam secara fisik. Alasannya sederhana, karena ajaran yang dibawa Rasulullah saw bertentangan dengan keyakinan, pemikiran, tradisi, adat istiadat dan hukum yang sedang berlaku ditengah masyarakat dimana para Nabi dan Rasul diutus.
         Maka, jika pengemban dakwah saat ini masih mencari zona aman dan nyaman dalam kehidupannya, hanya mungkin satu hal, yakni dakwah kepada yang tidak mengusik keyakinan,adat istiadat, pemikiran, hukum yang berlaku ditengah masyarakat sekarang. Jadilah dakwahnya hanyalah untuk mencari zona aman dan nyaman, bahkan mencari aktivitas dakwah yang mendatangkan materi berkelimpahan.
          Saat memilih dakwah zona aman dan nyaman, maka tidak penting lagi dalam pikirannya apakah masyarakat akan berubah ke arah lebih baik ataukah tidak, apakah yang disampaikan dalam dalam adalah yang haq dan yang batil, apakah tata cara dakwahnya sesuai dengan tatacara dakwah Rasul saw yang tegas dan berani. Yang penting rutinitas dakwah tetap berlangsung, masyarakat tetap bersikap baik kepadanya, pekerjaan tetap aman, bisnis tetap lancar, kehidupan keluarga tenteram dan seterusnya.
          Karena dalam dakwahnya yang dicari zona aman dan nyaman, maka cibiran tetangga wajib dihindarkan, pengucilan dari masyarakat harus dijauhkan. Demikian pula ancaman terhadap bisnis dan pekerjaan harus dihindarkan. 
          Patut disayangkan bahwa dakwah zona aman dan nyaman ini masih banyak dipilh oleh sebagian pengemban dakwah dalam gerakan Islam. Asal selalu berada di zona aman dan nyaman, kadang ia tak peduli jika dakwahnya hanya minimalis, hanya bermanis-manis, tak galau kalau ide Khilafah tak tersampaikan, tak mengapa keberadaannya sebagai bagian dari gerakan Islam tak tampak di masyarakat. Bahkan statusnya sebagai pejuang Syariah dan Khilafah sejauh mungkin berusaha ditutupi. Dalam kondisi demikian maka tidak aneh jika bertahun-tahun dalam gerakan Islam, keberadaannya tidak membawa pengaruh terhadap lingkungannya.
          Maka sepatutnya sekarang kita luruskan niat, kita benahi tujuan kita berdakwah. Yakni berjuang menegakkan kalimat Allah SWT dengan mengemban dakwah ini kemanapun. Jangan lupa perjuangan Rasul saw yang akrab dengan penderitaan; dicaci, dilempari batu dan kotoran, diboikot dan dikucilkan, termasuk diancam dibunuh dan dimusnahkan. 
          Rasulullah saw memilih dakwah diluar zona aman dan nyaman karena memperjuangkan Islam, beliau paham betul konsekuensi dari pilihan ini. Ini karena beliau sangat  paham, bahwa zona aman dan nyaman di dunia akibat meninggalkan dakwah pasti akan berbuah ancaman dan siksaan di akhirat kelak. Beliau amat paham bahwa zona aman dan nyaman yang hakiki hanya bisa dirasakan saat kedua kaki berada di surga yang kekal nanti, bukan di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini.
         Lalu dimana posisi yang kita pilih sekarang?

Wallahu a'lam bishawab.


Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: