Cinta Rasul bukan Cinta Biasa

Cinta Rasul bukan Cinta Biasa



Oleh: Desi Anggraini, S.Sos 
(Aktivis Dakwah Islam)

Seisi alam menjadi saksi, peristiwa agung nan suci kala lahirnya manusia terbaik, manusia yang telah sinari bumi dengan wahyu iLLahi, menghapus kekufuran menebar rahmat, dialah Rasulullah Muhammad SAW. 

Ya, belum lama kita memperingati hari lahirnya kekasih Allah ta’ala, Rasulullah Muhammad SAW, tauladan terbaik ummat manusia sepanjang masa. Tak terhitung jasanya kepada kita semua, kala mengenang betapa besarnya pengorbanan beliau untuk mengenalkan kita kepada Rabbul’alamin. Tak akan pernah, sungguh tak akan pernah mampu kita membayar semua pengorbanan manusia terbaik ini, hingga kelak di akhirat kita masih meminta belas kasihnya, agar sudi memberikan syafaatnya.

Sehingga sangat wajar bila kita ungkapkan rasa terimakasih kita, rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan patuh dan tunduk kepada apa yang dibawanya, memberikan pembelaan kepadanya sekalipun dengan mengorbankan jiwa dan raga, serta mencintainya melebihi diri sendiri.

Namun apadaya, belenggu musuh-musuh islam kepada ummat Rasulullah Muhammad SAW hari ini, membuat mereka lupa bahkan berpaling. Al-Qur’an dan Sunnahnya mereka jadikan layaknya makan siang prasmanan, diambil bila enak, diabaikan bila tak sesuai selera. Mereka yang kini terkotak-kotakkan oleh sekat nasionalisme, juga tak berkutik kala suri tauladan mereka dihinakan, dijadikan lelucon karikatun yang sungguh membuat hati panas dan geram. 
(https://www.kompas.com/global/read/2020/10/27/215354170/presiden-perancis-dan-kontroversi-kartun-nabi-muhammad?page=all)

Penghinaan terhadap islam dan simbol-simbolnya hari ini biasa terjadi. Entitas muslim dipermainkan, dijadikan lelucon diberbagai tempat, sekalipun mereka mayoritas. Lihatlah di negeri kita sendiri, beberapa kali komedian terjerat kasus penghinaan terhadap islam dan simbol-simbolnya. Mereka menjadikan simbol-simbol islam sebagai bahan lawakan murahan mereka demi remah-remah dunia. (https://kumparan.com/kumparannews/6-komedian-yang-pernah-tersandung-kasus-dugaan-menghina-agama-1r1D9fATsKp.uc?uc_news_item_id=3681179175003988&app=widiwahyudi_h5_iflow&entry1=shareback_morearticle&entry2=bottom_article)

Generasi muda juga tak kalah menyedihkan. Mereka yang terjerembab dalam cengkraman arus sekularisme juga tanpa rasa takut dan malu berlenggak-lenggok dalam sebuah akun tik-tok mempermainkan gerakan sholat (https://sumsel.tribunnews.com/2018/06/02/viral-aksi-tiga-gadis-lakukan-tik-tok-dituding-lecehkan-agama-lihat-yang-dilakukan-mereka)

Begitupun dengan penghinaan terhadap panduan hidup kita Al-Quran yang mulia, tak luput dari olok-olokan dan hinaan orang-orang yang menyimpan kebencian kepada islam dan kaum muslim. Tentu satu peristiwa besar yakni aksi bela islam 212 akan menginkatkan kita kepada peristiwa yang melatarbelakangi aksi ini tersebab terusiknya kaum muslimin saat panduan hidup mereka dihinakan. Selain itu, di Amerika Serikat seorang pastor bernama Terry Jones mengajak seluruh warga AS membakar Al-Quran dalam peringatan tragedi 9/11, Na’udzubillah. 

Inilah yang dikabarkan Rasulullah SAW jauh-jauh hari sebelumnya. Kaum muslim bak buih di lautan, banyak tapi tak berarti apa-apa. Para penghina-penghina islam ini semakin tumbuh subur, sebab mereka merasa tak perlu ada yang ditakuti dari banyaknya jumlah kaum muslimin. Karena sekalipun kaum muslimin unggul dalam segi kuantitas tapi sungguh mereka lemah, rapuh dan tak berdaya. Pemimpin-pemimpin mereka tak berani ambil resiko jika menuntut hukuman tegas bagi penghina agama Allah. Yang ada hanya kecaman yang sama sekali tak membuat pelakunya jera. Ada pula yang sampai hati mengatakan “tidak usah ikut campur urusan negara lain !” saat saudara seiman di belahan bumi yang lain terdzolimi. Padahal Rasulullah mengatakan seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu tubuh. Satu saja bagian tubuh yang merasa sakit, maka rasa sakitnya pun juga ikut dirasakan bagian tubuh yang lain. Begitulah sekat nasionalisme memisahkan hubungan saudara seiman dalam aqidah islam

Sungguh kondisi ini sangat kontras dengan apa yang terjadi sebelumnya, yakni saat kaum muslim dipersatukan tanpa sekat nasionalisme. Mereka mempunyai junnah (pelindung), yakni seorang Khalifah yang dengan totalitas melayani dan melindungi kaum muslim dan agamanya. Bagaimana tidak, siapa pun akan dibuat haru dan bangga ketika medengar kisah seorang muslimah yang dilecehkan lelaki yahudi. Pakaiannya diikatkan ke paku sehingga terlihatlah sebagian auratnya. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah segera menurunkan puluhan ribu pasukannya, untuk menyerbu kota lelaki yang telah melakukan pelecehan tersebut. Tak tanggung-tanggung, panjangnya barisan pasukan ini tidak putus dari gerbang istana Khalifah hingga kota dimana laki-laki itu tinggal. 

Begitu pula ketika terjadi penghinaan terhadap Rasulullah di masa Khalifah Abdul Hamid II. Saat mendengar berita tentang digelarnya teater yang menggambarkan sosok Rasulullah, Khalifah Abdul Hamid II memberikan ancaman kepada negara yang bersangkutan, bahwa beliau akan memutus hubungan diplomasi jika pagelaran teater tersebut tetap dilanjutkan. Hingga hal ini membuat mereka takut dan akhirnya membatalkan pergelaran teater tersebut.

Beginilah bukti cinta sesungguhnya seorang muslim kepada Rasulnya dan agamanya. Karena wujud cinta dengan membela kehormatan Rasulullah SAW juga merupakan bagian dari keimanan, sebagaimana hadits yang disampaikan beliau Rasulullah SAW :
“Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya dari pada orangtuanya, anaknya, dan dari manusia seluruhnya” (H.R. Bukhari).

Penistaan terhadap islam dan simbol-simbolnya ini tidak akan ada habisnya, hingga kaum muslim memiliki kesadaran bersama untuk bersatu memutus rantai nasionalisme yang telah membuat mereka terbelenggu, sehingga kaum muslim dapat meraih kembali predikat khairu ummah. Adapun persatuan kaum muslim ini hanya akan solid dan memiliki kekuatan yang mampu melawan musuh-musuh islam dengan menerapkan kembali ideologi islam secara kaffah dalam kepemimpinan Khilafah islamiyah. Sebab islam sejatinya tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan. Imam al-Ghazali mengungkapkan pentingnya kekuasaan dan negara:

“Agama dan kekuasaan (ibarat) saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga niscaya akan lenyap”

Hari ini kita saksikan penistaan dan kedzoliman yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia tersebab islam dipisahkan dari kekuasaan (khilafah), yang sejatinya merupakan penjaga dari islam itu sendiri. Islam hanya dipraktikkan dalam ranah ibadah mahdo saja, padahal Allah SWT yang maha pengatur telah menurunkan seperangkat aturan-Nya secara sempurna dan menyeluruh. Maka sebagai wujud keimanan dan pembuktian atas kecintaan kita kepada islam dan Rasul-Nya, tiada lain dengan mengembalikan penjaga Agama ini yakni Khilafah Islaminyah. 





Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: