Khilafah, Janji Allah yang Semakin Dekat

Khilafah, Janji Allah yang Semakin Dekat








Oleh : Suci Hardiana Idrus

Pemutaran perdana film dokumenter yang bertema "Jejak Khilafah Di Nusantara" (JKDN) mendapat sambutan hangat dan positif dari berbagai kalangan masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Mereka berbondong-bondong mendaftar dan memesan tiket gala premier agar bisa menyaksikan film fenomenal tersebut. Dilihat dari trailer filmnya, menjelaskan tentang sejarah kejayaan Islam di masa lampau dan bagaimana awal-awal Islam masuk ke bumi Nusantara yang berhubungan langsung dengan Kekhilafahan Abbasiyah hingga Khilafah Turki Utsmani. 250 ribu orang yang telah mendaftarkan diri, ingin menjadi saksi dari penayangan film dokumenter Islam pertama yang mengupas tuntas sejarah Islam dan peranannya di bumi Nusantara.

Sebelum pemutarannya, ada sesi wawancara kepada tiga orang narasumber yang terkait cikal bakal lahirnya film dokumenter. Sesi wawancara dimulai dari narasumber Ismail Yusanto. Ia mengatakan bahwa film Jejak Khilafah di Nusantara Penting untuk Mengungkap Kebenaran.

Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) mempunyai peran penting untuk mengungkap kebenaran yang dikaburkan bahkan dikuburkan.

“Penting bagi kita untuk menggali kebenaran, masa lalu itu kunci untuk menghadapi masa depan, kita harus menggali kebenaran dan apabila bisa diungkap kita bisa mendapatkan ibrah, makanya adanya film ini, untuk menimbulkan sejarah yang benar,” ungkap Penasihat Komunitas Literasi Islam (KLI) Ustadz Muhammad Ismail Yusanto sesaat sebelum pemutaran premiere JKdN, Kamis (20/8/2020).

Ismail juga mengatakan bahwa sejarah itu sebagai obyek pemikiran yang bisa memperkuat pemikiran yang kita anut, semisal kita sebagai Muslim memahami bahwa Khilafah adalah bagian dari sejarah Islam.

“Jadi ini adalah objek dari ajaran, bukan hanya khayalan, dengan adanya sejarah itu untuk memperkuat menjadi bukti. Ini memperkuat ajaran kita juga, seperti yang dipahami oleh orang Islam bahwa Khilafah itu bagian dari ajaran Islam dan ada sejarahnya juga.”

Setelah itu sesi wawancara dilanjutkan kepada narasumber kedua, yakni Septian, selaku sejarawan muda, menjelaskan secara singkat latar belakang dibuatnya film tersebut adalah untuk menjawab tantangan zaman. Sebab Khilafah adalah salah satu topik yang paling panas yang di bicarakan di dunia saat ini. Selain itu, belum ada film dokumenter yang menceritakan hubungan Khilafah di Nusantara secara lebih detail. Ia pun menyadari bahwa di balik film ini akan banyak kontroversi yang akan terjadi. Sebab sentimen terhadap Khilafah senantiasa dikaitkan dengan negara, meski film tersebut belum di lounching. Ia pun mempertegas bahwa film yang dibuat bisa dibuktikan secara akademis maupun secara ilmiah.

Adapun Nicko Pandawa, selaku Director and Script Writer Film JKDN sebagai narasumber terakhir sebelum dilanjutkan dengan pemutaran film JKDN, ia mencoba mempersingkat mengenai proses pembuatan filmnya. Ia mengungkapkan bahwa jauh sebelum film ini dibuat, sudah ada riset dan data-data pustaka dan lapangan yang tersebar di kepulauan Jawa, Kalimantan, Ternate, dll. Film ini melalui tahapan-tahapan akademis. Oleh karena itu bisa  dipertanggungjawabkan. Ia pun mengatakan bahwa film ini dibuat  agar dapat di pahami dengan mudah, kemudian dibuatlah dengan bentuk audio visual (video).

Di tengah-tengah pemutaran film tersebut, tak sedikit hambatan dan tantangan yang harus dilewati oleh tim JKDN, hingga berhasil tayang berdurasi 1 jam 20 menit, namun kemudian di tengah-tengah penayangan itu harus terhenti. Ternyata, diketahui film tersebut telah di take down oleh pihak YouTube atas keluhan dari pemerintah. Lantas apa yang dikeluhkan? Diketahui film tersebut menayangkan sebuah fakta realitas sejarah Islam hingga jejak Khilafah itu sampai ke Nusantara. Sebuah cerita yang tabu didengar, bahkan tak menjadi bahan ajaran diwaktu sekolah.

Mengapa sejarah Islam yang agung ini tak diajarkan? Sebaliknya, khilafah yang menjadi ajaran Islam itu dianggap sebagai sesuatu yang mengancam negara. Sedangkan dimasa lampau Khilafah begitu erat dengan Nusantara. Kontribusinya terhadap kemerdekaan melawan penjajah, yang terpenting adalah peranannya dalam mendakwahkan Islam hingga Indonesia menjadi negara mayoritas Islam di dunia. Mengeluarkan manusia dari penyembahan berhala kepada penyembah tauhid.

Sejak digencarkannya istilah 'War on Terorism', saat itu pula dunia Islam diguncang dengan fitnah serta perlakuan keji yang luar biasa. Bahkan sesama muslim saling mencurigai, menuduh, mempersekusi dakwah, hingga menangkap para ulama dan dai-dai yang mendakwahkan jalan perubahan dalam bingkai khilafah sebagai solusi atas segala macam permasalahan yang dihadapi baik permasalahan individu, masyarakat hingga negara.

Sebagai ajaran Islam, tentu saja khilafah relevan untuk diterapkan sebagaimana ajaran-ajaran Islam lainnya seperti sholat, puasa, zakat, haji, dll. Zaman boleh berubah, namun ajaran Islam tetap sama. Sholat tetap sesuai rakaat, haji tetap di Haramain, puasa juga tetap dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Praktik riba tetap haram hukumnya meski di zaman teknologi digital modern saat ini. Yang berubah hanyalah manusia dan hawa nafsunya.

Kita sudah berada di akhir zaman. Jika merujuk pada hadits Rasulullah Saw tertkait fase kehidupan, maka sekarang kita berada di fase yang keempat. Yakni fase Mulkan jabriyyan, alias para penguasa yang memaksakan kehendak atau para diktator. Zaman kebebasan maksiat dimana-mana. Fitnah-fitnah bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin. Orang-orang yang tidak cakap/dzalim menjadi penguasa (pemimpin). Jumlah ummat Islam banyak tetapi bagaikan buih di atas laut (sedikit yang berjihad untuk membela Islam).

Kesewenangan penguasa terhadap pengembangan dakwah begitu terasa di rezim saat ini. Tak sedikit Ulama dan dai dituduh radikal, teroris, dan ujung-ujungnya diperjara. Membungkam setiap lapisan ormas ataupun masyarakat umum yang kritis terhadap kebijakan penguasa. Bahkan upaya pembungkaman tersebut dilegitimasi dengan dibuatnya sejumlah Undang-undang berikut pasal-pasal karetnya.

Akan tetapi, umat masih punya harapan kebangkitan, harapan kesejahteraan, harapan perlindungan dan keamanan, dan harapan hidup yang lebih berkah. Yakni saat datangnya fase kelima, kembalinya Khilafah 'ala minhaaj al-nubuwwah yang berjalan di atas metode kenabian. Saat itulah kebangkitan dan kejayaan Islam tegak. Dan kemuliaan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Insyaallah. Oleh karena itu, perjuangan harus terus berlanjut tanpa takut. Pertolongan Allah selalu datang diwaktu yang tepat. Sebab janji-Nya semakin dekat.

Allahu Akbar!
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: