Islam, Perempuan dan Pandemi

Islam, Perempuan dan Pandemi




Oleh : Keni Rahayu, S. Pd
(Founder Kajian Online Mini SWI)


LH (26) seorang ibu yang tega membunuh anaknya mengaku kesal lantaran korban susah diajarkan saat belajar online (Kompas, 14/9/20).

Di sisi lain, perempuan dieksploitasi perannya demi mendukung ekonomi negara (Kemenkopmk, 15/10/20). Padahal, hari ini kesejahteraan para tenaga kerja disandarkan pada para pengusaha. UU Cipta Kerja sah 5 Oktober lalu di luar kehendak kaum buruh (Bagikanberita, 7/10/20).

Sungguh ironi melihat kondisi perempuan hari ini. Terlebih di masa pandemi, beban terasa semakin bertubi. Padahal, sejatinya Islam sangat memuliakan perempuan. Berikut penjelasannya:

Pertama, Islam memuliakan perempuan sebagai hamba. Pada dasarnya, manusia memiliki kedudukan terbaik di sisi Allah sebagai sebaik-baik penciptaan. Hal ini dijelaskan dalam QS. At Tin ayat 4.

Kedua, Islam memuliakan perempuan sesuai fitrahnya. Fitrah perempuan tak berbeda dengan laki-laki. Di mata Allah, perempuan yang mulia adalah perempuan yang bertakwa di sisi-Nya. Sehingga, tak ada stereotip miring bahwa perempuan mulia jika ia bisa menyaingi lelaki.

Bahkan Rasul sangat memuliakan perempuan. Disebutkannya "ibu.. Ibu.. Ibu." Sebanyak tiga kali baru kemudian "ayah", ketika ditanya pada siapa seorang anak harus mengabdi.

Kejelasan konsep peran laki-laki dan perempuan dalam Islam juga memudahkan perempuan berkiprah dalam karirnya. Sehingga bukan masalah ketika ia ingin berkarya di luar rumah, selama izin suami dikantonginya.

Ketiga, Islam mempersiapkan pendidikan terbaik bagi perempuan. Pendidikan dalam sistem pendidikan Islam dijadikan asas berpikir manusia. Asas berpikir ini kemudian membentuk perilakunya. Kedua asas berpikir dan berperilaku membentuk pola sikap manusia. Juga pemahamannya terkait fitrah perempuan dipegang teguh sebagai bekal hidupnya.

Fasilitas pendidikan dalam Islam disediakan penuh untuk para peserta didik, terlebih di masa pandemi. Kurikulumnya jelas dan berdasar aqidah Islam. Sarana prasarananya mendukung. Target belajar juga jelas, mencetak siswa berkepribadian Islam. Semua fasilitas pendidikan diberikan gratis, atau minimal terjangkau bagi seluruh rakyat.

Hal ini tentu sangat membantu perempuan memenuhi perannya. Sebagai hamba dan istri, ia paham tugasnya. Sebagai ibu, ia terbantu dalam mendidik buah hati, baik dalam moril maupun materil.

Jika besar dukungan terhadap perempuan seperti ini, tak akan ada kisah ibu memeras keringat demi anaknya bisa beli smartphone dan kuota. Bahkan naudzubillahi min dzalik, ibu tak akan hilang akal sampai tega membuhuh anaknya tersebab "susah" diajari sekolah daring di rumah.

Keempat, perempuan memiliki peran strategis dalam kehidupan berumahtangga. Islam memuliakan perempuan dengan memberi gelar rabbatul bayt dan madrosatul ula. Kedua gelar ini sangat urgen. Keberhasilan generasi dipertaruhkan di pundaknya.

Rumah yang teratur dan tercukupi kebutuhannya terealisasi dalam bentuk fisik maupun kurikulum yang berlaku di dalamnya. Suami adalah pembuat kurikulum, dan istri sebagai eksekutor lapangan. Sinergi suami dan istri yang paham tugas masing-masing akan melahirkan rumah tangga yang berhasil.

Sebagai sekolah pertama anak-anaknya, peran ibu sungguh sangat ditunggu. Lahirnya para ulama diawali dengan ibu shalihah yang mendidik, merawat, dan mendoakannya. 
Maka, pemahaman yang benar pada perempuan (yang diajarkan Islam) memengaruhi keberhasilan keluarga.
Keluarga-keluarga hebat melahirkan masyarakat yang luar biasa. Masyarakat luar biasa menjadi asas lahirnya negara berperadaban tinggi. Semua hanya bisa digapai dengan pemikiran yang tinggi, yang lahir dari pencipta alam semesta. Ialah Islam, dari Allah ta'ala.

Kelima, Islam menjamin kebutuhan rakyatnya, terealisasi melalui tersedianya lowongan kerja bagi para suami, kebutuhan hidup terjangkau, dan sistem sosial yang terjaga. Terlebih di era pandemi, negara wajib hadir menjamin semua kebutuhan rakyat, meski semua harus di rumah memutus rantai pandemi.
Jika ini terpenuhi dengan baik, maka perempuan tak perlu lagi memeras otak membanting tulang tersebab peran ganda yang harus dilakukannya. Tugas sebagai istri dan ibu tak lagi terpinggirkan sebab harus membantu suami memeroleh sesuap nasi.

Terakhir, perempuan dan dakwah. Islam memuliakan perempuan dengan amanah dakwah. Hal ini tentu dalam rangka membangun masyarakat Islam dan peradaban dunia.
Semua perilaku Islam memuliakan perempuan tak bisa diraih jika Islam dijadikan keyakinan dan standar berpikir masyarakat semata. Islam harus tegak dalam bingkai institusi, menaungi perempuan dan penduduknya. Institusi itu tak asing dengan istilah Khilafah Islamiyah.

"Perempuan adalah tiang negara. Jika baik perempuan, maka baik negaranya. Jika tak baik, maka tak baik pula negaranya". Wallahua'lam bishowab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: