Investasi  Memakmurkan Indonesia, Benarkah?

Investasi Memakmurkan Indonesia, Benarkah?




Oleh:Husnul Aini, ST., S.Pd.
Praktisi Home Schooling


Ibarat tanaman yang baru terguyur hujan, ia tumbuh dengan subur karena mendapatkan air, setelah sekian lama dilanda kemarau. Indonesia yang terdampak akibat pandemi mengharap adanya hujan investasi yang akan menyehatkan perekonomian saat ini. Akankan ini mampu menyuburkan negeri tercinta ini?

Kang Emil, gubernur Jawa Barat menargetkan investasi masuk ke Indonesia sebesar Rp. 107 Triliun untuk seluruh tahun 2020. Investasi ini diharapkan mampu mengerek pendapatan tidak hanya di Jawa Barat tapi juga pendapatan nasional. Rakyat pun akan terselamatkan karena serapan tenaga kerja yang lesu akibat pandemi akan mulai menggeliat.

Memakmurkan Negeri?

Sangat jelas dalam benak kita rakyat Indonesia, investasi yang dilakukan selama ini didominasi investor asing yang memiliki uang berlimpah dan cengkeraman pengaruh  di Indonesia. Tak sembarang orang bisa melakukan investasi di sebuah negara, harus menjalankan birokrasi dan juga kesepakatan-kesepakatan yang akan ‘menguntungkan’ kedua belah pihak.

Ada 3 sektor sumber investasi menurut badan Koordinasi Penanaman Modal yakni perdagangan elektronik, smelter, dan pariwisata. Tiga sektor ini dianggap paling besar yang akan mendatangkan investor-investor asing menanamkan modalnya untuk kemajuan perekonomian Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan, apakah benar jika banyak investasi yang masuk ke negeri tercinta ini akan banyak pula orang-orang yang beruntung untuk mendapatkan pekerjaan layak untuk memperbaiki kehidupan mereka? 

Kenyataannya negeri yang penuh dengan sumber daya alam dari ujung barat hingga ujung timur ini selalu memberikan prioritas pertama pada orang luar ketimbang orang dalam, rakyatnya sendiri. Seakan kapabilitas anak negeri ini kurang diperhatikan, sehingga banyak kita lihat prestasi mereka lebih diakui di luar sana daripada di negeri sendiri.

Tawaran Solusi

Dalam sistem saat ini yang selalu menganggap harta sebagai indikator keberhasilan,  selalu memberi apresiasi bagi para investor yang mau menanamkan modalnya bagi "kemajuan ekonomi" Indonesia. Ternyata Nol , Gelombang PHK semakin besar yang mengakibatkan banyak para penanggung nafkah harus kehilangan pekerjaannya dan sulit mencari batu loncatan yang lain.

Sebaliknya investasi oleh asing justru sebagai indikator tak mampunya perekonomian ini tegak berdiri diatas kaki sendiri.

Maka selayaknya kita berkaca bagaimana Islam memandang investasi ini. Pertama bahwa kebutuhan pokok setiap warga negara dijamin oleh penguasa, bahkan diupayakan agar rakyat mampu memenuhi kebutuhan pelengkapnya.

Karena itu negara akan memberi jalan dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk rakyat. Memberikan hak ujroh (upah) atas keringat mereka dengan layak. Bahkan negara akan memberikan modal bagi rakyatnya yang akan memulai usaha tanpa bunga berbunga seperti yang diberlakukan sistem perbankkan saat ini. Jika ada tanah mati, negara akan memberikan hak pengelolaan kepada warga yang bersedia untuk mengelolanya.

Kekayaan sumber daya alam akan dikelola mandiri oleh negara dengan melibatkan warga negara, sehingga tak perlu investor asing untuk memakmurkan negeri. Cukup dengan mengedukasi warga negara agar mampu mengelola SDA dan hasilnya menjadi sumber pemasukan negara yang akan digunakan untuk memakmurkan rakyat.

Masih percaya bahwa investor asing mampu memakmurkan negeri ini? Yang ada justru sebaliknya, sengsara dan penuh tekanan. Wallahu a' lam bish showab


Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: