Peningkatan Bullying Butuh Solusi Tepat

Peningkatan Bullying Butuh Solusi Tepat



Oleh : Rita Rosita
Ibu Rumah Tangga


Setiap hari tidak lepas dari kasus perundungan atau bullying seolah tak akan pernah padam, bahkan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Fenomena bullying ini ibarat gunung es. Sdikit yang terlihat di permukaan (dilaporkan), sementara di bawahnya masih tersimpan kasus-kasus lain yang besar namun tidak dilaporkan.

Dilansir Rmol.id (09/2/2020) disebutkan bahwa dalam kurun waktu 9 tahun terakhir, sejak 2011 hingga 2019, ada 37.381 aduan yang masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dari jumlah tersebut, pelaporan kasus bullying atau perundungan di dunia pendidikan maupun media sosial mencapai 2.473 laporan.

Seperti viralnya sebuah video perundungan di Solo yang melibatkan beberapa anak perempuan beberapa hari lalu. Mirisnya pelaku dalam video tersebut masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Seperti yang disampaikan Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak yang mendalami kasus tersebut,
"Kami mengidentifikasi ada delapan pelaku. Semuanya masih SD atau masih di bawah umur," ungkapnya. (Detik.com, 15/8/2020). Beberapa faktor yang memicu perilaku bullying di negeri ini.

Diantaranya, tontonan, sudah menjadi rahasia umum jika televisi saat ini berisi tontonan yang jauh dari hal yang mendidik. Banyak perilaku bullying dan kekerasan yang dicontohkan di dalam sinetron-sinetron yang ada. Tambah semakin banyaknya konten-konten bebas yang tersebar di media online seperti YouTube dll. Hal ini kemudian ditiru oleh generasi saat ini. Alhasil, perilaku bully dan kekerasan baik secara verbal, fisik, maupun cyber semakin menjadi.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Komisioner Komisi KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra Putra bahwa tontonan kekerasan, dampak negatif gawai, dan penghakiman media sosial merupakan pemicu anak melakukan perundungan. Masyarakat tentu dibuat sangat khawatir atas tren perundungan ini. (nasional.republika.co.id, 10/2/2020)

Faktor berikutnya minimnya ilmu agama. Menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Muhammad Iqbal, perundungan yang dilakukan pelaku bullying karena mereka sedang melakukan proses pencarian jati diri tanpa mampu mengontrol emosi dan pola pikir mereka. Sehingga perlu adanya langkah yang ditempuh negara untuk menuntaskan kasus kekerasan terhadap anak. Butuh adanya sinergi antara negara, anak, dan keluarga. (viva.co.id, 23/7/2017)

Pencarian jati diri butuh ilmu agama. Karena dengan ilmu agama akan mampu memahami hakikat hidup dengan benar. Tak bisa disalahkan juga, masyarakat hari ini kian jauh dari aturan dan norma agama. Perilaku yang kian bebas tanpa adanya batasan Syara'. Maka tak heran jika generasi saat ini kian tak bermoral. Dan hal ini juga menjadi pemicu mudahnya perilaku perundungan terjadi karena mudah terpengaruh lingkungan.

Inilah buah simalakama yang membahayakan kehidupan masyarakat. Kehidupan yang sekuler telah menjauhkan setiap individu masyarakat dari rasa kemanusiaan, cenderung hedonis, dan tak takut akan dosa dan azab Tuhan.

Di sisi lain, orang tua juga tidak berperan dengan baik dalam proses mendidik dan menanamkan nilai-nilai agama pada anak. Sementara itu, negara juga tak melihat masalah lingkungan sosial remaja. Negara cenderung abai dan tidak membangun kepedulian untuk mencegah pergaulan bebas, kekerasan dan perilaku bully. Maka wajar jika kerusakan remaja terus terjadi karena sistem kehidupan yang diterapkan negara saat ini sama sekali tidak mendukung perlindungan remaja dari kerusakan.

Persoalan ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Butuh solusi tepat untuk menyelesaikan dengan tuntas guna menyelamatkan generasi dari kerusakan. Dan satu-satunya harapan yang dapat menyelesaikan segala persoalan ini ada pada Islam.
Islam memiliki cara sahih dalam menjaga generasi dari berbagai faktor yang memicu kerusakan baik fisik, mental serta pemikirannya.

Diantaranya dengan menanamkan akidah secara kokoh sejak usia dini. Orang tua akan menjalankan perannya dengan maksimal dengan mendidik anak sesuai tuntunan syariat. Dengan demikian, anak memiliki pegangan hidup yang kokoh sehingga di usia baligh mereka siap menjalani kehidupan dan memahami hakikat hidupnya hanya untuk beribadah kepada Sang Khaliq, bertakwa kepada Allah Ta'ala.

Berikutnya, negara akan berupaya dengan memberantas segala hal yang menjadi penyebab kerusakan generasi. Seperti tontonan negatif, memblokir tayangan-tayangan yang berbau kekerasan, bully serta pornografi dan pornoaksi. Serta menjamin lingkungan masyarakat yang bertakwa untuk saling menasihati satu sama lain. Dan penegakan hukum disertai sanksi yang tegas atas segala pelanggaran hukum Syara'.

Dengan demikian, generasi terhindar dari perilaku negatif seperti membully atau dibully. Generasi akan hidup dengan baik dan terjaga baik fisik, mental dan pemikirannya. Karena mereka adalah aset bangsa yang wajib dijaga. Dan satu hal yang pasti negeri ini akan diberkahi oleh Allah ketika menerapkan Islam secara kafah.
Wallahu a'lam bishshawwab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: