Khilafah: Bukan Hal Asing di Nusantara

Khilafah: Bukan Hal Asing di Nusantara





Oleh Putri Efhira Farhatunnisa


Film berjudul Jejak Khilafah Di Nusantara atau disebut juga JKDN menjadi perbincangan warganet. Karena ini pertama kalinya film dokumenter sejarah, memuat bahasan tentang hubungan khilafah dengan Islam di Nusantara. Dengan Nicko Pandawa sebagai sutradara sekaligus script writter, JKDN yang tayang perdana pada 20 Agustus 2020 bertepatan dengan tahun baru Islam memaparkan bahwa Khilafah bukan hal yang baru di Nusantara, bahkan kerajaan-kerajaan di Nusantara mempunyai hubungan diplomasi dengan kekhilafahan saat itu. Salah satu buktinya adalah dengan adanya surat menyurat pada abad itu antara Maharaja Sri Indrawarman dari kerajaan Sriwijaya dengan Daulah Umayyah yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X membuat pengakuan tentang hubungan keraton Yogyakarta dengan Kekhilafahan Utsmani di Turki pada Pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) yang sudah usai pada Rabu (12/2/2015). Berikut penggalan pidatonya : “....Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki....” (Republika.co.id)

Hal itu sudah cukup membuktikan kalau Khilafah bukan suatu hal yang asing di Nusantara. Seperti yang dipaparkan di film JKDN , bahwa sangat logis sekali Kekhilafahan saat itu mempunyai hubungan dengan berbagai negara karena saat itu Khilafah tengah menjadi negara adidaya seperti halnya Amerika saat ini. Bahkan mungkin masih banyak lagi sejarah tentang jejak Khilafah di Nusantara yang tidak kita ketahui dan perlu kita gali lebih dalam. Masyarakat terutama kaum milenial harus melek akan sejarah, agar tidak mudah mengatakan bahwa Khilafah adalah sistem yang tertolak di Indonesia ini.

Allah sebagai Sang Khaliq, Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan, apa yang baik dan buruk untuk kita. Maka dari itu Allah menurunkan Islam melalui Rasulullah SAW untuk mengatur kehidupan kita, dan Allah tak mungkin salah dalam membuat aturan. Allah menurunkan Islam tak hanya untuk mengatur masalah ibadah mahdhah saja melainkan semua aspek kehidupan  termasuk dalam urusan pemerintahan. Dalam urusan pemerintahan ini, Islam mempunyai sistem bernama Khilafah.

Sistem Khilafah ini cocok ditegakan dimanapun dan kapanpun, tak ada istilah expired atau tak cocok diterapkan di suatu wilayah karena pada dasarnya, Islam itu Rahmatan lil Alamin. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang pada saat itu bernama Daulah Islamiyah, lalu setelah Rasulullah SAW wafat namanya menjadi Khilafah karena sebagai pengganti Rasulullah SAW. Roda pemerintahan Khilafah dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin hingga Khalifah terakhir Sultan Abdul Hamid II. Masa pemerintahan Khilafah ini pernah berlangsung selama ± 13 abad dan menguasai ⅔ bagian dunia. Khilafah juga pernah gemilang di masa ia diterapkan di bumi ini, berhasil melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang cerdas lagi sholih.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: