Idul Adha : Bentuk Ketaatan Yang Hakiki

Idul Adha : Bentuk Ketaatan Yang Hakiki



Oleh : Nuni Toid

Ibu Rumah Tangga dan Member AMK



Gema takbir telah  berkumandang, pertanda hari lebaran telah tiba. Semua umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh gembira. Mereka bersatu merayakan lebaran Idul Adha.  Mereka pun mengagungkan akan kebesaran-Nya dan bersimpuh mendengarkan khutbah Idul Adha. 


Dalam lebaran Idul Adha ini, kita diingatkan kembali dengan peristiwa agung pengorbanan nabi Ibrahim as dalam mentaati perintah Allah Swt untuk menyembelih putranya, Ismail as. Bagi nabi Ibrahim as, Ismail adalah buah hati, harapan dan cintanya yang telah sangat lama didambakan. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah Swt kepada nabi Ibrahim as untuk menyembelih putra kesayangannya itu.

Allah Swt berfirman.:


"Anakku, sungguh Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu," (TQS ash-Shaffat : 102).


Tentu perintah untuk taat itu amat berat bagi nabi Ibrahim as. Namun disambut oleh putranya, Ismail as dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Ini sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah Swt.:


"Ayah, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu. insyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar," (TQS ash- Shaffat : 102).


Kisah nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as tersebut seharusnya menjadi teladan bagi kaum muslim saat ini. Bukan hanya meneladani dalam pelaksanaan ibadah haji, dan kurban saja. Tetapi kita harus meneladani dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketundukan pada aturan Allah Swt secara kafah.


Namun sayang, ketaatan itu hanya ada dalam bentuk ibadah ritual saja. Setelah selesai melaksanakannya salat Idul Adha dan ibadah haji, persatuan itu pun sirna. Satu setengah miliar umat Islam yang kini tengah merayakan Idul Adha itu pun kembali menjadi buih. Tidak berdaya menghadapi berbagai persoalan yang terus menimpa mereka. Perpecahan, pertikaian, perselisihan, ketidakadilan, pelanggaran hak-hak kemanusiaan, kemiskinan dan berbagai problem lainnya begitu nyata di depan mata.


Begitupun dengan ibadah haji. Rasa persatuan yang terjalin selama dalam pelaksanaan ritual ibadah haji yang dicontohkan Rasulullah saw tidak lagi dirasakan oleh umat Islam. Setelah selesai menjalankan semua rangkaian ibadah haji, mereka pulang ke negerinya masing-masing dengan mengemban rasa nasionalisme. Mereka terbelenggu oleh sekat-sekat bangsa. Tak peduli pada keadaan permasalahan yang begitu banyak menimpa saudara sesama muslim. Seperti pada penderitaan umat Islam di  Palestina, Suriah, Rohingya dan kaum Muslim di Uighur. Serta masih banyak lagi penderitaan yang saat ini dialami oleh saudara kita di seluruh dunia.


Sungguh terasa sesak di dada melihat sangat minimnya kepedulian kaum muslim terhadap saudaranya. Makin keringnya kasih sayang terhadap sesama. Padahal umat Islam itu dipersatukan oleh akidah yang sama yaitu akidah Islam. Tak ada sekat-sekat yang menghalangi kaum muslim. Semua merupakan hamba Allah Swt yang tunduk patuh pada Allah Swt semata.

Rasulullah saw bersabda.:


"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam," (HR Muslim).


Ditambah juga saat ini sebagian orang Islam memusuhi agamanya sendiri. Islam dianggap ancaman. Padahal ajaran Islam itu justru untuk memperbaiki kehidupan manusia. Begitupun seorang muslim tak seharusnya bersikap cuek dengan kondisi masyarakat. Justru setiap muslim dengan penuh keberanian hendaknya dapat hidup dan beramal di tengah masyarakat dan mempertahankan dengan menyampaikan akan kebenaran keyakinan kepada orang lain dan penguasa zalim. Serta berani menjadi saksi atas realitas kehidupan manusia.


Memang berat. Tapi itulah perjuangan yang harus kita lakukan saat ini. Kita sebagai umat Islam wajib berjuang keras untuk melenyapkan sistem kufur yang membelenggu negeri ini. Seperti kapitalisme, liberalisme, sekularisme, sosialisme dan komunisme. Kita wajib menggantikan sistem yang rusak itu dengan sistem Islam. Karena sistem ini yang akan menghadirkan ketentraman, mewujudkan kesejahteraan serta mendidik perilaku manusia agar memiliki kesantunan-akhlak mulia.


Oleh karena itu kita wajib menerapkan seluruh syari'ah Islam dalam segala aspek kehidupan. Mulai individu, keluarga, ekonomi, pendidikan, politik hingga negara. Allah Swt berfirman.:


"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh nyata kalian," (TQS al-Baqarah : 208)


Maka pengorbanan nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as dalam bentuk ketaatan kepada Allah Swt tidak hanya dalam ritual pelaksanaan ibadah haji dan qurban saja. Tetapi akan terwujud secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 


Semoga tidak lama lagi umat Islam akan menemukan kebahagiaan yang hakiki dengan ditegakkannya daulah khilafah Islamiyah.


Wallahu a'lam bish-shawab














Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: