Taubat dan Sedekah, apakah Cukup untuk Menyelesaikan Covid-19?

Taubat dan Sedekah, apakah Cukup untuk Menyelesaikan Covid-19?




Oleh : Ummu Amira Aulia Amnan, Sp.


Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubatJokowi juga berharap masyarakat memperbanyak sedekah. Sebab, banyak orang yang keadaannya sulit di tengah pandemi."Semoga Allah Subhana Wa Ta'ala segera mengangkat wabah Covid-in dari bumi Indonesia, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan keselamatan kepada rakyat dan negara kita," tuturnya (merdeka.com).
Pertumbuhan seluruh negara yang biasanya di angka positif kini terkontraksi secara tajam. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus 5,32 persen (kompas.com).

Taubat dan bersedekah merupakan ajaran Islam yang mulia.Taubatan Nasuha dalam bahasa Indonesia berarti tobat yang semurni-murninya, dan merupakan salah satu bentuk tobat yang dianjurkan untuk penganut agama Islam.
Menurut Imam Nawawi ada tiga syarat yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya apabila maksiat yang dilakukan adalah urusan antara manusia dan Allah yaitu 1) meninggalkan perilaku dosa tersebut; 2) menyesali perbuatan yang telah dilakukan; 3) berniat tidak melakukannya lagi selamanya. Shadaqah atau sedekah adalah mengamalkan atau menginfakan harta di jalan Allah dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, dan semata-mata mengharapkan ridha-Nya.

Taubat dan sedekah adalah ajaran Islam yang dianjurkan pada umat Islam. Keduanya adalah amal sholih, dilakukan pada saat ada wabah maupun tidak.

Namun, apabila seruan ini disampaikan oleh kepala negara, yang notabene belum menjalankan solusi maksimal untuk penanganan wabah, maka taubat dan sedekah saja tidak cukup.

Penanganan wabah yang hanya setengah-setengah malah akan menyengsarakan rakyat. Mulai dari wacana new normal yang berkedok mendongkrak perekonomian, sampai manipulasi data kematian Covid-19, adalah sebuah kedzaliman.

*Keberhasilan penanganan Covid 19, Menyelaraskan Sains Teknologi dan Kepemimpinan*

Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).
(Media umat news).

Metode karantina yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bentuk kepemimpinan yang tanggap.
Selain itu, kepemimpinan Rasulullah saat menghadapi wabah, dibarengi dengan penelitian yang cermat terhadap penyakit tersebut. Beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Penanganan ala Rasulullah, sebagai kepala negara daulah islamiyah, merupakan bukti nyata kepemimpinan yang "gercep". Dibarengi dengan kemajuan sains pada zamannya. Itu tidak perlu diragukan lagi.

Penanganan wabah butuh kemampuan negara (terutama kas yang kuat), social trust (dari masyarakat) dan leadership yang mumpuni. Apabila kas negara saja minus, bagaimana pemerintah akan memberikan solusi penanganan wabah?

Ada banyak yang harus dibenahi oleh pemerintah. Seruan yang pas adalah kembali pada syariat Islam yang kaffah. Melepaskan diri dari cengkeraman kapitalisme. Bukan malah sibuk memerangi ulama, mencap pengemban dakwah dengan radikal, dan seterusnya.

Islam kaffah adalah solusi bagi dunia, untuk menyelesaikan wabah ini. Kembali pada hukum Alloh SWT adalah jalan terbaik untuk manusia. Wallahu a'lam bisshowab. (Tulungagung, 3 Oktober 2020).
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: