Penyerang Ulama, Jangan Asal Disebut Gila

Penyerang Ulama, Jangan Asal Disebut Gila





Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd
(Lingkar Studi Muslimah Bali)


Kasus penyerangan terhadap ulama bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sudah berkali – kali. Juga sudah ada berbagai motif yang digunakan oleh si penyerang. Mulai dari sisi tersinggung kata – kata, iri hati, politik, ekonomi, atau bahkan hanya sekedar menuruti perintah orang lain.

Kasus penyerangan terbaru yang menjadi perbincangan masyarakat hingga saat ini adalah kasus pembacokan terhadap Syekh Ali Jaber. Beliau pada saat kejadian, 13 September 2020,  sedang menghadiri acara wisuda tahfidz di Lampung . Tiba – tiba datanglah seorang laki – laki yang berlari ke arah panggung kemudian menikam lengan atas Syekh Ali. Alhasil, lengan atas Syekh Ali mengalami luka yang cukup dalam hingga harus mendapatkan jahitan.

Masyarakat sekitar yang menyaksikan secara langsung kronologi kejadian tersebut sontak dibuat berang dan marah. Mereka tak menyangka akan ada penyerangan terhadap seorang Syekh di daerah tersebut. Ditambah lagi dengan pengakuan orang tua si penyerang yang mengatakan bahwa anaknya mengalami gangguan jiwa atau gila. Sampai saat ini pun, polisi belum bisa membuktikan motif pelaku secara pasti.

Sebelum kejadian tersebut dan  masih di Pulau Sumatera, tepatnya pada tanggal 11 September 2020 di Kelurahan Tanjung Rancing, Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Ada salah satu Imam Masjid Nurul Iman yang juga diserang oleh kawan di satu kepengurusan masjid yang sama. Imam masjid tersebut diketahui bernama Muhammad Arif.

Beliau diserang oleh kawannya saat memimpin sholat maghrib berjamaah di Masjid tersebut. Diketahui motifnya adalah karena tersinggung oleh kata – kata korban tentang masalah kunci kotak amal di masjid tersebut. Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit setempat dan dirawat selama 3 hari dan akhirnya tidak bisa diselamatkan. Ia pun meninggal dunia (detik.com, 14/09/2020).

Ketua DPP Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB), Mayjen Purn TNI Deddy S. Budiman, meminta Polri untuk mengungkap sampai tuntas. Berdasarkan bukti hukum, apa motivasi pelaku, dan siapa sebenarnya para pembacok ulama tersebut. Deddy juga mengulas beberapa kasus pembunuhan dan pembacokan Ustad di Jawa Barat tahun 2018.

Diantaranya yaitu, pemukulan Ustad Umar Basri di Cicalengka pada 27 Januari 2018, pembunuhan Ustad Prawoto di Cigondeah pada 1 Februari 2018, dan penyerangan santri Ponpes Garut, Abdul, yang diserang oleh 6 orang yang mengaku gila pada 3 Februari 2018.

Atas fakta tersebut, Deddy berharap pihak kepolisian dapat mengungkap kasus besar apalagi kasus terakhir seperti penyerangan para ulama ini. Ia juga meminta kepolisian tidak cepat menjustifikasi bahwa si pelaku adalah orang gila.

“Apalagi kasus – kasus pembacokan dan pembunuhan ini berujung kepada orang gila. Hal ini patut diduga aparat sedang melakukan dagelan hukum. Karena masyarakat akan sulit menerima kenyataan, kenapa orang gila hanya melakukan penganiayaan kepada Ustad/Kyai?” demikian kata Deddy kepada awak media saat di Bandung.

“Kenapa orang gila tidak ada yang melakukan penganiyaan kepada aparat hukum dan penguasa. Kok kasus-kasus penganiayaan terhadap ulama semua dilakukan orang gila. Apakah ini dagelan hukum, atau sedang main sinetron,” tambah mantan Staf Ahli Panglima TNI ini.

Ketua PA 212, Slamet Maarif, juga mengecam dan mengutuk keras aksi pembunuhan dan penikaman ulama. Menurutnya, cara yang dilakukan pelaku seperti cara dan gaya PKI. Ia kemudian segera menginstruksikan kepada umat Islam untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga ulama dari serangan dan ancaman gerombolan pembenci Islam. 

Sungguh miris jika melihat kondisi Indonesia yang terkenal dengan penduduk Islam terbanyak, namun masih banyak perlakuan buruk terhadap ulama – ulamanya. Berbagai kasus persekusi bahkan sampai berujung maut, menyimpulkan bahwa kedudukan para ulama ini tidak lagi dihiraukan oleh masyarakat. Padahal kedudukan para ulama ini sangatlah mulia.

Allah SWT berfirman, “Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11).

Rasulullah juga bersabda bahwa para ulama adalah orang yang mulia dan merekalah pewaris nabi. “Sungguh ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu itu, maka ia telah mendapatkan bagian terbanyak (dari warisan para nabi).” (HR Tirmidzi (2682)

Muliakanlah ulama, karena sungguh mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan dimuliakan.” (Kitab Lubbabul Hadis, Imam As Suyuthi).

Jalan dakwah memang tak pernah sepi dari ujian dan pertentangan. Inilah jalanan terjal yang harus dilalui oleh para ulama. Pemuja kebatilan selalu berupaya memadamkan cahaya Islam. Mereka mengatur makar untuk membungkam ulama. Baik dengan opini negatif, rayuan rupiah, maupun tindakan kasar.

Jika diri masih merasa memiliki Iman dan Islam, maka tingkatkan taqwa, lindungi Ulama, berusaha membersamai mereka untuk tetap memperjuangkan tegaknya Islam di seluruh penjuru dunia, dan jangan takut terhadap makar pendengki Islam karena sesungguhnya Allah lah
Sang pembuat makar terbaik.

Orang – orang kafir itu membuat makar, dan Allah membalas makar mereka itu. Dan Allah sebaik – baik pembalas tipu daya” (TQS. Ali Imron: 54).

Dan (ingatlah), ketika orang – orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik – baik pembalas tipu daya” (TQS. Al-Anfal: 30).
Wallahu a’lam bish showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: