Negara Wajib Hentikan Persekusi, Bukan Malah Apresiasi

Negara Wajib Hentikan Persekusi, Bukan Malah Apresiasi



Oleh : Ina Siti Julaeha S.Pd.I
Aktivis Muslimah 

Beberapa hari lalu sempat viral video yang menanyangkan aksi oknum Banser membentak dan mencela seorang Kiayi di Bangil, Pasuruan Jawa Timur. Dalam video tersebut seorang oknum Banser tidak terima dan menolak ajaran Khilafah dan menganggap bahwa sang Kiayi adalah simpatisan HTI yang sangat meresahkan karena mendakwahkan Khilafah yang menurutnya bertentangan dengan Islam di Indonesia. Video itu menuai kontra dari berbagai kalangan termasuk ketua MUI pusat. MUI memandang bahwa  aksi keronyokan dan main geruduk tersebut sangat minim etika dan adab. Main hakim sendiri dan menjadi bagian dari aktivitas persekusi. Dan seharusnya pemerintah menghentikan berbagai aktivitas persekusi ini, baik terhadap ulama, aktivis islam dan semua masyarakat umum.

Diketahui kyai Zainullah Muslim yang menjadi korban persekusi oleh oknum PC Ansor Pasuruan tersebut. Beliau merupakan pimpinan MT Baitul Muslim Kecamatan Rembang kabupaten Pasuruan Jawwa Timur. Pada hari kamis, 20 Agustus 2020 beliau dipersekusi oleh segerombolan PC Ansor Bangil. Saad Muafi yang diketahui sebagai pimpinan cabang Ansor Pasuruan melakukan perbuatan tidak terpuji. Dia membentak, menunjuk-nunjuk orang yang lebih tua dengan terus meluapkan emosinya.

Namun sayangnya, aksi main geruduk ini justru mendapatkan apresi dari pemerintah. Melalui Kemenag Fachrul Razi mengapresiasi cara-cara yang diambil oleh Banser PC Ansor Bangil yang mengedepankan cara-cara penuh kedamaian.

"Saya memberi apresiasi atas langkah tabayyun yang dilakukan oleh Banser PC Ansor Bangil yang mengedepankan cara-cara damai dalam menyikapi gesekan yang terjadi di masyarakat terkait masalah keagamaan," ungkap Menag Fachrul Razi di Jakarta, Sabtu 22 Agustus 2020.  (Pikiran-rakyat.com  22/08/2020). 

Mengedapankan cara-cara penuh kedamaian yang dikatakan Menag sepertinya tidak sesuai dengan fakta dalam video yang ditayangkan. Dalam video tersebut tidak ada ucapan lembut. Dengan sangat jelas bahwa oknum Pimpinan Cabang Banser Bangil membentak, menuduh dengan amarah yang sangat tinggi kepada Kiayi dan menggruduk  lembaga pendidikan tanpa ada adab. 

Salah satu penyebab seseorang melakukan tindakan persekusi karena minimnya sanksi hukum yang jelas. Alih-alih memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku tidak terpuji itu, Mentri Agama justru memberikan apresiasi. Dengan apresiasi yang tidak tepat ini akan semakin banyak memunculkan orang-orang yang tidak perduli adanya hukum  dan norma etika di negeri ini. Sebab pelaku kurang terpuji justru menuai apresiasi. 

Hal ini amat sangat disayangkan. Tabayun yang dianggap oleh Mentri Agama sepertinya kurang tepat. Secara bahasa Tabayyun berarti refleksi untuk mendapatkan kejelasan, sebagaimana firman Allah: “Tatkala datang kepadamu seorang fasiq membawa kabar maka tabayyun-lah” (QS. al-Hujurat: 6). Langkah tabayun bisa dilakukan dengan diskusi ilmiah, mencari data dan informasi dari yang bersangkutan dan hindari sikap amarah. Duduk bersama dan saling mengedepankan keilmuan dan menjungjung tinggi ukhuwah Islamiyah. Apalagi jika persoalannya hanya berbeda pandangan saja, sebaiknya sikap muslim menjadikannnya sebagai rahmat. Maka sikap seorang muslim adalah saling menghargai dan saling memberikan dukungan selama tidak bertentangan dengan islam dan tidak dalam kemaksiatan.

Sedangkan definisi ersekusi adalah suatu perlakuan buruk dan sewenang-wenang yang dilakukan secara sistematis oleh individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau golongan lain dengan cara memburu, mempersusah, dan menganiaya, karena perbedaan suku, agama, atau pandangan politik.

Jika kita fahami bersama, perilaku oknum Banser itu jelas-jelas sebagai tindakan mempersekusi. Dalam video tersebut Saad Muafi sebagai pelaku persekusi menolak ide khilafah yang didakwahkan oleh Kyai Zainullah yang dianggap sebagai simpatisan HTI, dengan anggapan meresahkan dan mengganggu warga. Menuduh dengan nada tinggi dan sambil menunjuk-nunjuk memarahi orang yang lebih tua, Muafi terus melontarkan kekesalannya. Mulai dari ide khilafah yang bertentangan dengan NKRI dan aktivitas dakwah khilafah meresahkan warga, hingga tuduhannya terkait ulama NU. Nampak dalam video tersebut dang Kiayi yang memiliki lembaga pendidikan ini hanya tersenyum dan menjawab dengan tenang. 

Persekusi dalam iklim demokorasi kepitalis menjadi hal yang bisa saja selalu akan terjadi. Kebebasan berpendapat yang selalu digaungkan nyatanya hanya omong kosong. Semua kebenaran dalam demokrasi selalu menggunakan standar ganda. Kebebasan berpendapat dikatakan benar jika sesuai dengan harapan penguasa dan korporasi. Namun lainnya jika apa pendapat yang dilontarkan justru mengancam mereka, maka siap-siap akan dibungkam dan ditolak meskipun pendapat tersebut merupakan fakta yang terjadi.

Khilafah merupakan ajaran Islam. Mendakwahkan khilafah merupakan kewajiban setiap individu. Karena dosa hukumnya jika menyembunyikan ajaran Islam. Dengan adanya persekusi aktivis dakwah dan ide khilafah ini, masyarakat seharusnya sadar dan semakin merindukan diatur oleh Islam. Sebab hanya dengan syariat Islam sajalah kebenaran dan kebathilan nampak jelas dengan penerapan syariatnya. Berharap adanya hukum yang tegas dalam alam demokrasi hanyalah ilusi.  

Maka sudah saatnya kita sadari bersama bahwa akar dari persoalan yang menimpa negeri ini adalah karena bercokolnya sistem kapitalisme demokrasi yang berasal dari peradaban Barat sekuler. Kebebasan beragama dan berpendapat yang menjadi bagian dari demokrasi pun nyatanya tidak diberlakukan. Maka sebagai muslim kita harus mengembalikan semua kebijakan hukum kepada al-Qur’an dan hadis,ijma dan qiyass sebagai sumber hukum yang mutafaq. Bukan meyakini siapa yang diapresiasi dan siapa yang dipersekusi. Tidak juga memandang kepada yang benar menurut para penguasa dan yang salah menurut legitimasi penguasa. Melainkan baik dan buruk merujuk pada dalil nash syara yakni syariat Islam yang bersumber dari Allah SWT. Maka tetaplah teguh memegang syariat Islam dan jangan goyah dengan persekusi apapun, selama kita berada dalam jalur kebenaran Islam, pastilah tantangan dan ujian sudah pasti menjadi penghalang.

Mengetahui bagaimana respon mentri agama yang mengecewakan dan terkesan melindungi dan membela pelaku persekusi membuat kita sadar bahwa pemerintah tidak berperan adil dalam menyelesaikan persoalan yang ada di tengah mayarakat. Adanya apresiasi ini menandakan unsur kebenaran dalam sistem demokrasi absurd. Maka masihkah kita berharap terhadap sistem buatan manusia yang rusak ini?





Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: