Taubat Nasional Mengatasi Corona?

Taubat Nasional Mengatasi Corona?



Oleh : Anggia Widianingrum

Indonesia tampaknya semakin gagap menangani virus Covid-19 yang semakin hari menunjukkan penambahan kasus. Hingga akhir September saja, menurut data nasional yang dihimpun per 30 September 2020 terdapat penambahan 4.284 kasus baru. Terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada bulan Maret 2020,kini berjumlah 287.008 orang. Setelah sebelumnya pemerintah terkesan bercanda dan menganggap enteng virus Covid-19 yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina. 

Namun berbeda kali ini, saat acara pembukaan Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, JawaBarat, sabtu(26/8/2020), Presiden Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah Subhannahu Wa Ta'ala dengan berzikir dan bertaubat. Presiden Jokowi juga berharap masyarakat yang mampu memperbanyak sedekah karena banyaknya masyarakat yang kurang mampu yang terdampak pada sektor ekonomi. 

Sebagai masyarakat yang bertanggungjawab dalam menyikapi kondisi pandemi ini ialah ikut mematuhi aturan protokol kesehatan dengan membatasi pertemuan, memakai masker ketika di luar, sering mencuci tangan, menghindari kerumunan jika dirasa tidak ada urgensinya. 

Sebagai muslim kita tahu bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah Subhannahu Wa Ta'ala. Kita meyakini, dibalik penciptaan alam, manusia, kehidupan, Dia-lah Allah Sang Khaliq yang menciptakan semua yang sifatnya terbatas di alam semesta ini. 
Sebagai orang beriman, tentulah kita tidak boleh berburuk sangka atas segala ketetapan Allah. Kita hanya diminta bersabar dan ber introspeksi diri atas segala dosa dan kesalahan sehingga Allah menurunkan kesulitan ini. Belum lagi dengan sederet permasalahan yang menggelayuti umat seperti kriminal, pergaulan bebas yang menghasilkan kasus L98t dan aborsi, korupsi, kapitalisasi disemua lini kehidupan dan belakangan ini maraknya penistaan terhadap islam dan ajarannya. Na'udzubillah. 

Orang yang ikhlas dan waras tentu bisa meraba kerusakan multidimensi ini. Maka kita sebagai manusia biasa, sangat tidak berlebihan jika hal tersebut kita iringi dengan taubatan nasuha sebagai bentuk pengakuan kelemahan diri serta sebagai bentuk ketaatan kita kepada Sang Pencipta. Karena tiada suatu bencana melainkan teguran agar kita kembali pada aturan Sang pemilik dan pengatur kehidupan. 

ظهر ٱلفسد فى ٱلبحر بما كسبت أيدى ٱلناس ليذ يقهم بعض ٱلذى عملوا لعلهم ير جعون
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ".
[QS. Ar-Rum [30] :41]

Seperti perkataan Khalifah Umar bin Khaththab ra, ketika ditanya tentang adanya daerah yang nyaris hancur padahal sudah dibangun kokoh dan berkembang. Maka Khalifah Umar pun menjawab " Jika para pembuat dosa lebih hebat daripada orang-orang yang baik di daerah itu, kemudian pemimpin dan tokoh masyarakatnya adalah orang-orang munafik".

Tentu saja disini kita tidak akan membahas perbuatan Allah. Melainkan perbuatan manusia yang masih dalam konteks wilayah yang dikuasainya/diusahakannya.
Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk berzikir mengingat Allah dan bertaubat mendekatkan diri. 

Lalu, apa makna berzikir dan bertaubat tersebut? Apakah hanya terbatas pada ibadah di ranah pribadi saja? Seolah-olah ber-uzlah mengasingkan diri dari aktivitas dunia dan tata kelola kepemimpinan dan pe-riayahan umat? 
Karena setiap diri kita adalah seorang pemimpin, dan seorang pemimpin umat adalah pelayan bagi umat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dihadapan pengadilan Allah. 

Islam mengajarkan, bahwa dunia ini adalah wasilah menggapai syurga. Islam dan kepemimpinan juga tidak dapat dipisahkan. Mengurus urusan umat dengan hukum yang telah Allah turunkan secara kaffah, itulah cara mengingat Allah dan sebagai wujud ketaatan seorang hamba. Bukan mengambil aturan islam sebagian-sebagian saja seperti ibadah mahdhoh, pernikahan, talak, waris namun dalam berekonomi menerapkan sistem ribawi, dalam kehidupan menerapkan liberalisme sebagai HAM, demokrasi yang me-nuhankan aturan buatan manusia. Alih-alih ingin menyelesaikan masalah, justru membuka keran masalah baru. 

Sebagai kaum muslimin, sudah sepatutnya kita bangga memiliki aturan yang langsung bersumber dari Sang Khaliq. Bangga dengan syi'ar-syi'ar Islam, bangga dipuji Allah sebagai Khairu Ummah. Bukan malah takut, bahkan membenci sebagian hukum Allah. Malah banyak yang ikut-ikutan melabeli ekstrimis, Radikal pada para pengemban dakwah Syariah dan Khilafah. Yang notabene agenda Islamophobia yang terus dipropagandakan AS dan sekutunya. 

Keteladanan Khalifah Umar bin Khaththab ra saat menghadapi pandemi patut dipertimbangkan. Pada masa itu, pandemi amwas melanda Syam.Terjadi perdebatan dikalangan mereka(sahabat) karena perbedaan pendapat. 
Namun Khalifah Umar ra, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Meskipun Ia seorang Khalifah, tetapi ia tetap meminta pendapat dari para ahli di bidangnya dalam mengatasi wabah. Ia juga tahu bahwa seorang pemimpin harus tegas dan tidak menyepelekan suatu masalah. Keputusan yang diambil semata-mata lebih mengutamakan keselamatan nyawa rakyatnya. Maka salah seorang sahabat Abdurrahman bin Auf menyampaikan pendapat bahwasannya ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda " Jika kalian bedada di suatu tempat(yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya".

Strategi ini dapat dijalankan dengan meng karantina wilayah asal pandemi dan melarang orang-orang yang terkena penyakit keluar dari wilayah itu. Membangun pusat-pusat pengobatan dan laboratorium penelitian. Rakyat yang berobat pun mendapat pelayanan gratis dan berkualitas dimasanya. 
Pemerintah juga membebaskan iuran pajak, membangun posko-posko bantuan dari berbagai wilayah untuk disalurkan ke wilayah yang terdampak. Sehingga aktivitas ekonomi bagi warga yang sehat tidak terhenti. Negara benar-benar memposisikan diri sebagai pelindung dan pelayan umat bukan legislator bagi kepentingan pengusaha. Keteladanan kpemimpinan seperti inilah yang diharapkan umat. Dan hanya bisa didapatkan dalam sistem kepemimpinan Islam. 

Ketaatan pemimpin terhadap aturan Allah sajalah yang akan melahirkan para pemimpin besar yang amanah dan mencintai rakyatnya. 
Wallahu a'lam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: