Mengais Rezeki di Masa Pandemi

Mengais Rezeki di Masa Pandemi



 Oleh : Mesi Awaliyah


  Rezeki berarti segala sesuatu yang bermanfaat, berdaya guna bagi setiap makhluk, serta dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber kehidupan. Rezeki juga berarti anugerah, karunia atau pemberian dari Allah Swt untuk makhluknya. Dengan ungkapan lain rezeki merupakan segala sesuatu yang dapat menunjang kelangsungan hidup manusia dan mengantarkan kepada kehidupan yang lebih baik lagi. Allah Swt berfirman :

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah diantara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.” (QS.Ar-Rum: 40)


Mencari rezeki merupakan tuntutan kehidupan yang tak mungkin seseorang menghindar darinya. Seorang muslim tidak melihatnya sekadar sebagai tuntutan kehidupan. Namun ia mengetahui bahwa itu juga merupakan tuntutan agamanya, dalam rangka menaati perintah Allah untuk memberikan kecukupan kepada diri dan keluarganya, atau siapa saja yang berada di bawah tanggung jawabnya. Dari sinilah seorang muslim bertolak dalam mencari rezeki. Sehingga ia tidak sembarangan dan tanpa peduli halal haram dalam mencari rezeki. Sa’ad bin Abi Waqqash ra seperti dikutip Habib Abdullah al-Haddad, pernah mengatakan dengan singkat bahwa makanan yang halal menyebabkan doa yang dipanjatkan menjadi terkabul. Beliau berkata,

“Makanlah makanan yang baik (halal), doamu (yang kau panjatkan) akan terkabul.”


Banyak orang setiap harinya keluar untuk mencari rezeki. Rezeki yang dimaksud diantaranya berupa penghasilan yang ia dapat lewat bekerja. Di perkotaan misalnya orang-orang mencari rezeki dengan mengajar, berdagang, bekerja di kantor, atau menawarkan jasa tertentu seperti menjadi supir kendaraan umum mulai dari supir taksi, ojek motor online, dan sebagainya.

Sementara, di wilayah pedesaan mencari rezeki banyak juga dengan mengolah lahan atau memelihara hewan ternak. 


Namun dalam masa pandemi ini, banyak keluarga yang menjadi korban, tak bisa lagi bekerja karena telah ditetapkannya social distancing, sehingga mengakibatkan banyak hal yang tak di inginkan terjadi, mulai dari angka perceraian meningkat, angka kemiskinan terus naik,  anak putus sekolah semakin banyak, kasus stunting pada anak juga melonjak tinggi bahkan banyak jiwa yang meninggal akibat kelaparan di masa pandemi ini. Seperti kasus yang sempat viral warga banten  selama dua hari tidak makan hanya minum air galon akhirnya meninggal karena suaminya tidak bisa bekerja mencari barang bekas lagi dalam masa wabah ini (tribunnews.com), ada juga viral kakak beradik warga muaraenim karena kelaparan dan juga alami keterbelakangan mental, yang didatangi oleh pihak petugas dalam keadaan amat memprihatinkan, kemudian ada juga tukang becak pingsan diatas becaknya yang awal dikira karena terkena corona akhirnya setelah di klarivikasi ternyata sang bapak pingsan karena kelaparan dan banyak lagi kasus lainnya.


 Astagfirullah, miris sekali kehidupan masa kini, negeri yang kaya penuh sumber daya alam, namun rakyat terluntah-lunta kelaparan hanya sekedar mengais rezeki untuk makan pun susah. 


 Persoalan rezeki, setiap muslim meyakini bahwa Allah telah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk dimuka bumi ini baik manusia maupun hewan

 “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Q.S Huud: 6).

Namun mengapa persoalan diatas, kemiskinan kelaparan dimana-mana bahkan angka kematian akibat kelaparan pun sangat tingggi?


 Semua ini lagi-lagi karena sistem yang kita terapkan di negeri ini adalah sistem kapitalisme, dimana perekenomian itu hanya di pegang oleh segelintir orang yaitu oleh para kapital (para pemilik modal). Jadi kemiskinan, kelaparan, walaupun buruh, tani sudah bekerja keras namun tetap hanya begitu saja penghasilan yang diperoleh, karena kemiskinan yang ada memang senagja dibentuk, kendali perekonomian ada di tangan para kapital, sehingga sering muncul slogan di tengah masyarakat ‘yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin’ inilah realita dunia sekarang yang tak bisa kita pungkiri. 


Sistem adalah akar utama masalah sehingga semakin terasa sulitnya untuk mendapatkan penghasilan. Tidak hanya rakyat kecil, rakyat menengah keatas pun mengalami kesusahan ekonomi yang sama karena banyak karyawan yang di PHK, di impornya tenaga kerja asing, sulitnya mencari pekerjaan baru apalagi masa pandemic, namun kebutuhan makan anak istri harus tetap terpenuhi sehingga banyak masyarakat dengan terpaksa mengais rezeki dengan cara yang tidak di ridhoi Allah. Sudah menjadi hal lumrah di tengah kaum muslim dengan alasan keterpurukan ekonomi yang ada, ingin menafkahi keluarga sehingga meminjam uang ke bank untuk membuka usaha menghidupi anak istri. Niat sudah baik untuk menjalankan kewajiban namun karena sitem perbankan yang ada menggunakan ribawi sehingga dengan terpaksa harus terkait dengan riba. Inilah yang dimaksud ingin taat namun terhalang oleh sistem yang tidak mendukung ketaatan. 


Padahal dulu di masa Khalifah Umar bin  Khattab juga pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat, rakyat kelaparan massal dan yang sakitpun ribuan, roda ekonomi berjalan seok-seok bahkan berada dalam level yang membahayakan. Karena krisis ekonomi ini adalah sunatullah bisa dialami negara manapun termasuk daulah islam namun yang menjadi pembeda adalah cara penanganan kholifah dan memikirkan jalan keluar yang cepat dan tepat dalam mengatasi krisis ekonomi ini, yaitu solusi yang tuntas tanpa basa-basi apalagi hanya pencitraan.


 Khalifah umar mengambil langkah pertama dengan menjadi teladan bagi rakyatnya, tidak bergaya hidup mewah makanan seadanya bahkan kadarnya sama dengan rakyat paling miskin bahkan lebih rendah lagi. Kholifah umar bersumpa untuk tidak merasakan daging dan mentega hingga orang-orang sejahtera. Bahkan diriwayat lain aslam berkata “jika Allah tidak melenyapkan musibah itu kami yakin kholifah umar akan mati karena sedih memikirkan masalah kaum muslimin, dan beliau selalu berpuasa dan hanya makan roti dilumuri minyak.”  MasyaAllah sosok kepala negara yang hanya bisa terwujud jika dia menjalankan dan terikat dengan syariat Islam.


Untuk mengatasi paceklik ini khalifah Umar juga mengirimkan surat kepada walinya Amru yang ada di mesir tentang kondisi pangan di madinah dan memerintahkan untuk mengirim pasokan ke Madinah, kemudian Amru membalas suratnya “saya akan mengirimkan unta-unta yang penuh muatan bahan makanan, yang kepalanya ada dihadapan anda dimadinah dan ekornya masi ada dihadapan saya di mesir dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya dari laut”. Khalifah Umar terus berusaha memenuhi kebutuhan rakyatnya, lembaga-lembaga pemerintahan yang langsung berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat, baik yang bergerak dalam bidang financial atau lainnya langsung diminta bergerak cepat.


 Khalifah sendiri yang bekerja dalam posko-posko tersebut memastikan semua berjalan optimal sehingga walaupun dalam masa panceklik yang luar biasa, rakyatnya tetap bisa terpenuhi kebutuhan pokoknya untuk makan, sampai keadaan benar-benar membaik. 


Walaupun tidak dalam keadaan pandemi dalam sistem Islam kesehatan, pendidikan dan keamanan menjadi tangggung jawab langsung negara diberikan kepada rakyat secara gratis baik yang miskin maupun kaya, sehingga rakyat hanya sekedar berusaha memenuhi kebutuhan sangan, pangan, dan papan. Tiga kebutuhan ini pun dipenuhi oleh negara secara tidak langsung misal kebutuhan bahan makanan, rakyat akan membeli dengan harga rendah karena di subsidi oleh negara. Bagi yang tidak punya pekerjaan akan disediakan oleh negara lewat sumber daya alam itu menjadi milik rakyat tidak boleh dimiliki negara apalagi individu, namun yang mengelolanya wajib negara, dengan pengelolaan ini negara bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk rakyatnya bukan di sediakan untuk asing. Sehingga kesejahteraan memang benar-benar bisa dirasakan tidak hanya menjadi slogan. Hal ini telah terbukti di masa kekhalifaan umar bin abdul aziz, diamana tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat lagi, meski zakat itu sudah di kelilingkan kerumah-rumah karena seluruh rakyatnya sudah merasa sejahtera. Namun dalam kondisi sekarang, bisa diamati secara langsung ketika ada pembagian sembako, semua berdesakan bahkan sampai mengakibatkan korban kematian.


 Masa pandemi Corona yang mengharuskan untuk berjaga jarak, ketika pembagian sembako, uang bantuan BLT, bansos dan banyak bantuan lainya berdesakan penuh, sehingga semakin membuat melonjaknya kasus positif. 


Lantas mengapa ada perbedaan di masa kepemimpinan daulah islam dan sekarang?

Karena dulu di masa daulah diterapkan sistem Islam dalam seluruh lini kehidupan, sistem yang berasal dari Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat, sistem yang melahirkan pemimpin terbaik, pemimpin yang takut kepada Allah, pemimpin yang mengerti akan amanah dan tanggung jawab, pemimpin yang cerdas dengan pemikiran yang telah terdidik oleh Islam dan masyarakat islami yang jiwa-jiwanya sudah diikat dengan ketakwaan. Namun saat ini memilih untuk tidak mau terikat terhadap hukum syariat dalam menyelesaikan persoalan kehidupan termasuk persoalan pandemi covid-19 ini malah kita mengambil solusi yang diberikan oleh barat yang justru melahirkan kesulitan-kesulitan baru.


 Rasulullah telah menyampaikan bahwa “Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” atau bahasa sekarang kita sebut dengan lockdown. Namun peringatan ini berkali-kali di abaikan bahkan sempat dikatakan di depan umum bahwa beruntung negara ini tidak melaksanakan lockdown. Walhasil kita semua menuai akibatnya, lonjakan kasus corona tak terhentikan seperti tanggal 7 Agustus 2020 DKI Jakarta kembali mencatatkan rekor penambahan kasus positif sebanyak 658 kasus. Walaupun semua kebijakan ini dilakukan dengan alasan peningkatan ekonomi, namun kesehatan terabaikan dan hasilnya selain lonjakan kasus yang terus menerus tak henti, ekonomi Indonesia tetap menurun drastis. Pertumbuhan ekonomi di quarter 2020 tetap terkontraksi -5,32%. Jika keadan terus seperti ini tidak mampu teratasi berbagai permasalahan kesehatan maka tidak mustahil ekonomi quarter 3 akan negatif lagi dan Indonesia akan mengalami resesi. Maka kita sebagai masyarakatlah yang akan merasakan dampak pertamanya dari kasus ini. Dalam keadaan tidak ada pandemic pencaharian ekonomi hanya untuk makan masih banyak rakyat yang mengeluh apalagi dalam keadaan pandemi ini ditambah jika terjadi resesi berat ekonomi Indonesia benar-benar terjadi. Maka jiwa kematian akibat kelaparan akan semakin tinggi, dan tindak kriminal akan semakin banyak.

 So tunggu apalagi, mengapa kita tidak segera meninggalkan kelalaian dan berpegang teguh pada syariat islam saja.

Wallahu’alam bissowab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: