Memelihara Spirit Keimanan

Memelihara Spirit Keimanan



oleh : Fitri Mardhiyah

Allah SWT berfirman di dalam Alqur'an surat Al-Baqarah ayat 183:
Yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". 

Adapun hadist Rasulullah shallallahu'alahiwa salam, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari abu Hurairah:
"Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, "Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku." 

Maka Kaum muslimin pun setiap menghadapi ramadhan mereka berbondong-bondong melakukan ibadah, namun Ramadhan kali ini justru menyimpan beribu hikmah yang bisa dipetik selama menjalani ibadah di tengah wabah. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang menggambarkan tingkat keimanan dan ketakwaan seorang Muslim. Sebab, puasa merupakan aktivitas yang hanya mampu dijalankan oleh orang-orang beriman. Puasa juga adalah ibadah yang akan menjauhkan segala perilaku yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala.

Mungkin, sepanjang hidup baru tahun ini kaum muslimin di dunia menjalankan ibadah puasa di tengah wabah. Virus korona yang menjadi pandemi global pada awal 2020 di hampir 200 negara mungkin merupakan penyakit dengan penularan tercepat dan terluas.
Walaupun dilanda musibah covid-19 namun umat Islam tetap mengejar spirit Ramadhan dengan suka cita, mereka tidak bisa meramaikan mesjid namun tetap melakukan ibadah-ibadah di rumah-rumahnya.
Menempa dengan kebiasaan yang baik diantaranya, tarawih dan tilawah. Tak heran, banyak umat Islam yang senang menjalani ibadah ini. Bahkan, sampai ingin khatam tilawah Al qur'an tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Tarawih, ber'itikaf mencari Lailatul qodar dan banyak keistimewaan lainnya.

*Pasca Ramadhan*
Ramadan telah berlalu meninggalkan kita, ada rasa pilu dan sesak di dada. Rasanya masih ingin ditemani Ramadhan apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Umat Islam diuji oleh Allah Swt. dengan wabah makhluk mungil bernama corona, Ramadhan menjadi tempat mengadu atas kesedihan yang ada. 
Kini, kita berada di bulan Dzulhijah tidak terasa waktu cepat sekali berlalu setelah selesai menjalani rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan, kitapun sudah melewati idul adha. Namun memelihara spirit Ramadhan dalam kondisi kapitalis seolah begitu sulit. Karena peraturan yang ada hanya mendorong manusia untuk maksiat.
Selama kapitalisme sekulerisme masih bercokol di dunia ini, maka selama itu pula Ramadhan hanya sekedar seremonial belaka. Pasca Ramadhan maka spiritnya hilang tidak berbekas.
Pasca Ramadhan kembali lagi seperti sebelum Ramadhan, contohnya:
- Yang awalnya ramadhan adalah bulan orang berlomba-lomba melakukan kebaikan mengamalkan perintah bersedekah walau jumlah nominal bersedekahnya menurun karena efek covid namun semangat itu tidak pernah padam. Namun, diluar Ramadhan semangat bersedekah menurun bahkan ada yang hilang. 
- Pada saat Ramadhan bisa mengkhatamkan al-qur'an sekali bahkan lebih, namun di luar ramadhan al-qur'an kembali menjadi pajangan di rak-rak buku.
- Saat Ramadhan senang dan nyaman menggunakan hijab, selepas Ramadhan tanggal pula hijabnya. Seolah-olah target takwa salah satunya menutup aurat hanya berlaku saat Ramadhan saja.
- Menjaga lisan dan pandangan kala Ramadhan, YouTube yang di buka adalah kajian Islam, namun selepas Ramadhan kembali ke gosip dan beragam tontonan yang tidak mendidik.
Karena pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme), tujuan hidup manusia bukan lagi mencari ridho Allah, tapi tujuan hidupnya selalu d arahkan pada materi asas manfaat.

*Memelihara Spirit Ramadhan*
Beberapa cara yang bisa dicoba untuk memelihara spirit Ramadhan di tengah kita, diantaranya:
Yang pertama, selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Taqarrub illallah). Caranya Kita harus tetap memelihara amalan-amalan rutin Ramadhan.
 
Kedua, terus bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya (tawbatan nashûhâ). seperti tercantum dalam firman Allah yang artinya: "orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka".

 Ketiga, memahami ilmu agama. Karena sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, maka akan dimudahkan baginya dalam menahami ilmu agama. Luangkanlah waktu untuk mengkaji islam, ilmu yang akan menuntun kita pada ketaatan. 

Keempat, senantiasa berkumpul dengan orang-orang soleh.  Merekalah sebaik-baik sahabat dunia dan akhirat. Karena sahabat sejati itu yang apabila bersamanya membuat kita ingat kepada Allah dan itu hanya ada pada diri orang-orang yang Soleh.

Kelima, lebih giat berdakwah. Bulan Ramadhan merupakan bulan turunnya Alquran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tidak mungkin petunjuk itu sampai bila tidak didakwahkan. Atas dasar inilah dakwah merupakan karakter kaum Mukmin. 
Berdakwah adalah tugas yang mulia dalam pandangan Allah SWT, sehingga dengan dakwah ini Allah menyematkan predikat khoiru ummah.

Momentum berakhirnya puasa Ramadhan ini, semoga melahirkan kembali jutaan umat Islam yang telah memiliki kadar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang tinggi, besar, dan kuat, menjadi modal bagi terbitnya fajar kemenangan Islam di muka bumi ini, yaitu tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyah. Inilah janji Allah SWT, di dalam surat An-Nur ayat 55 yang artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka —sesudah mereka berada dalam ketakutan— menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Siapa saja yang kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasik”. 

Itulah kemenangan umat Islam dan kebaikan untuk dunia. 

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.
Previous Post
Next Post

post written by:

Ibu, Istri, Anak, Pribadi pembelajar yang sedang suka menulis.

0 Comments: