Kesepakatan RI-AS: Ancaman Kedaulatan dan Perpecahan Umat

Kesepakatan RI-AS: Ancaman Kedaulatan dan Perpecahan Umat



Oleh: Endang Widayati

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo akan berkunjung ke Indonesia. Saat ditanya spesifik soal kunjungannya ke Indonesia, Pompeo mengaku tahu orang Indonesia memiliki keinginan serupa dengan negara Asia Tenggara lainnya yakni Indo-Pasifik yang terbuka.
Ia menyatakan, negara-negara Asia Tenggara ingin memastikan hak-hak dasar, hak maritim hingga hak kedaulatan.

"Saya yakin pertemuan saya juga akan mencakup diskusi tentang bagaimana negara-negara bebas dapat bekerja sama untuk menggagalkan ancaman yang ditimbulkan oleh Partai Komunis China," kata Pompeo
Di samping itu, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengundang investor Amerika Serikat (AS) untuk investasi di Kepulauan Natuna. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo saat berkunjung ke Indonesia.

Tidak hanya itu Mike Pompeo pun juga menjadwalkan kedatangannya ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda (GP) Anshor Nahdlatul Ulama (NU).
Pertemuan dengan tajuk "Nurturing The Share Civilization Aspirations of Islam Rahmatan Lil Alamin The Republic of Indonesia and The United Stated of America itu digelar di Hotel Four Season.
Ditemui sebelum menggelar pertemuan dengan Pompeo, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, GP Ansor mem memiliki beberapa kesamaan tujuan. Pertama, Ansor ini ingin agar citra soal Islam, terutama di dunia Barat tidak melulu citra yang identik dengan kekerasan dan teror. "Ada sisi Islam yang lain, Islam yang penuh rahmah, Islam yang penuh kasih sayang yang di sini kita kenal dengan Islam rahmatan lil alamin," tuturnya.
Kunjungan Menlu AS mendesakkan kepentingannya atas Indonesia semakin menegaskan betapa lemahnya kedaulatan politik negeri ini. Sehingga, akan sangat mudah bagi AS dalam mengarahkan segala kebijakan dalam negeri dan tidak menutup kemungkinan dalam kebijakan luar negerinya, mengingat kerjasama bilateral yang dijalin tidak hanya dalam masalah investasi di bidang ekonomi melainkan di segala lini kehidupan.

Sudah cukup jelas bahwa negeri ini adalah negeri yang tidak memiliki independensi di hadapan negara lain. Jika langkah ini terus dilakukan oleh rezim, maka selama itu pula negeri ini akan terjajah secara kebijakan dan terus menjadi pengikut kebijakan orang kafir Barat. Padahal, penduduk begeri ini mayoritas muslim. Penguasanya muslim. Namun, segala renik aturan yang digunakan didatangkan dari aturan Barat.
Barat dengan sistem kapitalisme-sekularnya telah mampu mengamputasi jati diri umat muslim. Sukses besar dalam menjauhkan umat muslim dari agama dan aturan Sang Khaliq dengan ide sekularismenya. Hingga berujung pada perilaku yang menyimpang dari Islam. Tidak sedikit dari umat muslim yang taat beribadah, tetapi rela dengan senang hati menerima aturan Barat, seperti diperbolehkannya riba, khamr dll. Sungguh ironi!
Sedangkan kehadirannya di dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh GP Anshor NU hanya akan semakin mengukuhkan kebanggaan sebagian umat ini pada paham Islam Moderat yang dicanangkan oleh Barat. Paham ini dijadikan sebagai salah satu upaya dalam mengaburkan pemahaman umat akan Islam yang sebenarnya. Jelas ini adalah agenda yang dapat menjauhkan umat dari ajaran Islam yang paripurna.

Islam moderat yang dihembuskan ke dalam tubuh umat muslim adalah racun berbalut madu. Manis di luar tetapi mematikan di dalam. Agenda ini mampu menjadi pintu perpecahan umat. Tidak menutup kemungkinan akan terjadinya permusuhan di dalam tubuh umat muslim itu sendiri karena berbeda pandangan terhadap Islam.
Padahal sejatinya, Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. 

Sebagaimana firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Di dalam Islam tidak ada perbedaan, semuanya sama kecuali tingkat ketaqwaan kepada Allah. Sehingga, Islam itu satu yaitu Islam tidak dilabeli dengan Islam Moderat, Islam Nusantara, Islam Ekstrimis, Islam Radikal. Semua label tersebut hanyalah label buatan orang kafir yang hendak mengadu domba dan memecah belah umat Islam.

Orang kafir Barat menyadari dan memahami bahayanya jika umat Islam ini bersatu dalam satu kepemimpinan. Maka, mereka senantiasa mencari jalan propafanda untuk menghalangi persatuan umat Islam di dunia ini.
Oleh karena itu, umat saat ini butuh akan hadirnya sebuah institusi yang mampu menyatukan mereka dan menghilangkan label-label Islam yang ada. Umat membutuhkan Khilafah Islam sebagai junnah mereka, pelindung mereka. Hanya dengan kepemimpinan independen seperti Khilafah saja yang mampu memutus diplomasi dengan kafir Barat. Khilafah menutup segala hubungan diplomatik dengan negara kafir harbi seperti AS. Hubungan dengan negara kafir harbi hanyalah siaga perang. Wallahu a'lam.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: