Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Pemuda Penggerak Perubahan

Selasa, 20 Oktober 2020



Oleh: Durothul Jannah
(Ibu Rumah Tangga)

Jakarta-Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menyatakan akan menggelar demo menolak Omnibus Law Cipta Kerja di Istana Merdeka hari ini. BEM SI memperkirakan 5.000 mahasiswa akan turun aksi ke Istana.

Adapun pengusaha merespons langkah mahasiswa yang akan menggelar demo menolak Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker). Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, UU 'Sapu Jagat' ini dibuat untuk menciptakan lapangan kerja yang manfaatnya bisa dirasakan para mahasiswa. Sementara mahasiswa setelah lulus tentu membutuhkan pekerjaan. Oleh karena itu ia heran bila mereka menentang UU Ciptaker. "Mahasiswa itu kan pencari kerja nantinya. Jadi ini kan kita lakukan untuk mereka juga gitu supaya lapangan pekerjaannya ada. Kok malah didemo. Jadi kadang-kadang kita juga nggak mengerti nih tujuannya apa kok bisa ada demo-demo mahasiswa seperti ini," ujar Shinta. (detik.com, 8/10/2020).

Dia kembali menekankan bahwa tujuan dari UU Ciptaker adalah penciptaan lapangan kerja. Jika tidak ada lapangan pekerjaan, justru mahasiswa yang sudah lulus sulit mendapatkan pekerjaan. "Jadi ini mereka nanti setelah lulus mau kerja dimana kalau nggak ada kerjaannya?", sebutnya. 

Jika alasan mahasiswa melakukan demo karena memperjuangkan perlindungan buruh, menurut Shinta UU Ciptaker sudah melakukan itu. Memang, dirinya menilai bahwa UU Ciptaker tidak bisa memuaskan semua pihak, tak hanya kaum buruh tapi juga pengusaha. Namun secara menyeluruh tujuannya memang untuk bisa menyiapkan lapangan pekerjaan. Jadi untuk mahasiswa yang notabene mencari pekerjaan, justru (UU Ciptaker) baik untuk para pencari kerja.

Begitu pula dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani yang juga berpendapat sama. Rosan menjelaskan saat ini tingkat pengangguran di Indonesia masih jadi pekerjaan rumah. Ditambah setiap tahunnya ada penambahan pengangguran dari angkatan kerja baru yang salah satunya adalah lulusan perguruan tinggi. "Yang ingin saya garisbawahi kepada teman-teman mahasiswa adalah ada 2 sampai 2,4 juta angkatan kerja baru setiap tahunnya. Ini juga yang kita pikirkan, yang kita coba carikan solusinya dengan apa? Ketika mereka harus bekerja, lantas kita harus apa? Ya harus ada perekonomian dan investasi yang bertambah dan makin berkembang, baik secara nasional maupun secara luar negeri," paparnya.

Menurutnya, Indonesia juga masih membutuhkan Penanaman Modal Asing (PMA) untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Sementara PMA di Indonesia masih relatif kecil dan tertinggal dibandingkan negara lain. "Jadi penanaman modal asing dibandingkan dengan PDB kita, memang masih tertinggal. Jadi kita memang masih perlu investasi dari luar untuk menciptakan lapangan pekerjaan ini," tambah Rosan. 

Memang lain kepala, lain pandangan dan pendapat. Pandangan di atas adalah realita yang patut diduga bahwa ada proses pengkerdilan potensi intelektual muda yang kita sebut mahasiswa untuk memikirkan kemaslahatan. Bisa juga mahasiswa sebagai penggerak perubahan di mandulkan geraknya dan mengarahkan perubahan ini supaya perubahannya tidak melahirkan perubahan mendasar, demi memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan.

Padahal pemuda memiliki potensi dari berbagai aspek fisik maupun intelektual, kemampuan luar biasa dalam berargumen.

Dalam catatan sejarah, sejak dulu para nabi dan rasul telah diutus untuk menyampaikan wahyu Allah Swt. dan syari’at-Nya kepada umat manusia. Para rasul itu adalah orang-orang terpilih dari kalangan pemuda. Nabi Ibrahim A.s., misalnya, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, adalah pemuda yang sering berdebat dengan kaumnya, menentang peribadatan kepada patung-patung yang tidak dapat bicara, memberi manfaat dan mudharat (QS Al-Anbiya:60-67).

Sejatinya, sejarah ini adalah bekal bagi setiap pemuda untuk tetap konsisten memperjuangkan perubahan hakiki.

Wallahua’alam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar