Investasi Asing, Aset Negara Menjadi Terasing

Investasi Asing, Aset Negara Menjadi Terasing




Oleh: Teti Rostika, S.Pd

Bagaikan seekor anjing yang memelas belas kasihan tuannya hanya untuk sekedar cari makan. Padahal dengan kemampuannya bisa saja anjing tersebut menerkam dan mengalahkan tuannya. Begitulah kondisi dunia di suatu negeri berkembang saat ini. Negara berkembang itu sesungguhnya memiliki kemampuan untuk bisa mandiri dengan mengandalkan sumber daya alam melimpah miliknya sendiri. Serta membangun generasi SDM  produktif untuk bisa mengelola sumber daya alam untuk kebutuhan rakyat dan negerinya. Tapi apalah mau dikata watak penguasa yang mau diperbudak menjadikan aset apapun milik negara akan diberikan walaupun mengorbankan jutaan nyawa rakyat demi memperkaya  pribadi dan golongan. Termasuk kondisi negeri kita tercinta ini. Saat masalah menimpa yang jadi solusi adalah meminta investasi pada negara penjajah.

Kapitalis yang diterapkan diseluruh dunia mengakibatkan peran negara lumpuh dalam mengelola sumber daya alam. Negara hanya menerima secuil bongkahan mata uang. Mau tidak mau kapitalisme telah memberikan peluang kepada para investor asing untuk merampok sumber daya alam dan berlindung dibalik undang undang. Selama kapitalisme yang diterapkan maka peluang asing untuk menguasai dan mengelola sumber daya alam milik umat akan terbuka lebar atas dasar kebebasan kepemilikan. Pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban. 

Berbeda sekali dengan aturan Islam. Sistem Islam akan mengelola sumber daya alam untuk diberikan kepada rakyatnya agar terpenuhi kesejahteraannya. Karena sumber daya alam bukanlah milik segolongan tetapi milik umat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rosullulloh Sholallohua'laihi wa salam. Bersabda:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).

Rasul saw. juga bersabda:

ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ

Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah). Pemerintahan Islam akan serius mengurusi sumber daya alam sendiri demi kesejahteraan rakyat. Bertanggung jawab atas kebutuhan sandang pangan dan papan. Pemimpin Islam juga tidak akan membuka lebar memberikan peluang asing untuk ikut andil dalam pengurusan sumber daya alam. Oleh karena itu penting sekali mengembalikan pengelolaan sumber daya alam kepada hukum Islam. Selama yang mengatur pengelolaan sumber daya alam adalah kapitalis maka yang muncul adalah kerusakan kerakusan dan hilangnya keberkahan. Wallohualam

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: