Ramai Boikot Film Cuties, Ada Apa?

Ramai Boikot Film Cuties, Ada Apa?



Oleh: Ika Mustika



Setelah banjir pujian karena merilis film-film laga populer seperti Extraction dan The Old Guard yang sempat menjaring banyak penonton, kini Netflix malah menuai kontroversi di kalangan penggunanya gara-gara film Cuties atau "Mignonnes" (Perancis). Bahkan, penayangan Cuties yang merupakan film drama asal Prancis itu, membuat sejumlah pelanggan memboikot sekaligus mengancam akan berhenti berlangganan Netflix. 

Menariknya, sebelum Cuties tayang di Netflix, film ini sempat mendapat banyak pujian. Bahkan Cuties bersinar di Festival Film Sundance hingga mendapat dua nominasi yang salah satunya dimenangkan. Fim ini telah dipuji karena mempertanyakan bagaimana masyarakat dan media sosial menekan anak-anak bertindak secara seksual dan eksplisit. (www.liputan6.com)

Cuties mendapatkan kecaman lantaran dituding mengandung unsur sensualitas anak di bawah umur karena menampilkan anak di bawah umur dengan sejumlah adegan sensual. Pengguna Twitter bahkan menggencarkan tagar #CancelNetflix (twitter.com)

Film ini mengisahkan tentang bocah 11 tahun bernama Amy yang merupakan keturunan Islam Senegal dan tinggal di kawasan kumuh Prancis. Amy tertarik dengan dunia tarian bebas dan seksi yang bertentangan dengan adat istiadat Islam dalam keluarganya. Ia bermimpi dapat bergabung dengan grup penari modern dimana ini merupakan sebuah fantasi yang bentrok dengan nilai-nilai Islam di keluarganya.

Menurut sutradara film tersebut, Maïmouna Doucouré menggarap film melalui riset yang cukup panjang yakni kurang lebih satu setengah tahun. Perempuan 35 tahun tersebut mengaku telah mewawancarai gadis-gadis pra-remaja dan mencoba memahami gagasan mereka tentang apa itu feminisme. Serta bagaimana media sosial mempengaruhi gagasan tersebut. 

“Pesan utama dari film ini adalah bahwa gadis-gadis muda ini harus memiliki waktu untuk menjadi anak-anak, menikmati masa kecil mereka, dan memiliki waktu untuk memilih siapa yang mereka inginkan ketika mereka dewasa. Anda punya pilihan, Anda dapat menavigasi di antara budaya-budaya ini, dan memilih dari elemen keduanya, untuk berkembang menjadi diri Anda sendiri, terlepas dari apa yang didikte media sosial dalam masyarakat kita," papar Doucouré, seperti dikutip dari laman Deadline (12/09/2020). (www.wartaekonomi.co.id)

Diterapkannya sistem sekuler kapitalis yang menjunjung tinggi kebebasan dan HAM telah membuka ruang ekploitasi syahwat bahkan terhadap anak kecil. Walau film ini mendapat pujian dan penghargaan karena penggambarannya tentang tekanan masa remaja. Namun layakkah film ini ditonton oleh para remaja terutama remaja muslim?

Sebagai seorang muslim dalam menjalani kehidupan, Islam sudah memberikan seperangkat aturan. Allah sebagai Pencipta sekaligus Pengatur hidup manusia tak mungkin membiarkan manusia hidup bebas tanpa aturan. Di sinilah perbedaan mendasar manusia dengan makhluk lainnya.

Allah telah memberi kita akal untuk memahami dan menerapkan ayat-ayat-Nya. Berbeda halnya dengan hewan, tak terdapat akal pada penciptaan mereka. Dan akal inilah yang menjadikan manusia disebut sebagai makhluk termulia. Sebab, dengan akalnya ia mampu membedakan hal baik dan buruk.

Manakala standar baik dan buruk dikembalikan pada penilaian manusia, maka berapa banyak hukum yang dihasilkan dari penilaian tersebut? Sebab, nilai manusia itu relatif. Tidak sama dan berubah-ubah tergantung selera. Oleh karenanya, Allah sudah memberi rambu-rambu yang wajib ditaati berupa syariat Islam.

Maka dari itu, Allah turunkan Alquran sebagai pedoman hidup manusia. Dengan Alquran itulah baik dan buruk itu dinilai. Perbuatan baik dan buruk dinilai mengikuti perintah dan larangan Allah, bukan akal dan nafsu manusia saja. 

Bagi seorang muslim, hukum syariat merupakan panduan praktis yang lengkap untuk mengatur seluruh aktivitasnya dalam kehidupan nyata. Dorongannya semata berharap pahala ibadah di sisi Allah, bukan hanya meraih keuntungan materi. Dia akan melakukan perbuatan yang dianggap baik menurut syariat, dan akan menjauhkan semua perilaku buruk yang dilarang syariat. Jadi, baginya ukuran baik dan buruk itu semata standar syariat, bukan keinginan hawa nafsu, juga bukan hasil kesepakatan manusia.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: