Pengaburan sejarah Melalui Pemblokiran Film

Pengaburan sejarah Melalui Pemblokiran Film



Oleh : Ayra Naira

Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara mulai ditayangkan per 20 Agustus 2020 atau bertepatan dengan 1 Muharam 1442 H. Yang menarik dari pemutaran film ini ialah antusias yang ditunjukkan oleh masyarakat. Hal ini terbukti bahwa sebelum hari penayangannya film Jejak Khilafah di Nusantara trending di twitter.

Film itu diprakarsai oleh Sejarawan Nicko Pandawa bersama Literasi Islam. JKdN bercerita soal hubungan Indonesia yang dulu disebut Nusantara, mempunyai kaitan erat dengan pemerintahan Khilafah Ustmaniyah Turki.

Namun dalam penayangan JKdN terdapat kendala dimana adanya pemblokiran yang dilakukan oleh pemerintah. “Video tidak tersedia. Konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah, demikian isi notifikasi pemblokiran film seperti dilansir dari suara.com, Jumat 21 Agustus 2020. (GalamediaNews.Com, 21/08/2020)

Pemblokiran ini terjadi beberapa kali sehingga penayangannya tertunda beberapa saat. Kendala ini justru membuat masyarakat semakin penasaran dengan isi dari film tersebut. Sebab hal ini menunjukkan adanya ketidaksukaan dari pemerintah tentang isi film tersebut.

Berdasarkan informasi dari terkini.id hingga Jumat 21 Agustus 2020, tayangan video itu sudah dilihat hingga 278.372 kali. Hal ini sangat mengejutkan karena ternyata sambutan yang diberikan oleh masyarakat sangat luar biasa. Ya, sejarah tidak selamanya membosankan. (Terkini.id, 21/08/2020)

Hal ini tergantung pada bagaimana sejarah itu dikemas sedemikian rupa sehingga dapat memikat khalayak tentunya dengan bukti-bukti yang autentik. Lihatlah betapa banyak orang yang ingin mengetahui sejarah tentang bagaimana hubungan  bangsa ini  dengan Kekhilafaan Turki Ustmaniyah. Mereka dengan setia menunggu dan menonton hingga akhir.

“Untuk menghancurkan suatu bangsa atau negara, maka hancurkan ingatan (sejarah) generasi mudanya”. Ungkapan tersebut memiliki makna  yang pertama, kaburkan sejarahnya. Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Dan yang ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan mengatakan bahwa leluhur itu bodoh dan primitif.

Kutipan yang sangat terkenal ini bukan hanya sekedar kutipan namun benar-benar dipraktekkan oleh para musuh islam. Berbagai upaya mereka lakukan untuk mengaburkan sejarah bangsa ini. Salah satunya dengan memblokir penayangan film dokumenter JKdN, hal ini mereka lakukan agar umat tetap kabur dari fakta sejarah yang sebenarnya.

Sehingga umat Islam tak mengetahui sejarahnya, bahkan tidak merasa bangga dengan kegemilangan yang pernah diraihnya, serta tidak merasa adanya kewajiban untuk memperjuangkan hadirnya kembali dalam kehidupan. Dan menerima kondisi kehidupan saat ini dengan merasa tak ada yang salah serta mengagumi peradaban barat yang saat ini berkuasa.

Upaya ini sebenarnya bukanlah langkah baru yang dilakukan para pembenci Islam, namun sudah terjadi semenjak awal Islam diturunkan pada Baginda Rasulullah Saw.  Ketakutan mereka terhadap tersebarnya kebenaran Islam di tengah umat, mendorong mereka melakukan tuduhan-tuduhan dusta dan keji terhadap ajaran Islam. Mereka melakukan berbagai cara untuk menghalangi kembalinya kejayaan Islam.

Sebab pengetahuan sejarah khususnya tentang khilafah Islam bisa membangkitkan kesadaran umat terhadap kejayaan yang pernah diraih oleh bangsanya. Sehingga mampu menggerakkan umat untuk berjuang meraih kejayaan islam kembali seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Semangat untuk memperjuangkan kembali tegaknya khilafah Islam inilah yang membuat para musuh islam ketakutan. Mereka takut jika Islam berkuasa nanti maka akan menggeser penguasaan mereka terhadap kaum muslim.

Namun sekuat apapun mereka menutup kebenaran suatu saat nanti akan terkuak juga. Sungguh merupakan suatu keniscayaan untuk menghalangi kemenangan yang telah dijanjikan-Nya layaknya tak ada yang dapat menghalangi terbitnya fajar. Allah Swt berfirman  dalam Al-quran surat at-Taubah yang artinya:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (32-33)

Wallahu a’lam bish-shawab

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: