Narasi Islamofobia, Strategi Barat Melawan Islam

Narasi Islamofobia, Strategi Barat Melawan Islam




Oleh: Eni Cahyani 
Pendidik Generasi

Provokasi Islamofobia kembali mencuat ditengah pandemi Covid-19. Dikutip dari antaranews.com (29/08/2020), Rasmus Paludan, pemimpin partai politik sayap kanan Denmark, Hard Line ditolak izinnya untuk mengadakan pertemuan di kota Malmo, Swedia dan di hentikan di wilayah perbatasan pada Jumat 28/08/2020. "Kami menduga ia akan melakukan pelanggaran di Swedia“ kata Calle Persen, juru bicara kepolisian di Malmo kepada salah satu kantor berita harian, Aftonbladet.

Sebelumnya Paludan memang dikenal sebagai seorang yang anti Islam. Tahun lalu Paludan menarik perhatian media dengan membakar Al-Qur’an yang dibungkus dengan daging babi. Hal inilah yang membuat pihak berwenang mencegah kedatangan Paludan dengan mengumumkan bahwa dia dilarang memasuki Swedia selama 2 tahun.

Paludan kemudian memposting pesan menyindir via facebook “Dipulangkan dan dilarang masuk Swedia selama 2 tahun, namun pemerkosa dan pembunuh selalu di terima" tulisnya.

Dihadangnya Paludan ini memicu protes dari golongan ekstremes sayap kanan. Bahkan pada Jumat sore salah satu aktivis dari kelompok terseut membakar Al-Qur’an di dekat kawasan pemukiman, parahnya mereka merekam aksi tersebut dan disebarkan secara online.

Aksi tersebut langsung mengundang berbagai  kerusuhan dan protes baik pro maupun kontra yang disampaikan penduduk hingga menghebohkan dunia. Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu dan membakar ban di jalanan kota Malmo sejak Jumat malam. Eskalasi kekerasan terus meningkat hingga Sabtu dini hari.

Sebelumya pada tahun 2018 juga ada aksi para pembenci Islam lainnya, seperti Geert Wilders politisi pembeci Islam yang pernah berencana mengadakan lomba menggambar kartun Nabi Muhammad. 

Saat ini dunia nampak benar-benar terjangkiti virus Islamofobia. Mengapa hal tersebut terus terjadi?

Menurut persepsinya, Barat membangun narasi munculnya Islamofobia akibat dari ulah kaum Muslimin itu sendiri. Aktivis liberal mengatakan bahwa satu sebab munculnya Islamofobia di Eropa karena adanya serangan bom mematikan oleh para jihadis muslim di Eropa, yang dikampanyekan sebagai teroris. Namun tak hanya itu mereka juga menyampaikan Islamofobia yang muncul di Eropa disebabkan karena banyaknya imigran asal Timur Tengah yang jelas hampir semuanya beragama Islam, maka mereka mengasosiasikan kebencian terhadap para imigran tersebut. Kepada kaum muslim mereka berpandangan bahwa para imigran muslim telah secara konsisten menunjukkan diri mereka sebagai pihak yang tidak mampu berasimilasi dan berintegrasi. Harusnya mereka mau beradaptasi dengan nilai-nilai dan budaya barat, namun nyatanya sulit diwujudkan. Jadi menurut mereka adalah wajar jika barat menganggap imigran bukan bagian dari mereka, karena mereka tidak mau berbaur.

Narasi yang dibangun oleh barat itu sejatinya sengaja mereka bangun terhadap Islam dan kaum muslimin. Stigma buruk akan ajaran Islam dan keberpegangteguhan kaum muslimin terhadap syariat Islam. Puncak munculnya Islamofobia telah terjadi setelah peristiwa serangan 11 september 2001.

Bentuk-bentuk Islamofobia yang terjadi di Eropa dan barat beragam bentuknya mulai dengan pelarangan cadar kepada muslimah, diskriminasi terhadap pelaksanaan ibadah umat Islam, pembakaran al-Qur’an hingga pembunuhan.

Islamofobia sejatinya dihadirkan oleh barat untuk menjauhkan umat manusia dari Islam. Mereka menuduhkan bahwa keteguhan kaum muslimin memegang nilai-nilai aturan Islam, mereka pandang sebagai penghambat kebangkitan. Munculnya Islamofobia adalah desain busuk barat untuk menjauhkan umat Islam dari kemuliaan yang hakiki, yang tidak akan mungkin diraih dengan sistem kapitalis yang ruksak dan merusak. 

Islamofobia didesain dengan sengaja oleh barat dengan target menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Serta mencegah kebangkitan Islam dengan tegaknya syariat Islam yang diterapkan di tengah-tengah umat dan untuk mengemban dakwah keseluruh dunia dan melindungi seluruh kaum muslimin dan mengurus kemaslahatan mereka.

Dengan diterapkannya syariat Islam akan menjamin jiwa bagi setiap warga negara dan menjadi perisai bagi yang merusak kehormatan Islam serta menjamin terjaganya agama. Oleh karena itu ketika diterapkannya syariat Islam tak pernah dibiarkan siapapun penista agama Islam, karena baginda Rosulullah Saw. pernah menerapkan sanksi bunuh bagi bagi pelaku penista agama.
Maka dari itu syariat Islam lah yang akan menghentikan dan mengentaskan bentuk Islamofobia yang sedang menggejala di seluruh negeri-negeri lainnya. Bahkan Islam akan mewujudkan kemuliaan dan rahmat bagi semesta alam.

Wallahu'alam bishawab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: