Memahamkan Ke Generasi Jejak Islam Di Nusantara

Memahamkan Ke Generasi Jejak Islam Di Nusantara


 




Mirawati, S.S.
(Aktivis Lingkar Studi Muslimah(Lisma)Denpasar)


Generasi adalah aset terbesar dinegeri ini,bahkan estafet kepemimpinan dimasa depan. Jika generasi dibekali dengan wawasan yang baik dan benar,maka orang tua tidak akan khawatir dalam melepaskan mereka mengarungi kehidupan. Apalagi dizaman digital dan masih berkuasanya sistem selain Islam. Negeri ini sudah 75 tahun merdeka tentunya  usia ini adalah usia sudah sepuh dan banyak sejarah yang dapat kita ketahui dan pelajari bagaimana kemerdekaan ini diraih dan apa yang mendorong para pejuang kemerdekaan yang melawan penjajah?. Tentunya, jika kita sebagai umat Islam spirit perjuangan mereka adalah Jihad atau perang melawan para penjajah. Tidak sekedar mengusir para penjajah akan tetapi juga bagaimana membumikan spirit jihad yang merupakan ajaran Islam yang tak terpisahkan.Demikian halnya sejarah Islam dinusantara harus kita ajarkan ke anak-anak kita dimulai dari orang tua mengetahui sejarah melalui dua hal,pertama fakta sejarah dalam berbagai literatur  dan peninggalan-peninggalan dan kedua, penulis sejarah yang jujur dalam menyampaikan sejarah.Karena ketika orangtua cukup memiliki wawasan sejarah yang benar akan dengan mudah kita ajarkan dan fahamkan. Setelah hal tersebut dilakukan maka langkah berikutnya dalam mengenalkan generasi  kita tentang jejak Islam dinusantara dapat dengan membacakan kisahnya yang mudah dimengerti atau dapat juga dengan nonton bersama dan setelahnya mendiskusikan sejarah tersebut. Bahkan dapat pula dengan melakukan wisata religi ketempat para dai-dai Islam dikuburkan dan bangunan-bangunan bersejarah, sambil menceritakan mereka dengan membuktikan apa yang ditulis dalam literatur-literatur sejarah. Apalagi jika berkaitan dengan aqidah kita umat Islam. Selain itu sejarah Islam dinusantara tidaklah datang begitu saja tanpa ada keterkaitan dengan Islam dibelahan dunia lain seperti negeri Arab dimana Islam diturunkan disana serta hubungannya dengan kekhilafahn Islam dari masa ke masa.
Namun memang belajar sejarah bukanlah perkara yang disukai semua orang apalagi generasi kita, Meskipun pendidikan dinegeri ini telah memberikan mata pelajaran sejarah baik dari sekolah dasar( sd) hingga tingkat universitas,tidak dinafikkan bahwa ada para penulis sejarah yang tidak jujur dalam menyampaikan fakta sejarah apalagi yang berkaitan dengan Islam itu sendiri.Semisal masuknya Islam dinusantara dimulai dari Samudra pasai kemudian ke Jawa, Sulawesi, hingga ke Papua. Yang Paling menonjol ditunjukkan dalam sejarah tersebut bahwa dibawa oleh para pedagang Islam,namun faktanya mereka adalah utusan kekhilafahan Islam. Padahal berdagang adalah lumrah dimasa lalu  hingga sekarang tidak menutup kemungkinan adalah hanya sebatas profesi saja akan tetapi skala proritas mereka adalah berdakwah atau menyampaikan Islam agar dipeluk oleh umat nusantara waktu itu. 
Jika sejarah Islam dinusantara dapat dipahami oleh generasi maka dengan sendirinya sejarah tidak akan bias dan terjadi distorsi sejarah atau memutarbalikkan sejarah.Apalagi dengan kekuasaan setiap rezim yang memiliki pengaruh yang cukup besar. Oleh karena itu dalam perkataan Bung Karno Jasmerah,jangan sekali-kali melupakan sejarah. Hal ini tidak hanya berlaku dalam perjuangan kemerdekaan akan tetapi dalam semua sejarah apakah sejarah tersebut baik ataupun buruk. Terutama karena negeri ini mayoritas umat Islam tentunya generasi Islam harus melihat sejarah dengan jernih dan mendalam. Karena kehidupan akan selalu berubah demikan halnya sistem-sistem yang ada didunia. Dengan demikian pentingnya memahamkan jejak Islam dan khilafah dinusantara kepada generasi kita adalah dalam rangka menyegerakan seruan hadits Rasulullah saw.  Sebagaimana dalam hadits riwayat Ahmad bahwa kabar kembalinya sistem khilafah 'alaminhajin Nubuwah.
Rasulullah ﷺ bersabda:

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad).



Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: