How to be okay?

How to be okay?



Oleh khusniahummi

Siapa sih anak muda zaman now yang tidak tahu judul drakor populer? Siapa sih anak muda millennial yang ketinggalan trailer lagu terbaru para idol K-pop? Zaman Korean wave memang luar biasa daya tarik yang mereka tawarkan. Apapun yang dibawa sepertinya dibeli dan ditiru. Mulai dari skincare yang mereka pakai, Snack yang mereka makan saat break syuting, sampai yang bawa sandal jepit di bandara, semuanya sold out persis merk yang mereka punya. Bener-bener gila hipnotis mereka sampai tergila-gila. Apapun akan dibela demi sang idola. 

Pernyataan mengejutkan justeru disampaikan oleh wakil presiden KH Makruf Amin baru-baru ini yang mendukung kaum millenials untuk memperoleh inspirasi dari K drama maupun K pop. Padahal imbas atau efek dari Korean wave bukan inspirasi tapi nge bucin alay. Sedikit-sedikit kagum dengan mereka. Gampang kagum bukanlah definisi dari terinspirasi tapi sibuk berhallyusinasi. Yang akhirnya menjadikan kita tergerus dengan budaya mereka yang jelas bukan budaya islami.

Kira-kira kalau setiap hari kita marathon drakor dan sibuk nyanyi-nyanyi sendiri dikamar ala konser dengan lampu disco bukankah kita yang akan terwarnai oleh mereka? bukan sebaliknya, mereka yang tertarik dengan budaya kita. Mulailah insecure mendominasi pada diri anak bangsa. Kita merasa budaya kita tak mampu menyaingi negara gingseng tersebut. Bahasa yang keren dan gaul beralih ke bahasa Korea. Zaman sekarang kebaya hanya dipakai di hari peringatan kartini saja, setiap harinya yang dipakai outfit ala selebritis Korea. Karakter  psikopat saja dibilang trend, idola bersin saja dibilang keren.  Apakah ini yang dinamakan menginspirasi? Tentu tidak. 

Sebenarnya tujuan pak Wapres adalah mengarahkan anak muda agar berkreasi seperti para idola sehingga mendatangkan fitback perhatian mereka ke negara kita. Namun sayang caranya bukan dengan bucin terhadap mereka.Salah kaprah yang mengarah pada pengidolaan yang tidak patut diidolakan bertolak belakang dengan generasi alay yang sempat menghina dan menghujat Ustad Abdul Somat, Elly Risman dll yang tidak sependapat dengan Korean wave. 

Indonesia memang bukan negara dengan satu agama, namun bukan juga negara tanpa agama. Maka jika mengharapkan anak bangsa bisa bangkit menjadi pionir kemajuan bangsa maka harus diperkuat jati diri mereka dengan agama yang mereka punya. Bukan malah menghapus pelajaran agama. Kuncinya ada pada peletakan SDM yang berkarakter perdalam agama dan mencintai bangsa sendiri yang kemudian menjadi filter terhadap apapun budaya yang datang. Sehingga tidak menimbulkan cinta buta terhadap Kpop maupun Kdrama. 

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: