Good Looking=Radikalis? Tanda Islamophobia di Kalangan Menteri

Good Looking=Radikalis? Tanda Islamophobia di Kalangan Menteri






Oleh : Suci Hardiana Idrus

Menteri Agama (Kemenag) Fachul Razi lagi-lagi menuai kontroversi di masyarakat atas pernyataannya mengangkat kembali isu radikalisme yang mendiskreditkan umat Islam. Ia mengatakan bahwa penyebaran radikalisme bisa melalui orang yang berpenampilan menarik atau good looking.

Sebagaimana yang dilansir di Serambi news.com, pada 5 September 2020, "Cara masuk mereka gampang, kalau saya lihat polanya. Pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafidz, mulai masuk, jadi imam, lama-lama orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid, kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide seperti yang kita takutkan," paparnya.

Sontak pernyataan tersebut menimbulkan kecaman dari beberapa  pihak, baik dari MUI, Pemuka dan tokoh agama, dan sebagian politisi, serta umat Islam itu sendiri.

Seperti yang diberitakan di CNN Indonesia, tanggal 4 September 2020, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyiddin Junaidi meminta agar Menteri Agama Fachrul Razi lebih membaca banyak literatur yang benar terkait ajaran Islam.
"Menag harus banyak baca literatur yang benar, bukan ceramah yang disiapkan oleh pihak yang sengaja punya hidden agenda di negeri ini," kata Muhyiddin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).

Lebih lanjut, Muhyiddin menegaskan tuduhan Fachrul itu tak berdasar dan menyakitkan bagi umat Islam di Indonesia. Ia menyatakan seharusnya Fachrul bisa melihat sudah banyak kontribusi umat Islam dalam memerdekakan bangsa Indonesia.

Fadli Zon juga turut menyampaikan kritikan lewat akun Twitter-nya "Menteri Agama ini pernyataan-pernyataannya sering menimbulkan kecurigaan, salah paham, perselisihan atau malah Islamophobia. Sebaiknya menteri ini diganti saja Pak @Jokowi," tulis Fadli Zon dalam akun Twitter pribadinya.

Melansir dari laman yang sama CNN Indonesia, tanggal 9 September, Anggota Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong melihat kontroversi itu, Ali bahkan menyindir Fachrul lebih cocok menjabat sebagai menteri pertahanan ketimbang menteri agama.

Menurutnya, Fachrul belum mampu mengawal dan membimbing berjalannya pelbagai tugas dan fungsi Kemenag dengan baik selama menjabat sebagai Menteri Agama.

"Soal radikalisme Pak Menag gagal paham mengenai fungsi-fungsi agama dan fungsi pendidikan. Tanpa ingin mengecilkan Pak Menag, Bapak ini cocoknya jadi Menteri Pertahanan Keamanan atau jadi Menko Polhukam ketimbang Menag," kata Ali.

Klarifikasi terkait pernyataan dari Kemenag tersebut tak membuat berbagai kalangan berhenti mencecar, bahkan semakin menuai kontroversi saat klarifikasi disampaikan ke publik.
Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menjelaskan, pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi soal ‘good looking’ itu hanya ilustrasi. Substansi yang harus ditangkap adalah perlunya kehati-hatian pengelola rumah ibadah, terutama yang ada di lingkungan pemerintah dan BUMN, agar mengetahui betul rekam jejak pandangan keagamaan jemaahnya.

Jika hanya sekedar ilustrasi, maka itu pun tak pantas diumpakan kepada pengembangan Al-Qur'an
Bagaimana bisa itu dilakukan jika bukan islamophobia yang terinstal dalam pikiran? Menyakiti perasaan umat Islam sudah terlanjur terjadi, klarifikasi tak ubahnya seperti menanam bibit sakit hati lain dan kontroversi baru.

Berhenti menyulut api perpecahan di atas kata 'RADIKAL'
Program moderasi beragama adalah upaya deislamisasi yang sesungguhnya. Sampai yang tersisa hanya sekumpulan umat yang tak tahu akar sejarahnya. Tak kenal bahwa mereka dulu mempunyai pemimpin-pemimpin yang good looking namun tidak radikal. Yang tersisa hanya jumlah yang banyak namun tak didasari kekuatan sedikitpun.

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Sejak awal terpilih Fachrul Razi menjadi Menteri Agama, Umat Islam belum merasakan dampak positif yang bisa menggembirakan hati. Sebaliknya, kebijakannya kerap kali mengundang kontroversial bagi kaum muslimin itu sendiri. Mulai dari pelarangan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah, sertifikasi penceramah, hingga tudingan radikal terhadap umat yang ingin menjalankan syariat agamanya secara kaffah (menyeluruh). Bagaimana mungkin seorang yang menjabat sebagai Menteri Agama bisa terjangkit penyakit Islamophobia?

Radikalisme seakan-akan dijadikan masalah utama bangsa ini. Padahal Pandemi Covid-19 yang berlangsung berbulan-bulan lamanya jauh lebih mengkhawatirkan. Menteri Agama semestinya mengambil peran dalam membina umat agar memperkuat keimanan dan kesabaran atas cobaan yang melandasi negeri ini. Covid-19 telah banyak merubah kondisi kehidupan seseorang. Sehingga masalah demi masalah datang silih berganti. Masalah kesehatan dan kemiskinan terjadi dimana-mana. Sehingga pembinaan terhadap akidah seharusnya lebih diprioritaskan oleh Menteri Agama, bukan menebar Isu radikalisme dan mengkambinghitamkan umat Islam.

Mengapa isu radikalisme senantiasa dimunculkan kembali oleh kaum sekuler? Tidak lain adalah adanya peranan Barat penjajah yang menguasai aetiai gerak gerik Islam yang berpotensi mengancam kekuatan hegemoninya atas negeri ini. Banyaknya hutang ke pihak penjajah membuat penguasa tak berdaya selain mengikuti dan merealisasikan segala agenda yang dibuat. Mulai dari pembuatan Undang-undang, hingga isu radikalisme yang harus senantiasa dihembuskan ke tengah-tengah masyarakat.

Ajaran radikal yang dimaknai dengan bentuk kekerasan, sesungguhnya tidak pernah ada dalam Islam. Bahkan umat Islam senantiasa diperintahkan untuk berkasih sayang, dan hidup berdampingan dengan golongan lain sebagaimana Rasulullah yang bertetangga dengan orang Yahudi. Dalam bermasyarakat, Islam sangat menegaskan adanya sikap dan hak yang sama dalam segala urusan, baik di dalam muamalah, pendidikan, kesehatan dan lain-lain secara adil tanpa mengangkat atau merendahkan golongan yang lain.

Sepanjang sejarah Islam di masa Daulah Khilafah, selama berabad-abad lamanya kaum Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai, bahkan mereka lebih tenang diatur dengan syariat Islam. Sebab syariat yang Allah turunkan sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri, memberikan keadilan, keamanan dan kesejahteraan. Sehingga tak pernah ada suatu masalah tentang radikalisme, sebab keadilan yang di terapkan Islam menghapus segala bentuk tindakan kekerasan, di mana dalam masa jahiliyah modern ini biasa disebut radikal.

Wallahu'alam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: