RESESI EKONOMI, DAMPAK PASTI PANDEMI YANG TAK KUNJUNG TERATASI

RESESI EKONOMI, DAMPAK PASTI PANDEMI YANG TAK KUNJUNG TERATASI




Oleh : Ummu Aqeela

Sebanyak sembilan negara telah mengalami resesi akibat pandemi virus corona, berdasarkan Worldometers pada Jumat (7/8/2020) terdata telah menjangkiti 19.261.406 orang. Negara-negara itu adalah Amerika Serikat (AS), Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Filipina. Secara dua kali berturut-turut atau lebih, pertumbuhan ekonomi di kesembilan negara tersebut mencatatkan minus. 

Sementara itu, di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 minus 5,32 persen. Artinya, jika tren minus tersebut berlangsung hingga kuartal III tahun 2020, Indonesia juga bisa masuk ke jurang resesi ekonomi. Dilansir dari Forbes, 15 Juli 2020, resesi merupakan penurunan signifikan kegiatan ekonomi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Resesi juga dianggap sebagai bagian yang tak terhindarkan dari siklus perekonomian suatu negara. 

Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan, peluang Indonesia mengalami resesi bergantung pada penanganan Covid-19. Pasalnya, krisis ekonomi yang terjadi saat ini disebabkan masalah kesahatan, yaitu virus corona. Menurut Eddy, langkah pemerintah dalam menangani wabah virus corona sampai saat ini sangat memungkinkan terjadinya penurunan ekonomi yang berujung pada resesi. Sebab, kepastian dalam dunia usaha merupakan sebuah tolak ukur dan kepastian itu bisa didapatkan jika penanganan terhadap akar masalah dilakukan dengan baik.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, aktivitas ekonominya didasarkan pada mekanisme pasar. Namun dalam prakteknya, mekanisme pasar yang terjadi bukan dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran, tetapi lebih banyak disebabkan karena adanya tujuan dalam memperoleh keuntungan yakni ketamakan para kapitalis. Hal ini tercermin dari prinsip dasar dan filosofi dari sistem ekonomi kapitalis itu sendiri yaitu filosofis individualistis. Filosofi individualistis mendorong manusia dan bahkan sebuah negara untuk mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli dengan kepentingan khalayak 
ataupun negara yang lainnya.

Kelemahan lain dari kapitalis yaitu menjadikan uang sebagai  komoditi dan alat spekulasi dalam perekonomian. Karena uang sebagai komoditi maka, nilai uang tidak lagi sesuai dengan nilai realnya. Selain itu uang mempunyai fungsi sebagai alat produksi (uang dapat menghasilkan uang) melalui bunga yang dilakukan oleh bank. Bank merupakan mesin utama dalam sistim ekonomi kapitalis.  

Pada intinya sistem ekonomi kapitalisme merupakan sebuah sistem ekonomi yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada individu dalam kegiatan perekonomian. Sehingga, dalam sistem ekonomi ini, individu memiliki keleluasaan dalam menerapkan kreativitasnya dalam perdagangan, industri dan alat-alat produksi tanpa dibatasi oleh campur tangan ataupun peraturan pemerintah. Individu juga mempunyai kebebasan dalam memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber daya yang tersedia dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingannya. Prinsip dari sistem ekonomi kapitalisme adalah bagaimana cara individu memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga melalui prinsip tersebut, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar untuk memperoleh keuntungan bersama. Tetapi, intervensi yang dilakukan  adalah untuk memperoleh keuntungan atau kepentingan bagi masing-masing pribadi/individu. Dan siapa yang menjadi sapi perah atau target sistem ini pasti masyarakat luas.

Berbeda dengan Sistem Ekonomi Islam, sistem ini adalah satu-satunya sistem yang mampu menjamin kehidupan ekonomi yang bebas dari krisis. Hal itu karena Sistem Ekonomi Islam yang agung telah dirancang oleh Allah SWT, Zat Maha Pemberi Rezki dan Sang Pencipta. Sistem Ekonomi Islam itu telah dirancang Allah SWT untuk para makhluk-Nya. Allah Maha Mengetahui apa yang menjadi problem-problem makhluk-Nya, apa yang memberikan kebaikan kepada mereka, dan apa yang dapat mewujudkan kehidupan yang aman dan selamat. Firman-Nya :

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. al-Mulk [67]: 14)

Islam membiarkan manusia untuk berkreasi dalam hal cara dan sarana yang digunakan untuk memperoleh harta. Dengan demikian akan tersedia bagi tiap-tiap individu apa yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Islam juga tidak hanya menjadikan pemenuhan itu terbatas pada usaha individu saja. Tetapi Islam telah menjadikan Baitul Mal sebagai milik seluruh rakyat dan hartanya dapat dibelanjakan bagi mereka. Islam menetapkan tanggungjawab nafkah orang yang tidak mampu sebagai kewajiban bagi negara. Islam juga menetapkan penyediaan kebutuhan-kebutuhan umat sebagai bagian dari kewajiban negara. Hal itu karena negara memiliki kewajiban melakukan pemeliharan urusan rakyat (ri’ayah) yang menjadi hak umat. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia berkata,”Rasulullah SAW bersabda :

“Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).”

“Siapa saja yang dijadikan Allah mengurusi suatu urusan kaum muslimin lalu ia tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinannya.”

Maka dari itu, sistem ekonomi kapitalisme haruslah ditinggalkan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam. Karena, dengan adanya bunga dalam pembiayaan tidak akan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini karena dengan adanya bunga dalam maka hanya satu pihak saja yang akan memperoleh keuntungan dan pihak lain akan rugi. Dan sebagai umat muslim, kita tidak hanya membutuhkan keuntungan kesejahteraan dunia semata, tetapi membutuhkan kesejahteraan dunia akhirat. Dan untuk memperoleh hal tersebut, kita harus mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya termasuk dalam kegiatan ekonomi, menjalankan kegiatan ekonomi sesuai apa yang telah disyariatkan dalam Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadist.

Wallahu’alam bishowab



Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: