Kemenangan Biden: Akankah Menjadi Kabar Baik Untuk Islam dan Muslim

Kemenangan Biden: Akankah Menjadi Kabar Baik Untuk Islam dan Muslim



Oleh: Mita Nur Annisa
( Pemerhati Sosial )

Pemerintah Amerika serikat kini telah selesai melakukan ajang pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang mana dalam pemilihan tersebut dimenangkan oleh pasangan Biden dan Kamala Harris yang  berhasil mengalahkan pasangan Donald Trump dan Mike Pence. Sehingga kini Biden telah menjadi Presiden Amerika serikat yang ke-46. 
Atas kemenangan yang diraih oleh Biden dalam kampanyenya menyatakan jika nantinya menang dan resmi terpilih jadi Presiden Amerika Serikat 2020, Joe Biden berjanji kepada umat muslim akan perlakukan agama Islam sebagaimana mestinya. 
Hal ini ia ungkap melalui kanal YouTubenya.“Saya berjanji kepada Anda sebagai presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Saya sungguh-sungguh bersungguh-sungguh,” kata Joe Biden. Selain itu, secara mengejutkan dalam video tersebut Biden juga mengutip hadis Nabi Muhammad saw. “Hadis Nabi Muhammad memerintahkan siapa pun di antara kamu melihat kesalahan biarkan dia mengubahnya dengan tangannya jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya,” kata Joe Biden. Selain itu pernyataan yang diungkapkan Kandidat Wakil Presiden AS dari Demokrat Kamala Harris. Berbagai janji diungkapkan Harris saat wawancara dengan Arab American News.
Menanggapi pertanyaan tentang kebijakan luar negeri AS di Palestina dan Timur Tengah yang lebih luas, Harris menjelaskan, “Joe dan saya juga percaya pada nilai setiap Palestina dan setiap Israel serta kami akan bekerja untuk memastikan bahwa Palestina dan Israel menikmati tindakan yang sama untuk kebebasan, keamanan, kemakmuran dan demokrasi.”
Harris menegaskan akan terjadi perubahan besar dalam pemerintahan Biden dari era Trump, yang membuat AS menyimpang dari posisi tradisionalnya sehingga lebih berpihak pada pemerintah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. 
“Kami berkomitmen pada solusi dua negara, dan kami akan menentang setiap langkah sepihak yang merusak tujuan itu. Kami juga akan menentang aneksasi dan perluasan pemukiman,” ungkap Harris, dilansir Memo. 
Segala janji yang telah diungkapkan akan menjadi kabar baik untuk Islam dan muslim? 
Namun seakan hal ini mustahil terjadi sebab Amerika Serikat adalah negara adidaya yang berideologi kapitalis-sekuler. Sistem yang sudah sejak dahulu diemban oleh AS  hanya akan terus melahirkan pemimpin-pemimpin yang berjiwa kolonial. 
Dengan bentuk negara demokrasi maka sulit untuk dapat terpenuhinya segala janji yang telah tersemat dalam benak kita yang mana demokrasi sejatinya tidak menjanjikan apa pun. Sebagaimana yang disebut dalam buku “Apakah Demokrasi Itu?” Di cover halaman belakangnya ditulis, “Demokrasi sendiri tidak menjamin apa-apa. Sebaliknya, dia menawarkan kesempatan untuk berhasil serta risiko kegagalan.” 
Dalam Kekuasaan politik benar-benar dilepaskan dari kekuasaan agama agar dapat benar-benar berjalan sesuai dengan idealitas rasionalitas manusia. Dengan demikian, ide sekularisme adalah pondasi dasar dari demokrasi. Sehingga akan sulit untuk dapat terpenuhinya segala janji manis untuk Islam dan umat muslim.
Dalam demokrasi juga kampanye hanya sebagai alat mengumpulkan suara dan janjinya tak akan dapat dimintai pertanggungjawaban. Alhasil berharap lebih pada sistem ini hanya akan memberi luka dan siksa saja.
Dengan begitu bergantinya pemimpin bukanlah suatu kabar baik dan angin segar bagi Islam dan umat muslim. Sebab pemimpin baru akan melanjutkan perjalanan dari tujuan AS atas negeri-negeri dan dunia secara menyeluruh. Tak akan ada perubahan selama sistem kapitalis-sekuler yang digenggam, mungkin saja perubahannya hanya pada gaya/style dan pendekatan. Namun watak kolonialis akan tetap menjadi wajah permanen atas kebijakan mereka.
Wallahu alam bishawwab.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: