Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Ketiadaan Khilafah Penghinaan Terhadap Nabi Saw. Terus Berulang

Minggu, 22 November 2020


Oleh : Khusnawaroh ( Pemerhati Umat )

Rindu kami padamu ya Rosul, Rindu tiada bertepi. Berabad jarak darimu ya rosul, serasa dikau disini. Cinta ikhlasmu pada manusia, bagai cahaya surga, dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja.

Lirik lagu tersebut sangat mengingatkan kita kepada nabi Muhammad saw. yang begitu sangat tulus ikhlas mencintai umatnya hingga kita lebih berfikir sanggupkah kita tuk membalasnya,. Sangking cintanya kepada umatnya, beliau selalu memohon kepada Allah ta'ala agar menyelamatkan umatnya. Waktunya habis untuk kemaslahatan umat, berjuang untuk umat, mengorbankan air mata dan darah, bahkan nyawa dipertaruhkan untuk umat, sampai dipenghujung hayatnya umat yang menjadi prioritas perhatiannya, diakhiratpun umat yang beliau cari untuk diberikan syafaatnya, sehingga wajar ketika umat bersedih, marah, ketika ada yang melecehkan manusia yang termulia, terhebat disepanjang masa baginda besar Muhammad Saw. kekasih Allah swt. Seperti berita yang dilansir :

SRIPOKU.COM --  Seruan memboikot produk-produk asal Prancis tumbuh di sejumlah negara mayoritas Negara-negara Arab di Timur Tengah.

Seruan boikot terhadap semua produk Perancis, sebagai reaksi atas sebutan kata-kata Presiden Emmanuel Macron terhadap kematian seorang guru “teroris Islam”. Macron juga mengatakan, menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai kartun bukan hal yang salah.

Mengutip jaringan berita CNN, Macron menyampaikan sikap itu pekan lalu, untuk menghormati guru sekolah menengah yang dibunuh. Guru bernama  Samuel Paty (28), tewas setelah kepala dipenggal usai mengajar di pinggiran Paris.

Paty dihabisi setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas. Membahas kartun karya Charlie Hebdo, dianggap sebagai pelajaran kebebasan berekspresi. menganggapnya sebagai kebebasan berekspresi.

Pernyataan Macron yang dinilai tidak sensitif dan emosional itu memicu demonstrasi dan boikot produk Perancis di sejumlah negara mayoritas Muslim. ( 28 oktober 2020 ).

Nabiku dihina, Nabiyullah Muhammad Saw. Nabi seluruh umat Islam diseluruh penjuru dunia dilecehkan. Biadab itulah satu kata yang pantas disematkan kepada pelaku penghinaan terhadap nabi kita tercinta muhammad Saw. Betapa  terlihat sangat  nyata menguatnya sentimen Islamofobia menyadarkan kaum Muslim bahwa kebencian Barat begitu besar terhadap Islam. Hal ini yang ditunjukkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, ia mendukung kebebasan berekspresi terkait kontroversi kartun Nabi Muhammad Saw di negaranya. Ia berargumen bahwa prinsip negaranya adalah mendukung kebebasan berpendapat.

Menghina, melecehkan adalah suatu perbuatan yang sangat tercela , terlebih itu ditujukan kepada manusia termulia utusan Allah swt. Namun berdasar atas nama kebebasan hal ini  melenggang bebas dan justru mendapatkan dukungan, dianggap sebagai kebebasan berpendapat dan bukan hal yang salah, anehnya suara tersebut keluar dari mulut seorang pemimpin yang seharusnya tidaklah patut untuk dilakukan. Sehingga kecaman demi kecaman terjadi dan tampak sejumlah negara berpenduduk muslim memboikot produk prancis. Memboikot memang sangatlah penting untuk dilakukan sebagai pertanda masih adanya nyawa bagi umat Islam,  namun ini tidak akan cukup untuk menghentikan kelakuan biadab mereka, mengingat selalu terjadi berulang penghinaan terhadap Rasulullah Saw, dinegeri kita sendiri pun masih  terasa hangat terngiang ditelinga kita tentang polemik Sukmawati yang bandingkan nabi muhammad dengan sukarno ( kumparan News, 19 november 2019). Pun tak ada sanksi yang diberikan cukup hanya sebatas kata maaf.   Hal ini membuktikan bahwa, mengecam dan memboikot pun hanyalah hukuman yang bersifat sementara dan sama sekali tidak akan memberikan efek jera pada pelakunya,  tentu yang kita harapkan kejadian ini tidaklah selalu berulang, sayang pada faktanya penghinaan terhadap islam, syariat, dan nabi kita selalu terjadi, kata teroris, radikal pun senantiasa ditujukan kepada Islam. 

Sungguh pedih terasa hidup dibawah naungan kapitalis demokrasi,  kebebasan berekspresi ditumbuhsuburkan tak perduli apakah kebebasan tersebut beradab ataukah tidak,   dan sistem inilah yang menjadi biang kerok dari berkembangnya prilaku- prilaku yang tidak beradab terutama termasuk menghina nabi muhammad Saw. Sehingga hanya sekedar mengecam dan boikot tidak akan cukup untuk menghentikan kelakuan biadab mereka. Terbukti, berulangnya penghinaan terhadap Rasulullah Saw. Maka, selain memboikot produk-produk Prancis harus pula kita mampu menolak  ide - ide atau pemikiran yang melahirkan kebebasan tersebut yaitu sekularisme-liberalisme, demokrasi dan kapitalisme

Selama sistem saat ini kapitalis- demokrasi masih dijadikan naungan, pengulangan penghinaan terhadap nabi, Islamofobia akan terus terjadi, inilah yang harus dipahami oleh umat islam seluruhnya. Memang seyogianya hidup tanpa menjadikan islam sebagai aturan hidup maka selamanya Islam dan umatnya selalu akan dilecehkan, dirugikan dan seakan dipojokkan. Padahal umat islam juga bagian dari rakyat  yang semestinya menerima perlakuan yang sama dengan umat yang lainnya. Harus disadari Ternyata memang sistem yang ada saat ini tak mampu menjaga keharmonisan kehidupan manusia.

Sudah saatnya kita kembali kepada pangkuan Islam,  hanya dibawah naunganya yakni Khilafah yang akan menerapkan sistem Islam secara kaffah kita akan merasakan indahnya keharmonisan kehidupan yang tidak akan  hanya dirasakan umat Islam semata namun seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim. Keunggulan sistem Islam telah membawa peradaban yang mulia dan ini telah terbukti bahwa peradaban Islam telah berhasil memimpin dunia 12 abad lamanya. Kesejahteraan dan keharmonisan tumbuh subur tak heran sebab didalamnya terdapat mukjizat  Al-quran dan As-sunah yang direalisasikan sebagai pedoman aturan dalam kehidupan. 

Dengan demikian sangat tegas sistem Islam memandang bagi pelaku penghinaan terhadap nabi Saw. Sejumlah riwayat menceritakan dengan  jelas tentang sikap para Sahabat sekaligus Khalifah terhadap penghina Nabi Saw, antara lain, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra memerintahkan untuk membunuh penghina Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud rahimahullah dalam Sunannya hadis ke 4.363. Dan kisah ini juga diriwayatkan oleh An-Nasai, Al-Hakim, Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Humaidi dan Abu Ya’la rahimahumullah

Lalu, Khalifah Umar bin Kaththab ra yang terkenal sebagai Sahabat Nabi Saw tegas juga pemberani. Sebagai Khalifah yang adil beliau pernah mengatakan, “ Barangiapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!”. Atsiar ini diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimaihullah.

Inilah sikap para penguasa Islam dalam Khilafah . Ketundukan dalam menjalankan syariat Islam menjadi kunci kesuksesan dalam mencapai kedamaian umat dan peradaban yang mulia, Berbeda kondisinya disaat tidak ada Khilafah, para penguasa Muslim hanya mampu berikan kecaman dan boikot barang-barangnya. Maka sudah seharusnya mengembalikan kemuliaan Islam dengan menegakkan Khilafah.

Dalam Khilafah keberadaan multikultur dalam masyarakat Islam terjaga dengan harmonis. Hal ini karena Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam…” (QS Al Baqarah [2]: 256)
Itulah yang menjadikan nonmuslim aman hidup dalam Daulah Islam. Meskipun demikian, kepada mereka tetap disampaikan dakwah Islam lewat penerapan syariat Islam dalam negara sehingga mereka merasakan keagungan Islam.  Karenanya solusi tuntas hanya berasal dari Islam.

wallahua'lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar