Setelah Hagia Sophia, Khilafah Akan Menjadi Agenda Besar Dunia

Setelah Hagia Sophia, Khilafah Akan Menjadi Agenda Besar Dunia




Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis


Pemerintah Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan bersikeras mengembalikan museum Hagia Sophia di Istanbul menjadi masjid. Turki tidak peduli meski dunia banyak menolak permintaan Turki, termasuk Amerika. Sejak awal, rencana perubahan status Hagia Sophia kembali menjadi masjid memang menjadi masalah yang telah menarik perhatian internasional. Persoalan ini pun harus diselesaikan di meja hijau. (www.muslimobsession.com, 3 juli 2020)

Namun kaum muslimin di seluruh dunia akhirnya mampu mengucap syukur, Setelah mendengar berita gembira bahwa Hagia Sofia kembali berfungsi menjadi masjid agung terhitung sejak 11 Juli 2020.

Masjid Agung Hagia Sofia adalah wakaf dari sang penakluk Konstantinopel, yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam  sebagai sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang dipimpinnya, sebaik-baiknya pasukan. Yakni Muhammad Al faith Bersama pasukannya.

Hagia Sofia adalah saksi sejarah tentang sebuah kejayaan Islam, jejak puncak mercusuar Islam di Eropa Timur, bahkan cahayanya menembus ke seluruh penjuru dunia kala itu, sebagaimana Masjid Cordova yang berada di Andalusia, atau Spanyol yang juga puncak mercusuar Islam di barat.
Sejak tahun 1934, Hagia Sofia tak lagi berfungsi sebagai masjid setelah Presiden Kemal Attaturk kala itu mengeluarkan dekrit mengubah Hagia Sofia dari masjid menjadi museum. Sebagai bukti keberhasilan proyek sekularisasi di Turki.

Pasca keberhasilan kasus Hagia Sophia, dunia diramaikan dengan seruan khilafah. Seantero Turki menjadi gempar setelah majalah yang dimiliki Albayrak Media Group mengeluarkan seruan untuk membangkitkan kembali kekhilafahan Islam.

Pemimpin redaksi majalah tersebut, Gercek HHagiat, menyeru untuk membangkitkan kembali kekhilafahan dalam majalah terbitan 27 Juli. Tulisan ini memicu kemarahan publik di media sosial. Bagi mereka yang menganggap bahwa pemerintahan Turki tetaplah pemerintahan sekuler. Tidak akan berubah menjadi kekhilafahan.

Asosiasi Bar Ankara kemudian melakukan pengaduan pidana terhadap Gercek HHagiat dengan tuduhan menghasut orang-orang melakukan pemberontakan bersenjata melawan Republik Turki, menghasut masyarakat membentuk kebencian dan permusuhan, dan menghasut orang untuk tidak mematuhi hukum. (republika.co.id, 28/7/2020)

Sepertinya tuduhan yang dilayangkan pada Gercek HHagiat begitu berlebihan dan penuh dengan ketakutan pada pihak yang mengajukan pengaduan pidana atasnya. Justru segala tuduhan tersebut memberi gambaran pada publik bahwa ada peluang besar bagi Turki untuk mengembalikan kejayaan Islam dalam naungan Khilafah.

Wajar saja, jika kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid membuat negara-negara Eropa, Rusia, Amerika, juga dunia Islam, meradang tidak menyetujuinya. Seruan mengembalikan kekhilafahan pun tak terbendung lagi. Mengingat Islam pernah berjaya di bawah naungannya.

Berbagai kerusakan, penderitaan, serta ketidakadilan setiap saat lahir dari sistem sekuler yang diterapkan pada negeri-negeri kaum muslimin. Menjadikan seruan kembali pada kekhilafahan mendapat sambutan yang baik di tengah umat Islam. Umat menginginkan perubahan mendasar karena sistem sekuler gagal memberi solusi. Umat mulai bangkit dengan pemikiran yang tinggi dan cemerlang.

Fenomena ini membuat panas para penguasa sekuler. Maka mereka, melalui kaki tangannya, berusaha sekuat tenaga membendung gagasan dan syariat Allah yang mulia ini. Berbagai dalih mereka kemukakan, untuk menentang bahkan melarang Gerakan yang mendakwahkannya.

Sebagai muslim, tentu kita tetap harus mencontoh dan mengikuti Rosul panutan kita. Rasulullah Saw. telah mengingatkan umat Islam tentang kembalinya Khilafah.
“Di tengah-tengah kalin terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu, Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim
ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya (no.18430), Abu Dawud al-ThHagialisi dalam Musnad-nya (no.439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Tidak berlebihan, jika kemudian banyak pengamat politik yang menyampaikan bahwa, setelah Hagia Sophia, Khilafah Akan Menjadi Agenda Besar Dunia. Maka kepada seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Akankah kita hanya jadi penontonnya? Tidak inginkan kita menjadi bagian yang merindukan dan berjuang merealisasikan kabar gembira dari Rosulullah?

Wallahu a’lam bi ash showab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: