Kaliankah Generasi Tik Tok itu?

Kaliankah Generasi Tik Tok itu?



Oleh: Dhiya Sabrina


Masih ingat kan ya Bowo Tik Tok? Remaja yang terkenal dengan aksi bermainnya di Tik Tok kala itu, mungkin saat ini dia sudah insaf dalam hal bermain Tik Tok. Tapi apa yang terjadi dengan remaja saat ini? Bukan hanya remaja, mulai anak-anak sampai orang tua laki-laki dan perempuan, semuanya terjangkit demam Tik Tok. Apalagi dimasa pandemi ini demi memanfaatkan waktu luang di rumah, banyak remaja yang mengunduh aplikasi ini untuk menyalurkan bakat mereka atau hanya sekedar menghilangkan kejenuhan saja.

Fenomena aplikasi Tik Tok memang tidak hanya digunakan untuk bersenang-senang atau berjoget saja. Saat ini banyak perusahaan yang memanfaatkan aplikasi ini untuk keperluan bisnis. Bahkan di salah satu universitas swasta di Surabaya mewajibkan mahasiswa barunya untuk membuat video perkenalan lewat aplikasi ini. Memang jamannya tik tok sudah berbeda. Dulu dihujat sekarang di puja. 

Fenomena ini semakin menjamur saat banyak perusahaan dan sekolah memberlakukan segala aktifitasnya dirumah. Banyak remaja  yang membuang kejenuhan dengan menyalurkan emosinya lewat aplikasi ini. tapi tak jarang mereka yang bermain Tik Tok bertujuan untuk menaikkan viewers dan followers saja, tanpa mempedulikan hal lain. 

Di kalangan remaja muslimah sendiri, makin kesini makin miris saja tingkah lakunya. Tidak sedikit dari remaja muslimah yang juga ikut berjoget meliak-liukkan tubuhnya diiringi dengan lagu rancak dan bergairah. Tak jarang ada yang membuka aurat atau malah tabaruj. 

Fenomena ini semakin menyusahkan kaum laki-laki, di satu sisi melihat aurat perempuan itu dilarang dalam Islam. Bahkan laki-laki di haruskan menundukkan (menjaga) pandangannya. Namun disisi lain, video  perempuan berjoget Tik Tok berseliweran diberbagai media sosial. Rasulullah saw. bersabda, “Aku tidaklah meninggalkan cobaan yang lebih membahayakan bagi laki-laki selain dari (cobaan berupa) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perlu dipahami oleh wanita, bahwa dirinya adalah panah-panah beracun iblis yang siap meluluhlantakkan hati para laki-laki. Wanita juga mampu menjadi sumber fitnah dan sumber dosa bagi laki-laki. Oleh sebab itu wanita dianjurkan untuk selalu berhati-hati dlam setiap tindakannya. Allah memerintahkan kepada wanita untuk selalu menjaga izzah dan iffahnya. Izzah adalah harga diri dan kehormatan wanita sebagai seorang muslimah. Sedangkan iffah adalah menahan atau cara menjaga kehormatan itu sendiri. 

Seorang muslimah dapat menjaga diri dengan menggunakan malu sebagai pakaian. Sebab malu adalah sebagian dari iman. “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari para Nabi adalah “jika engkay tidak malu, maka berbuatlah sesukamu” (HR Bukhari).

Apa yang terjadi dengan kaum muslim saat ini tidak jauh karena gaya hidup yang mereka anut adalah gaya hidup kaum liberal. Yang menjunjung kebebasan tanpa batas hingga kebablasan. Fenomena seperti ini terjadi akibat kaum muslim tidak lagi paham dengan ajaran Islam secara benar. Bukan hanya permasalahan pergaulan saja yang tak lagi dipahami, namun secara bernegarapun sudah menyimpang jauh. 

Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah tahun 1924 negara sudah tak lagi menjadikan Islam sebagai asas pendidikan. Ajaran islam kaffah semakin dijauhkan dari kaum muslim dengan berbagai upaya. Islamophobia semakin digaungkan, monsterisasi ajaran Islam menjadikan milenials saat ini enggan mempelajari dan dekat dengan Islam. 

Menjadikan sekulerisme sebagai jalan hidup semakin memperburuk kondisi umat Islam. Sebab standrar kehidupan dan kebahagiaan mereka diukur dengan banyaknya kekayaan yang didapat, tingginya pamor dan keenaran didunia, bagusnya paras dan tubuh serta standar duniawi lainnya.  

Parahnya institusi terkecil yang dimiliki kaum muslim dalam menjaga generasi yaitu keluarga sudah tak lagi paham banyak tentang bagaimana mencetak generasi yang berkepribadian Islam. Sedangkan dalam dunia pendidikan pelajaran agama juga tetap berkuat pada ibadah ritual saja. Ketidakpahaman berjamaah inilah yang membuat banyak muslimah mengikuti arus pergaulan tanpa rasa malu. 

Padahal kita semua paham bahwa segala perilaku kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat. Oleh sebab itu mari kita senantiasa mempelajari Islam secara kafah. Agar kelak kita juga mampu mendidik anak cucu kita menjadi sosok muslim yang berkepribadian Islam.  

Wallahu a'lam


Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: