Korean Wave Bergerilya di Nusantara

Korean Wave Bergerilya di Nusantara



 
Oleh : Tutty Amalia (Founder Kajian WAG MQ Lovers Bekasi)

Juminten si gadis desa akhirnya berganti nama menjadi Joo Min Ten. Begitupun dengan So Lee Hin adik dari Joo Min Ten. Alasannya, karena mereka sangat menyukai hal-hal yang berbau Korea. 

Walaupun gadis yang mengidolakan Lee Min Ho ini belum pernah terbang ke negara Korea. Setidaknya di Indonesia dia masih bisa menikmati kuliner khas Korea yang mudah ditemui di alun-alun kota. Dia juga belum pernah bertemu sang idola dari negeri oppa itu. Tapi apa mau dikata, dia hanya mampu memandangi poster yang terpampang di bilik kamarnya walaupun tidak cukup memenuhi hasrat rindu kepada sang idola.

Saat asik menyantap makanan yang ada di depannya. Joo Min Ten tidak pernah absen untuk mengaktifkan kamera dan memilih gambar hasil jepretannya yang dianggapnya paling lucu. Lalu diunggah di laman instastorynya. Dengan caption, "Jangan lupa makan gaess biar kuat menghadapi kenyataan". Kenyataan bahwa yang dia makan adalah lemper bukan kimbab. Aigo (baca: ya ampun). 

Berbeda dengan kakaknya, So Lee Hin lebih suka bercermin. Bukan untuk  introspeksi diri. Tapi semata mengurus rambutnya yang sengaja dibuat ikal dan fashion style yang  cenderung clean-cut dan simple dengan desain minimalis. Tidak lupa bibir yang dipoles dengan lip balm peach soda ala Lisa Black Pink idolanya membuat sempurna tampilannya saat membantu sang ibu jualan lemper dan kawan-kawannya di alun-alun kota. 

Demikianlah ulah dua remaja dari sekian banyak remaja yang terlihat kehilangan jati dirinya. Saking gandrungnya dengan Korea. Bukan hanya penampilannya saja yang hijrah tapi secara pemikiran pun mulai berubah. Kebiasaan mengucapkan salam diganti dengan kata 'annyeong'. Yang seharusnya sibuk belajar ilmu agama, sekarang rela mengorbankan waktu hingga biaya agar mampu bertemu dengan sang idola. 

Virus K-pop maupun K-drama sudah bergerilya sejak lama. Dan telah menjadi pembahasan publik jika sebagian besar remaja di Indonesia mengidolakan artis-artis dari negeri gingseng itu.

Bahkan bukan hanya kaum remaja, orang-orang dewasa juga banyak yang kecanduan K-pop apalagi K-drama. Dengan alasan untuk mengisi waktu luang atau mengisi kebosanan di masa pandemi. Imbasnya adalah, anak-anak mereka yang baru menetas ke dunia pun auto berubah menjadi 'Hallyu'.  

Seakan terhipnotis dan terikat dengan sosok artis Korea yang diidolakan tersebut. Sehingga menganggapnya paling penting daripada yang lain. Secara tidak langsung akan terdorong untuk mengikutinya terus-menerus, mulai dari gaya hidup, drama, lagu dan lain-lain. Maka jangan heran jika frekuensi ibadah, tholabul 'ilmi bahkan bersosialisasi jadi menurun drastis karena disibukkan oleh Korean Wave. 

Mirisnya, Korean Wave mendapat dukungan penuh dari negara ini. Sedari awal pemerintah memang tidak pernah melarang adanya konser-konser yang dihelat akbar di negara kita. Melihat keimanan masyarakat yang tumbang akibat virus ini pun negara masih asik-asik saja bahkan cenderung tidak perduli dengan keadaan generasi bangsa. Negara hanya perduli dengan profit yang didapat meskipun mencederai perasaan rakyatnya. 

Seperti baru-baru ini. Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan, "Saat ini anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-Pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri." (news.detik.com). 

Wapres Ma'ruf Amin bersungguh-sungguh dalam mengkampanyekan kelebihan negara lain dalam hal ini Korea. Yang pasti tidak jelas arahnya mau ke mana. Berharap anak muda di Indonesia terinspirasi dengan kebudayaan negeri gingseng pun tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Justru bisa menyakiti perasaan banyak orangtua. Karena hanya mementingkan kemesraan kedua belah negara dalam hubungan politik. Tanpa melihat ke depannya akan berdampak baik atau buruk bagi generasi muda saat ini. 

Padahal kenyataannya banyak pemuda-pemuda kreatif dan inovatif yang lahir dari rahim Indonesia. Tapi sayangnya tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari negara. Contoh, lampu seumur hidup temuan mahasiswa Brawijaya. Lemari es tanpa listrik temuan siswa SD Al-Azhar Semarang. Alat pendeteksi dini penyakit jantung temuan mahasiswa ITB. Mobil listrik buatan mahasiswa UNP. Biofungisida dari kulit randu temuan siswi SMA Kayen. Detektor telur busuk berhasil diciptakan oleh siswa SMA Magelang  (pedomanbengkulu.com). Masih banyak lagi kreativitas anak bangsa yang harus disuport oleh negara agar Indonesia menjadi negara mandiri dan membanggakan. Tanpa lagi harus menengok ke negara lain.

Kita juga bisa tengok ke belakang bagaimana para pemuda di masa kekhalifahan selalu berlomba-lomba di atas jalan dakwah. Mereka tidak pernah terlena dengan remahan dunia. Seperti, Amru bin Ash yang mampu menaklukan Mesir. Thariq bin Ziyad menaklukan Andalusia. Mohammad Al-Fatih menaklukkan konstantinopel. Banyak lagi jejak prestasi luar biasa yang sepatutnya bisa dijadikan motivasi oleh anak muda jaman now. 

Jika masyarakat dicondongkan untuk mencintai agamanya, mengamalkan ajaran-ajarannya dan mendakwahkan ilmu yang didapatnya serta mengidolakan para nabi dan para sahabatnya kelak Indonesia akan menjadi negara yang memiliki peradaban gemilang. Karena hanya kembali kepada Al-Qur'an manusia mampu mendapatkan jati dirinya sebagai hamba Allah yang bertakwa melalui pemikirannya. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” (QS. An-Nahl: 44).

Selain Al-Qur'an. Al-hadits juga tidak kalah penting dalam menuntun manusia untuk mencari tujuan hidupnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua hal. Jika kalian mau berpegang teguh kepadanya niscaya kamu sekalian tidak akan sesat selama-lamanya, dua hal itu adalah kitab Allah (al-qur’an) dan sunnah Rasul-Nya. (HR Imam Malik). 

Semoga Joo Min Ten, So Lee Hin dan teman-temannya yang masih tenggelam dalam ke-halu-an bisa kembali kepada fitrahnya sebagai seorang muslim. Memahami tujuan hidup di dunia semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah sang maha pencipta.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: