Taubatan Nasuha, Cara Ampuh Akhiri Corona

Taubatan Nasuha, Cara Ampuh Akhiri Corona



Oleh Aning
(Komunitas Muslimah Peduli Bangsa)

PENYEBARAN corona semakin meluas dan meningkat jumlahnya. Fenomena gunung es tampaknya bukan isapan jempol. Dampak yang ditimbulkan juga luar biasa. Bagai teror, wabah ini telah menimbulkan ketakutan warga. Padahal ketakutan dan panik yang berlebihan sangatlah tidak diharapkan sebab dapat menimbulkan dampak ikutan.

Wabah ini tak dapat diatasi dengan tepat tanpa sinergi yang baik antara individu, masyarakat dan negara. Ketiganya harus berjuang bersama dalam menghadapi bencana dengan landasan yang sama dan satu, yakni ketaqwaan kepada Allah.

Bagi seorang muslim, yang beriman kepada Allah, tentunya harus senantiasa mengingat Allah. Memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Segala sesuatu yang Ia ciptakan wajib tunduk pada aturan-Nya.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubat.

"Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta'ala," kata Jokowi saat membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9).

Kepala Negara men­yebut bahwa modal keluar dari wabah ini ada tawakkal, takwa dan mendapat ridla Allah. Tapi kebijakan-kebijakan mereka dalam menangani wabah tidak berpijak pada syariah. Juga tidak ada taubat nasional untuk membuang hukum-hukum buatan manusia yang selama ini menjadi rujukan mengelola bangsa. Apa se­su­ng­guhnya makna takwa yang bisa membawa pada solusi bangsa dan wabah?

Saat ini kita masih menghadapi musibah wabah virus corona, sayangnya di dalam sistem sekuler kapitalisme liberal. Di mana kita punya panduan hukum syara’ yang sempurna dan sudah terbukti, tapi ditinggalkan. Punya berbagai solusi untuk melakukan kebijakan strategis karantina (lockdown) untuk penyelesaian masalah pandemi sesuai syariat justru diabaikan. Penguasa nampak telah kehilangan rasa tanggung jawab mengurusi rakyat.

Sebagai Muslim dari segi keyakinan, di dalam jiwa kita meyakini bawah adanya virus corona ini adalah diciptakan oleh Allah SWT dan begitupun terjadi suatu cobaan ataupun wabah karena kehendak-Nya. Namun, secara amali kita tetap harus melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para khalifah setelah beliau. Melakukan pencegahan dan penanganan. Yakni dengan me­ne­rap­kan apa yang disebut social distancing, tanpa bersentuhan dan kebijakan karantina atau lockdown.

Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan be­ri­kan­lah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat pe­tun­juk.” (TQS. al-Baqarah: 155-157).

Dalam sistem Islam, keselamatan rakyat akan didahulukan. Bagi Khalifah, ke­pen­ti­ng­an tertinggi adalah kepentingan umat (mashalih al-ummah), yang tunduk kepada syariah Islam. Negara dalam Islam selalu serius dalam mengayomi rakyatnya. Apalagi jika menyangkut urusan nyawa. Satu nyawa saja hilang, penguasa akan merasa tersiksa.

Apalagi jika wabah bisa merenggut ribuan nyawa. Karenanya, negara Islam sangat memperhatikan kebutuhan pokok seluruh rakyatnya setelah menerapkan karantina atau isolasi wilayah yang terkena wabah. Hal ini, didukung pula dengan kesadaran individu dan masyarakat karena takwa yang mengharuskan untuk menaati kebijakan negara. Sehingga keberhasilan menuntaskan wabah penyakit akan sangat efektif.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan agar solusi Islam bisa menyelesaikan masalah wabah ini adalah mewujudkan ketakwaan pada semua level baik individu, masyarakat maupun negaranya harus menerapkan syariah Islam secara totalitas (kaffah). Hanya dengan inilah, kita semua akan memperoleh berkah, kebaikan serta solusi berbagai masalah kehidupan.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: