Layakkah Korean Wave Menjadi Panutan?

Layakkah Korean Wave Menjadi Panutan?




Oleh : Yuni Setyarsih
Pendidik generasi-member AMK


Bicara Korea, identik dengan K-pop dan dramanya. Hebatnya, sampai membuat semua lapisan tertarik hingga menjadi candu. Demam Korea tak lagi  mengenal usia, jenis kelamin dan juga tak peduli dengan golongan. Mulai dari artis, ibu rumah tangga, remaja hingga anak-anak. Mereka banyak tergiur dengan kemolekan rupa artisnya. 

Bahkan tidak sedikit para ibu yang rela mengabaikan pendampingan belajar untuk anaknya demi menonton drama Korea. Sementara remaja putri berusaha merubah gaya pribadi seperti artis yang diidolakan. Baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mulai dari gaya pakaian, rambut, perawatan wajah bahkan makanannya pun diikuti. Semuanya dilakukan asal berbau Korea.

Bagi stasiun TV, itu adalah lahan yang dapat mendatangkan keuntungan. Alhasil mereka pun mendukung fenomena itu. Membuat slot di jam-jam utama, jam dimana seharusnya para orangtua berkomunikasi dengan anggota keluarga. Belum lagi masifnya demam Korea di media sosial. Segala sesuatu yang ke-Korea-an mudah didapat. 

Para generasi berebut mendapatkan mimpi-mimpi semu yang dibawa melalui dunia hiburan. Generasi kehilangan arah dan jati dirinya. Hanya mampu membebek dan meniru budaya asing. Mereka tak pernah berpikir bahwa dirinya dijadikan sasaran dan konsumen bagi budaya asing. Bahkan ikut bangga, meski hanya menjadi penikmat.

Tak berhenti sampai di situ, pemerintah pun seakan menyambut baik. Melalui pernyataan yang disampaikan Wakil Presiden RI dalam peringatan 100 tahun kedatangan bangsa Korea di Indonesia. Beliau berharap pemuda-pemuda Indonesia  menjadikan artis-artis Korea sebagai inspirasi dalam rangka mengenalkan Bangsa dan Negara ke dunia. Selain itu ketertarikan warga Indonesia  pada Korea bisa meningkatkan kerjasama antar dua negara tersebut. Lagi-lagi hal tersebut hanya dipandang dari kacamata keuntungan ekonomi, tanpa memandang aspek yang lainnya.

Masalahnya adalah kondisi masyarakat kita ini sudah sakit. Hal ini dikarenakan mereka dipaksa hidup dan berfikir menyimpang dari agama. Sementara pemuda itu juga bagian dari masyarakat.  Alih-alih menginspirasi dan bisa membuat bangsa ini terkenal. Faktanya justru terjajah dengan budaya dan peradaban asing. 

Bangsa ini bangga ketika bisa mendatangkan konser artis Korea. Tanpa sadar dipaksa mengikuti gaya hidup, pemikiran dan pandangan hidupnya. Kenapa dipaksa? Ya karena kondisi dan suasana masyarakat dibuat mendukung, sehingga mau tak mau harus mengikuti.

Bagaimana tidak, jika setiap hari yang kita lihat di TV, hanya menyajikan berbagai pernak-pernik Korea. Satu kecenderungan yang ikut berperan adalah masyarakat selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai jabatan yang juga notabene seorang ulama. Sehingga hal ini memperkuat eksistensi pemikiran ataupun pandangan yang salah tersebut. 

Jika diibaratkan seperti ikan yang dipaksa hidup di daratan. Maka yang ada si ikan harus berusaha keras untuk tetap hidup.

Sama seperti kaum muslim yang saat ini hidup di sistem sekuler. Mereka harus bersusah payah untuk memenuhi perintah agamanya. Sementara di satu sisi untuk meninggalkan apa yang dilarang saja tidak bisa. Semua itu karena kerusakan sistemik.

Maka tak heran jika sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal pemikiran kita tentang kebahagiaan dan tujuan hidup pun bergeser mengikuti pemikiran mereka. Masyarakat muslim tak lagi memandang adanya ridha Allah. Namun malah menjadikan standar banyaknya materi sebagai yang utama. Tujuannya hanya satu bagaimana memenuhi keinginan hawa nafsunya.

Lantas bagaimana seharusnya peran negara? Untuk memperbaiki masyarakat yang sakit, negara harus ikut andil. Tidak bisa hanya mengandalkan individu atau masyarakatnya saja. Ketiganya harus sejalan seiring. Dalam hal ini negara harus menerapkan aturan yang sesuai dengan pandangan hidup kaum Muslimin. 

Dengan adanya aturan yang sama dengan pandangan hidupnya maka kaum muslimin tidak lagi seperti ikan yang hidup di daratan. Mereka bisa dengan aman, nyaman menjalankan apa yang diatur dalam agamanya. Suasana yang dibangun dalam masyarakat pun  penuh kedamaian dan ketenteraman. Yang perlu dicatat adalah aturan tersebut juga bisa dipakai oleh pemeluk agama selain Islam. Di samping itu aturan itu dapat membentuk ketakwaan individu yang sangat dibutuhkan untuk membentuk masyarakat yang sehat.

Meskipun demikian masyarakat sendiri juga harus terlibat sebagai pengontrol individu dan masyarakat sendiri dengan melakukan aktivitas amar makruf nahyi munkar. 

Ketika masyarakat itu sehat, sehat dalam artian hidup pada sistem dan aturan yang sesuai. Maka individu-individu yang ada di dalamnya juga sehat termasuk pemudanya atau generasi mudanya. Secara otomatis itu akan berimbas juga pada apa yang menjadi pola pikir dan sikapnya.

Para pemudanya akan berpikir kreatif tanpa harus memerlukan inspirasi dari negara lain. 

Mereka berlomba-lomba memikirkan apa yang mampu dilakukan untuk mengembangkan dan memajukan negaranya.

Berbagai riset dan pengembangan teknologi baru terus mereka hasilkan. Negara mendukung mereka dengan  menyediakan fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan. Bukan suatu hal yang mustahil jika kelak negara kita menjadi kiblat bagi negara lain. Dengan demikian secara tidak langsung juga membantu meningkatkan pendapatan dan perekonomian negara. 

Sebagaimana hal itu pernah terjadi pada masa  kekhilafahan di bawah pemerintahan kekhalifahan Abbasiyyah. Lebih tepatnya ketika Harun ar-Rasyid memegang tampuk pemerintahan. Saat itu negara Islam berada dalam puncak kejayaan, tidak hanya wilayahnya yang luas tetapi juga kemajuan ilmu pengetahuan dan peradabannya juga terkenal.

Banyak buku-buku hasil karya ilmuwan-ilmuwan yang diterjemahkan ke ragam bahasa. Hal ini menjadi bukti bahwa ilmuwan-ilmuwan negeri Islam diakui oleh negara lain. Pengembangan berbagai disiplin ilmu pun terjadi. 

Khalifah pun terus mendukung dan memberikan fasilitas berupa perpustakaan raksasa Baitul Hikmah, dengan koleksi buku-bukunya mencapai ribuan. Baitul Hikmah juga menjadi pusat kajian ilmu  dan rujukan ilmu pengetahuan bagi negara lain.

Baghdad kala itu sebagai ibukotanya  sangat terkenal dan diakui sebagai negara adidaya disaat negara-negara barat tertidur pulas di alam kegelapan. 
Wallahu a'lam bishshawab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: