Rekonstruksi Pelajaran Sejarah untuk Kejayaan Negeri

Rekonstruksi Pelajaran Sejarah untuk Kejayaan Negeri



Oleh: Desi Purnamasari, S.E

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana melakukan penyederhanaan kurikulum pendidikan di Indonesia. Rencana perubahan tersebut tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tanggal 25 Agustus 2020.

Sebelumnya disebutkan, salah satunya adalah rencana penghapusan mata pelajaran sejarah bagi siswa-siswi di SMK. Sementara pada pelajar SMA, sejarah akan dijadikan sebagai mata pelajaran pilihan saja, sehingga sejarah bukan lagi mata pelajaran wajib yang harus diambil oleh siswa. 

Seperti lansir dari Harian Kompas, Jumat (18/9/2020), draf ini sudah beredar di kalangan akademisi dan para guru, ini yang kemudian menjadi polemik di masyarakat. 

Mata pelajaran sejarah direvisi dengan alasan penyederhanaan kurikulum pendidikan, ini akan diterapkan pada maret 2021. 

Masyarakat perlu paham bahwa tindakan pemerintah ini justru berefek dan bahkan berbahaya karena sebagai bentuk menyampingkan sejarah hingga adanya usaha negatif dalam menghilangkan memori ingatan tentang kisah jasa-jasa pejuang dari generasi ke generasi berikutnya. 

Tentu juga menyadari bahwa sejarah memiliki arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Karena bila negeri ini mau bangkit menyongsong kejayaan mestinya bersiap merekonstruksi pelajaran sejarah. Oleh karena itu tidak berlebihan jika muncul anggapan bahwa memang ada upaya mengubur dan mengabur sejarah terutama di nusantara.

Sejarah (tarikh) adalah pengetahuan yang termasuk kategori tsaqofah. Hal ini sangat dipengaruhi oleh akidah dan pandangan hidup tertentu. Pengetahuan sejarah juga merupakan informasi politik yang sangat penting, baik sejarah tentang umat Islam maupun  umat lain.

Tentu penting memahami posisi sejarah terutama dalam Islam, sebagaimana yang disampaikan Ustadz Muhammad Ismail Yusanto. Mempelajari sejarah atau kisah sangatlah penting. Didalamnya ada ibrah atau pelajaran. Hanya saja harus diingat, sejarah adalah realitas tangan ke dua (second hand reality).  

Sejarah sangat bergantung pada siapa yang merumuskan atau menuliskan, juga atas dasar kepentingan apa sejarah itu ditulis. Karena itu sejarah sesungguhnya sangat bergantung pada lingkup politik yang dominan saat sejarah itu ditulis. Tergantung siapa yang kuasa.

Saat ini misalnya penghapusan khilafah dari dunia pendidikan sudah terjadi. Mata pelajaran yang berkaitan dengan PKI juga telah dihapus sejak tahun 2008, padahal apa yang salah dari khilafah. Khilafah ajaran Islam, begitu juga dengan jihad. Terkait kekejian PKI pun seharusnya tidak boleh dihapuskan.

Islam sendiri punya cara pandang khusus tentang bagaimana sejarah dan bagaimana pengajaranya. Diantara sejarah itu ada ibrah dan pelajaran yang bisa diambil untuk masa kini dan bagi kehidupan yang akan datang.

Terkait kisah masa lalu, Allah Swt berfirman (yang artinya): “sungguh pada kisah-kisah mereka (para nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. Yusuf [12] :111). 

Berikut beberapa perkara penting yang harus dipahami dalam memberikan pengajaran sejarah peradaban Islam kepada generasi muda islam. Pertama, merujuk pada sumber-sumber terpercaya dan diakui validasinya. Ini agar informasi sejarah harus aman dari kisah-kisah bohong atau berita-berita dusta tanpa fakta. Dalam sejarah Islam yang paling kuat adalah sirah Rasulullah saw yang tercantum dalam hadis-hadis beliau. 

Penting juga memisahkan antara fakta sejarah yang berfungsi untuk menunjukkan Islam sehingga melahirkan sebuah peradaban dengan nas-nas syariah sebagai sumber penggalian hukum. Tidak boleh ada pencampuran diantara keduannya. Posisi fakta sejarah tidak bisa dijadikan rujukan hukum (pembahasan terkait permasalahan ini disampaikan oleh Syaikh Taqiyuddin an- Nabhani dalam kitab beliau: Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah, jilid I, bab Sirah dan Tarikh).

Kedua, penyiapkan konten pengajaran sejarah peradaban Islam. materi yang tidak boleh terlewatkan disampaikan adalah: Sirah Rasulullah saw. Beliau uswatun hasanah umat islam (QS.al-Ahzab[33]:21). Teladan utama dalam masalah kehidupan. Tentu apa-apa yang dibawah Islam dan Rasul bukan pelajaran yang mengandung kekerasan sehingga dengan menelaah sirah Nabi saw, segalanya semakin gambling Islam lah agama yang sempurna mengatur setiap aspek kehidupan menyangkut masalah ekonomi, politik social budaya, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Baik dalam keadaan damai maupun saat terjadi konflik atau peperangan dengan kaum kafir. Semua berlangsung sesuai aturan syariah.

Dengan demikian kita bercermin pada sejarah. Bercermin pada sejarah masa lampau tersebut. Lalu berjuang untuk Islam, umatnya, dan umat manusia. Bukan malah sejarah dibelokkan apalagi mencoba untuk menutupi dan menghapuskan.

Wallahu'alam

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: