Lamban Hadapi Covid-19, Akankah Mengulang Sejarah Flu 1918?

Lamban Hadapi Covid-19, Akankah Mengulang Sejarah Flu 1918?




Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd
(Lingkar Studi Muslimah Bali)


Rabu, 26 Agustus 2020, terkonfirmasi pasien positif Corona di Indonesia sebanyak 160.165 , sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu. Dihimpun dari akun Twitter @BNPB_Indonesia, yang menerangkan bahwa ada penambahan kasus baru virus Covid-19 sebanyak 2306 spesimen.

Covid-19 yang telah disebut sebagai pandemi global saat ini, sejatinya telah menjadi perhatian utama dunia sejak virus ini mewabah di daerah Wuhan. Namun sayangnya, perhatian tersebut belum serta merta dibarengi dengan kewaspadaan merebak ke negara-negara yang lain. Alhasil vaksin dari virus corona ini juga belum ditemukan. Padahal korban covid-19 telah banyak berguguran.

Bahkan sangat disayangkan ketika vaksin belum ditemukan,  muncul mitos-mitos yang berkeliaran di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang telah diketahui bahwa ada mitos seperti minum jamu kunyit asem, atau memakai kalung minyak kayu putih, atau virus Covid-19 ini akan lenyap dengan sendirinya. Alhasil masyarakat dibuat bingung dengan beredarnya mitos-mitos yang belum terbukti kebenarannya ini.

Dilansir dari data Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 24.031.320 kasus hingga Rabu, 26 Agustus 2020. Sungguh angka yang fantastis dalam 8 bulan terakhir. Akan tetapi sejatinya, pandemi Covid-19 ini bukanlah pandemi pertama yang pernah dialami Indonesia ataupun dunia.

Pada tahun 1918, dunia sempat dihebohkan dengan adanya pandemi flu Spanyol (H1N1). Pandemi ini disebut sebagai “Ibu dari Segala Pandemi” oleh National Center for Biotechnology Information, US National Library of Medicine. Disebut seperti itu karen flu Spanyol ini menewaskan sekitar 50 juta orang yang tersebar di seluruh dunia.

Robert Barro dari Harvard University pernah menulis tentang tingkat kematian akibat pandemi flu 1918 ini. Tulisan tersebut dimuat dalam World Economic Forum pada tanggal 23 Maret 2020. Robert menyebut bahwa tingkat kematian di Indonesia pada saat itu menduduki peringkat ketiga di dunia.

Siddarth Chandra dari Michigan State University dalam paper ilmiahnya tahun 2013 yang berjudul “Mortality from the Influenza Pandemic of 1918-1919 in Indonesia” menyebut bahwa perkiraan penduduk Indonesia yang meninggal ada sekitar 4,26 – 4,37 juta jiwa yang tersebar di pulau Jawa dan Madura saja.

University of Melbourne memuat tulisan dari kandidat doctor Ravando Lie yang berjudul “Learning (or falling to learn) from the lessons of the 1918 Spanish Flu”. Ravando mengungkapkan bahwa banyaknya korban jiwa diakibatkan oleh lambatnya respons pemerintah Hindia Belanda serta menganggap remeh dengan adanya pandemi tersebut.

Dengan begitu, kritik dari berbagai kalangan diterima oleh pemerintah Hindia Belanda. Bahkan DPR Hindia Belanda (Volksraad) juga mengkritik lambatnya tindakan untuk penanganan pandemi tersebut. Pada akhirnya pemerintah kolonial dianggap gagal dalam mengatasi pandemi flu 1918-1919.

Mengingat sejarah 100 tahun yang lalu, dunia dan khususnya Indonesia harus berkaca dalam penanganan pandemi tersebut. Sangat disesalkan jika ternyata sampai saat ini pemerintah masih saja ceroboh terhadap sumber wabah. Ketergantungan pada WHO serta ketidaksungguhan mengupayakan pencegahan dan pengobatan juga masih menjadi masalah. Ditambah lagi dengan “plin-plan”nya pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Wajar saja jika tidak ada perubahan dalam keseriusan penanganan pandemi ini, maka suatu saat pandemi Covid-19 akan mengulang kembali sejarah pandemi flu 1918. Sungguh keadaan yang tidak diharapkan. Tapi apa boleh buat, jika memang tidak ada perubahan, itu berarti sama saja melegalkan keadaan tersebut akan terjadi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Quran surat Ar-Ra’d : 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka taka da yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Adapun Islam dengan kekayaan konsep dan pemikiran cemerlang yang bersifat praktis, memiliki sejumlah paradigma khusus dalam menangani pandemi globhal ini. Diantaranya yaitu,
 (1) Negara dan pemerintah adalah pihak yang paling bertanggungjawab melakukan tindakan pencegahan bahaya apapun termasuk Covid-19.

 (2) Negara wajib melarang masuk warga negara yang terbukti menjadi tempat wabah.

(3) Bebas dari agenda imperialisme karena diharamkan Allah, apapun bentuknya.

(4) Negara harus terdepan dalam riset dan teknologi tentang kuman-kuman penyebab wabah, alat kedokteran, dan obat-obatan.

(5) Negara wajib melakukan langkah praktis produktif untuk peningkatan daya tahan tubuh masyarakat.

(6) Ketersediaan fasilitas kesehatan terbaik dengan jumlah uyang memadai lagi mudah diakses kapanpun,dimanapun, oleh siapapun.

(7) Anggaran berbasis baitulmal dan bersifat mutlak.

(8) kekuatan tersentralisasi, sementara administrasi bersifat desentralisasi (muslimahnews.com).

Adanya delapan paradigma tersebut tidak akan berhasil dilaksanakan jika belum ada negara yang bisa menaunginya dan menjadikan Islam sebagai qiyadah fikriyahnya (kepemimpinan berpikir), yaitu Khilafah.

Oleh karena itu, menginginkan dan memperjuangkan tegaknya Khilafah kembali bukanlah hal yang sia-sia. Karena Khilafah terbukti mampu menjamin keberlangsungan hidup manusia.

Jangan sampai terlena dengan janji – janji manis kafir Barat dalam menangani pandemi ini. Karena itu hanyalah tipu daya mereka dalam mengelabui konsep Islam yang revolusioner.
Wallahu a’lam bish showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: