Korean Wave Jadi Panutan, Menguntungkan atau Merugikan

Korean Wave Jadi Panutan, Menguntungkan atau Merugikan


 

Oleh : Khoirotiz Zahro V, S.E. (Aktivis Muslimah Surabaya)

Pernyataan Mengejutkan Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin yang berharap tren Korean pop atau K-pop dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia untuk lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional.

"Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," kata Ma'ruf Amin dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (20/9/2020), tirto.id. 

Korean Wave, siapa yang tak kenal dengan istilah ini? Hampir di seluruh Negara Asia mengalami fenomena Korean Wave atau yang lebih sering dikenal dengan Demam Korea. Bahkan saat ini Korean Wave sudah menyebar ke belahan bumi bagian barat seperti Amerika, LA, Paris, Eropa dan lain-lain. 

Demam Korea ini meliputi film, musik, fashion, budaya, bahasa dan lain-lain. Yang paling berpengaruh atau memiliki pengaruh besar yaitu musik. Korean Wave ini tentu membawa pengaruh pada pribadi peminatnya, terhadap musik, maupun Negara itu sendiri. Banyak pengaruh negatif maupun positif yang di dapat dari fenomena ini. 

Kegandrungan banyak orang Indonesia terhadap K-pop menunjukkan selera musik dari Negeri Ginseng tersebut mendapat tempat di dalam negeri. Gelombang Korea atau Korean wave juga membawa pengaruh budaya Korea di Indonesia, selain melalui musik pop, juga lewat makanan, drama, film dan mode. 

K-Pop sendiri lahir pada 1992, kemudian mulai menaruh pasarnya ke Indonesia pada tahun 2000an. Yang mana di tahun tersebut di mulai dari film korea atau drama korea yang memiliki banyak part di dalamnya. Seperti Winter Sonata dan Full House yang langsung mempunyai tempat di hati penonton Indonesia. Sampai pada akhirnya memasarkan musiknya juga dan Millenial saat itu sangat memberi wadah untuk K-Pop. Jadi K-Pop semakin besar karena antusiasme mereka.

Bagi kaum muda, jatuh cinta terhadap hal yang berbau Korea bukanlah hal yang sulit. Sekali nonton MV Korea dari salah satu Idol Grup atau menonton salah satu drama akan membuat orang tertarik dan ingin mencari tahu lebih dalam lagi.

Melihat paras tampan dan cantik standar materi saat ini membuat masyarakat Indonesia berbondong-bondong melirik dan memborong skincare negeri gingseng.

Mislanya saat nonton konser musik K-Pop,  terkadang millenial saat ini terlalu berlebihan dan terlalu fanatik, sehingga memunculkan sikap yang sangat berlebihan terutama di kaum hawa. Terlebih tidak sedikit dari penonton tersebut adalah kaum muslim yang berhijab.

Mungkin yang di maksud oleh Wapres kita adalah mengikuti kerja keras para idol korea yang mampu membawa budaya Korean wave ke seluruh dunia tidak sepenuhnya salah, fokusnya hanya mencontoh kerja keras mereka. Tapi faktanya pernyataan tersebut terasa kurang jika pemerintah saat ini saja kurang mendukung dan mengapresiasi karya anak muda nya. 

Tak lupa juga Negeri ini adalah mayoritas beragama Islam sepatutnya bisa menjadi Negeri nomer satu jika menerapkan Islam seluruhnya di segala aspek kehidupan. Karena kita sudah memiliki buku panduan (Al- Quran) yang berasal dari yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Jelas tak mungkin Allah memberikan panduan yang cacat kepada hambanya. 

Sedangkan melihat Korea mayoritas penduduknya tidak memeluk Islam bahkan banyak dari mereka yang tidak beragama atau tidak percaya Tuhan. Layakkah mereka jadi panutan kita sebagai seorang muslim jika standart perbuatan mereka bukan berasal dari yang menciptakan mereka yaitu Allah SWT. Akan ada banyak hal yang bertentangan dengan Islam, mulai dari life style, makanan dan mimunan beralkohol, cara berbusana, cara berias, cara berinteraksi dengan lawan jenis dan bahkan sesama jenis.

Disisi mendunianya Korean Wave, ada sisi gelap yang rentan kerusakan life style salah satunya banyak kasus bunuh diri, seks bebas atau enggan menikah karena akan menanggung beban, minuman alkohol mudah dijumpai dan yang lain.

Pada intinya berkiblat atau mencari inspirasi dari Korean wave bukanlah cara untuk menumbuhkan kreatifitas, karena pada faktanya masyarakat Indonesia banyak yang sangat mengidolakan mereka yang hanya sebagai orang yang bersorak, berteriak-teriak untuk mereka bukan menciptakan hal bernilai yang layak untuk dibanggakan.

Pada faktanya, kecintaan pemuda masa kini pada industri hiburan mereka telah membawa bahaya besar bagi pemuda itu sendiri. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam, sudah selayaknya menjadi muslim muslimah yang memiliki kepribadian Islam. 

Islam telah memiliki sejarah panjang tentang lahirnya sebuah peradaban besar yang datang dari aturan yang berasal dari Al-quran dan As-sunnah. Maka sudah selayaknya aktifitas kita sebagai seorang muslim mengikuti panutan kita yaitu Rasulullah SAW.

Sedang apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban. "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempu­nyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung­jawabannya". Al-Isra, ayat 36

Maka berkiblatlah pada Islam dan menjadikan Islam juga dengan para pemudanya sebagai panutan karena terbukti telah melahirkan peradaban besar.

Sepatutnya generasi muslim didorong untuk menguasai dan promosikan ajaran Islam, mengkampanyekannya menjadi sumber life style global. Hingga mewujudkan rahmatan lil alamin. 

Wallahu’alam bishowab


Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: