Makan Bajambah di Minangkabau

Makan Bajambah di Minangkabau




(Oleh :  Ummu SafiaUwais)

Minang, salah-satu suku di Indonesia yang terkenal kental dengan Islamnya. Masyarakat Minang 100 persen menganut agama Islam. Jika murtad, maka otomatis sudah keluar dari suku Minang. Karena prinsip utama yang mengatur adat minang adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (adat  ditopang oleh syariat Islam, syariat ditopang oleh Al-Quran dan Hadist).

Sebagian besar aspek kehidupan masyarakat Minang diatur oleh adat. Misalnya saja adab bertamu, tata cara pernikahan, adab dalam pergaulan dan lainnya. Adab-adab ini tentunya selaras dengan aturan-aturan Islam. Begitu juga dengan aspek kehidupan yang berhubungan dengan diri sendiri. Seperti adab makan, adab ketika duduk dan berjalan.  Adat Minang juga punya aturan tersendiri. Kali ini penulis ingin membahas tentang budaya  makan Bajambah di Minangkabau. 

Makan bajamba adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dengan cara duduk bersama-sama di dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan. (Wikipedia Indonesia). Tradisi ini biasanya dilakukan pada acara pernikahan, hari besar agama Islam dan upacara adat. Makanan yang disajikan adalah nasi, lauk pauk, buah dan makanan penutup. untuk lauk pauk disajikan masakan khas Sumatera Barat seperti rendang daging, gulai kambiang, pergedel kentang dan lauk lainnya. Masakan ini dimasak bersama-sama oleh kaum ibu. 

Hidangan pada makan bajambah diletakkan ditengah-tengah. Tamu duduk dilantai dengan posisi mengelilingi makanan. Orang tua harus didahulukan mengambil makanan, baru diikuti oleh yang lebih muda. Makanan disantap dengan tangan, bukan dengan sendok dan garpu. Pada saat makan, dilarang mengambil makanan yang jauh dari jangkauan. Disarankan untuk mengambil makanan terdekat saja. Mengunyah makanan tidak boleh mengeluarkan suara cecap. Begitupun saat minum, sebaiknya diteguk tanpa suara dan tidak langsung dihabiskan dalam satu waktu. Orang yang melanggar adab-adab ini biasanya disebut “indak baradaik”(tidak punya etika).

Adab-adab dalam makan bajambah diatas punya filosofi tersendiri. Duduk bersama dilantai memiliki makna kesederhanaan dan kebersamaan. Semua orang duduk dilantai tanpa memandang status sosial. Kaya, miskin, tua, atau muda semuanya duduk sama rata di lantai. Ajaran Islampun demikian. Islam mengajarkan kesederhanaan kepada pemeluknya. Rosulullah dengan statusnya sebagai utusan Allah tidak pernah meminta makanan atau tempat duduk khusus untuk makan. Semuanya sama tanpa memandang status sosial. Baik itu sahabat-sahabat dekat Rosulullah maupun Arab Badui. Hal ini pernah diungkapkan oleh Aisyah RA “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan bersama enam orang sahabatnya, lantas Arab Badui datang lalu memakan makanan beliau dengan dua suapan.” (HR. Tirmidzi no. 1858)

Dalam makan bajambah ada sekelompok orang yang duduk melingkar. Dianjurkan untuk mengambil makanan yang terdekat saja. Filosofinya adalah menumbuhkan kebiasaan berbagi lewat makanan. Kita dituntut untuk tidak rakus dan memperhatikan anggota yang lain. Mengambil makanan sekedarnya saja. Selain itu makan bajambah tidak menggunakan sendok dan garpu. Melainkan makan dengan tangan kanan. Sama seperti yang disunnahkan Nabi SAW. 

Sahabat Nabi yang bernama Umar bin Abi Salamah RA  pernah bercerita bahwa Rasulullah SAW menegurnya terkait adab makan. Umar bin Abi Salamah RA berkata,
“Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ghulam, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah cara makanku setelah itu. (HR. Bukhari & Muslim)

Tetapi sekarang budaya makan bajambah sudah berubah seiring dengan berubahnya zaman. Masuknya budaya Eropa mengikis perlahan budaya ini. Misalnya pada acara pernikahan. Cara penyajian makanan dipesta pernikahan sekarang kebanyakan dengan metode prasmanan. Metode ini diadopsi dari budaya Prancis. Tamu mengambil nasi dan lauk sebanyak yang mereka suka. Kemudian dibawa ke meja makan yang sudah disediakan tuan rumah. Makanan disantap dengan sendok dan garpu. Karena itu dianggap lebih kekinian daripada makan dengan tangan. 

Semoga budaya makan bajambah bisa dilestarikan lagi. Karena dengan melestarikan budaya ini berarti kita melestarikan syariah Islam. Jangan tertipu budaya-budaya luar. Karena bisa jadi budaya yang dianggap kekinian hakikatnya semakin menjauhkan kita dari Islam.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: