Ada Apa di Balik Fobia Hijab?

Ada Apa di Balik Fobia Hijab?



Oleh: Unie Khansa
(Praktisi Pendidikan)

Berjilbab adalah salah satu ciri muslimah yang taat. Kewajiban berjilbab jelas termaktub dalam Al Quran, surat Al Ahzab:59 yang artinya:
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al- Ahzab [33] : 59).

Bagi setiap muslim diwajibkan untuk taat terhadap semua perintah Allah, salah satunya perintah menutup aurat dengan khimar dan jilbab.  Hal ini agar memudahkan maka ditanamkan  sejak dini.

Namun, sangat mengherankan apabila ada sekelompok orang yang mengkritisinya.Mereka mengkritisi pelaksanaan syariat ini sebagai bukti pengekslusifan terhadap anak (susah bergaul) karena berpakaian yang berbeda dengan yang lainnya.

Inilah salah satu serangan kaum liberal yang diarahkan terhadap ajaran Islam. Pendidikan ketaatan dalam berpakaian dipersoalkan, dianggap pemaksaan dan berakibat negatif bagi perkembangan anak.

Baru-baru ini beredar berita tentang salah seorang feminis muslim dan seorang nara sumber DW Indonesia, yang mengatakan bahwa dia sangat khawatir  anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil.
Beranggapan bahwa si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak dini dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain.

Ini suatu pernyataan yang sangat mengada-ada dan sengaja ingin menunujukkan bahwa memakaikan jilbab sejak dini adalah sesuatu yang buruk.
Selain itu, DW Indonesia memposting sebuah video yang berisikan tentang orang tua perempuan yang sedang mengajari anak perempuan mereka menggunakan jilbab, dan juga harapan dan keinginan orang tua mereka terhadap “identitas” sebagai seorang muslim.

Dalam postingannya DW Indonesia, mencoba mempertanyakan apakah pemakaian jilbab tersebut, atas pilihan anak itu sendiri ? “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?“.
Bahkan untuk memperkuat pernyataan dan pertanyaan mereka, dalam video tersebut disambungkan dengan pendapat beberapa orang psikolog yang justru terlihat lebih berpihak pada postingan dan tujuan DW Indonesia. Dan tidak menyertakan pendapat dari alim ulama dan cendekiawan muslim yang mumpuni. (gelora.co/2020/09)

Motif di Balik Narasi Sesat

Sesungguhnya mereka kaum liberalis feminis ingin menciptakan liberalisme pemikiran umat Islam. Narasi sesat yang kini  gencar disebarkan melalui berbagai media komunikasi dan lembaga pendidikan. Tentunya semua itu  tidak berdiri sendiri ada organisasi yang mewadahi nya berbagai pemikiran sesat ini.

Mereka menciptakan percampuran konsep-konsep asing ke dalam pemikiran dan kehidupan umat Islam sebagai kerancuan berpikir dan  kebingungan intelektual. Mereka yang terhegemoni oleh framework yang tidak sejalan dengan Islam ini, misalnya, akan melihat Islam dengan kaca mata sekuler, liberal dan relativistik.

Sehingga, Islam hanya ada dalam ritual beribadah saja, sedangkan dalam bermuamalah Islam tidak nampak.  Bahkan dalam berpakaian,  berekonomi,  berpolitik, hingga  bernegara Islam tidak boleh ikut campur mengaturnya.

Mereka merusak
syariat Islam dari  berbagai sudut. Dari hal yang mereka anggap biasa, kebiasaan berjilbab, hingga hal-hal yang paling urgen seperti jihad dan khilafah. Mereka tidak akan berhenti dan merasa puas hingga umat Islam mengikuti langkah-langkah mereka.

Mereka ingin menjauhkan muslim dari ajarannya sejak dini sehingga ketika mereka dewasa, mereka sudah terbiasa melanggar hukum syariat agama. Akibatnya, seiring berjalannya waktu Islam hanya sebuah nama tanpa syariat. Mereka hari ini semakin masif menggencarkan opininya melalui kebiasaan sejak dini. Wal hasil bisa dilihat korban dari ide feminis liberalis semakin berjatuhan tanpa banyak perlawanan.
Mereka menanamkan kebiasan-kebiasaan buruk pada remaja muslim dengan berbagai cara.

Seseorang yang sejak kecil terbiasa hidup bebas, tanpa aturan akan melahirkan generasi yang tidak memiliki rasa bertanggung jawab, tidak memiliki rasa takut kepada pada Tuhannya. Akibatnya perbuatannya seenaknya, tidak peduli, yang penting dirinya senang dan bahagia.

Sebaliknya, seseorang yang sejak kecil hidup dalam ketaatan beragama maka akan melahirkan generasi yang kuat, tangguh, peduli, dan  bertanggung jawab karena dia tahu bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

Bagaimana sistem khilafah meniadakan serangan - serangan liberal terhadap ajaran Islam

Allah berfirman dalam Al-Quran
Surat Ar-Rum [30] :30
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Selain ayat Quran, Rasulullah saw pun dalam sebuah riwayat pernah berkata, ''Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.''

Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah Swt

Padahal dalam al-Quran Surat Az-Zariyat: 56, Allah menegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan oleh Allah hanya untuk menyembah/mengabdi kepada-Nya.

Untuk itulah, Rasulullah juga memerintahkan kepada kita agar anak keturunan kita taat kepada RabbNya) dengan menyuruhnya mengerjakan salat sejak usia tujuh tahun dan bila berusia sepuluh tahun masih belum melaksanakan salat harus dipukul dengan pukulan yang tidak membahayakan.

Hal tersebut menunjukkan pentingnya pembiasaan pada anak sejak dini agar anak menjadi pribadi yang taat pada aturan dan ketentuan Sang Pencipta.

Jadi, membiasakan anak   muslimah untuk memakai jilbab dan kerudung bukan hanya mengenalkan identitasnya sebagai seorang muslim. Namun juga, menjaga anak berjalan di atas fitrahnya untuk senantiasa taat dan tunduk pada aturan-Nya. Alhasil anak yang terjaga fitrahnya niscaya akan menjadi penyejuk pandangan kedua orang tuanya.

Sungguh berbanggalah dan berbahagialah orang tua yang mampu mengarahkan dan menjaga anak-anaknya di atas fitrahnya. Mengenalkan identitas diri anaknya sebagai seorang muslimsejak dini. Karena sesungguhnya identitas sejatinya adalah sebagai pemimpin umat dan khairu ummah.

Bila setiap keluarga telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi hamba-hamba yang taat dan tunduk patuh pada perintah rabbnya, terciptalah suatu generasi yang rabbani.

Oleh karenanya, hanya di dalam sistem Islam pribadi-pribadi taat sejak awal akan terbentuk. Saatnya bagi kita memperjuangkan sistem Islam kafah yang akan melahirkan generasi yang taat dan berkualitas.

Wallahu a'lam bishshawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: