Klaim Obat Corona, Bukti Pemerintah Lamban

Klaim Obat Corona, Bukti Pemerintah Lamban



Oleh. Reni Tresnawati* 


Yang satu ini, masih saja menjadi pembicaraan publik sampai sekarang. Lebih dari 18 juta orang terinfeksi virus Corona. Sejak pertama kali muncul di Kota Wuhan, China. Dari angka itu, 11,3 juta pasien, diantaranya dinyatakan sembuh dan 689.070 meninggal dunia. Kendati demikian, banyak pihak yang meragukan bahwa wabah virus Corona benar-benar berbahaya.

Menanggapi hal itu, Ahli Patologi Klinik sekaligus wakil Direktur Rumah Sakit UNS, Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, ilmu pengetahuan memang berkembang. Penelitian pun suatu saat nanti mungkin akan membuktikan bahwa apakah covid-19 ini penyakit seperti apa? Tapi itu nanti. "Melihat situasi saat ini di dunia termasuk Indonesia menunjukkan bahwa virus Corona berbahaya. Para penderita pun kini sangat bervariasi, dari segala kalangan dan usia". Kata Tonang saat di hubungi Kompas.com. Minggu (2/8/2020).

Pemerintah Lamban Menangani Kasus Wabah

Kini sedang viral klaim obat Corona dari Hadi Pranoto, seorang warga yang mengaku professor ahli mikrobiologi. Badan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (BP IDI) hingga penanganan Satuan Tugas (Satgas) covid-19 mengecam, karena pernyataannya tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karena tidak sembarang orang yang menyandang gelar profesor berikut penemuannya. Hasil penemuannya harus dibuktikan dengan penelitian ilmiah dan surat izin beredarnya obat tersebut. 

Makanya PB IDI menyatakan bahwa pernyataan Hadi ini membahayakan. Penanggulangan satgas covid-19 pun ikut angkat bicara. Publik jangan mudah percaya terhadap sesuatu yang belum dibuktikan kebenarannya. Apakah ramuan herbal itu masih dalam tahap penelitian dan belum ada bukti ilmiah tentang keamanan dan efektivitasnya, maka tidak boleh dikonsumsi masyarakat.

Namun, masyarakat terlanjur sudah tidak sepenuhnya percaya pada pemerintah, karena lambannya pemerintah dalam menangani wabah covid-19. Ini terlihat dari terjadinya kasus yang kini viral di masyarakat dan kemungkinan nanti akan terus berkembangnya, pandangan meremehkan bahaya virus dan beragamnya klaim penemuan obat Corona.

Fenomena ini menggambarkan pemerintah tidak mampu meyakinkan publik terhadap bahaya virus, dan juga menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk menemukan obat atas virus yang sekarang masih menghantui masyarakat. 

Penangan Wabah di Masa Rasulullah SAW

Di zaman Rasulullah SAW. pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :
" Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta. (HR. Bukhari)

Nabi Muhammad SAW. juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti sabda nabi SAW :
" Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu. (HR. Bukhari).
Dalam hadist di atas, sudah jelas Islam memerintahkan untuk menjauh dari wabah dan ketika ada wabah di suatu tempat, maka tinggallah di tempat itu, jika kita berada di dalam tempat itu, artinya harus isolasi atau lock down.

Untuk wabah yang ada saat ini, belum ada obatnya juga dan pemerintah juga tidak mengambil tindakan apa-apa untuk melindungi rakyatnya, maka kitalah sebagai rakyat yang harus mencari solusi dari permasalahan yang ada. 

Pencegahnya kita harus selalu waspada dan mengikuti protokol kesehatan, seperti memakai masker, cucu tangan sebelum dan sesudah beraktifitas. Minum vitamin atau obat herbal, untuk menjaga ketahanan tubuh agar tidak mudah terkena virus. Sebab, jika untuk mengikuti yang Rasulullah SAW ajarkan, pemerintah tidak sanggup melakukannya. Wallahu'alam bisowab.


*(Aktivis Muslimah Karawang)
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: