Ketika Kemiskinan Memicu Kerawanan Pangan

Ketika Kemiskinan Memicu Kerawanan Pangan

Oleh: Yuni Damayanti

(Pemerhati Sosial Asal Konawe, Sultra)


Gale Saputra (9) hanya bisa berbaring tanpa daya di atas tempat tidur Rumah Sakit Umum Daerah  (RSUD) Bahteramas, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Dua buah selang infus pun terlihat menempel di tangan dan hidungnya. Lima hari sudah Gale berada di RSUD, menjalani perawatan intensif dari pihak dokter dan perawat. Bocah tersebut nampak ditemani oleh seorang perempuan muda, bernama Sri Endang. 

Tubuh Gale nampak kering, tulang belulangnya menonjol terbungkus kulit. Tatapanya sayup dan kosong, sesekali meringis menahan sakit tatkala salah satu anggota tubuhnya digerakkan. Sri Endang seorang relawan yang menemani Gale di RSUD, Gale pertama kali diketahui gizi buruk saat dibawa ibunya ke desa Lalonggombuno, Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe.

Saat itu Endang belum mengetahui tentang keberadaan Gale, sehingga akhirnya setelah seminggu berada di kampung tersebut salah seorang warga setempat memposting kondisi anak itu di media sosial (Zonasultra.com, 04/11/2020).

Sungguh miris melihat keadaan Gale saat ini, anak seusianya seharusnya bisa bebas bermain dan sekolah, namun hal ini  tidak berlaku bagi Gale. Kemiskinan menjadi salah satu faktor munculnya banyak kasus gizi buruk seperti yang dialami Gale. Ekonomi yang sulit, pekerjaan, dan penghasilan yang tidak mencukupi untuk membeli bahan makanan yang harganya melambung tinggi. Sehingga orang tua pun tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan gizi anaknya.

Pemerintah Kabupaten Konawe khususnya, memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yaitu memberantas gizi buruk, sebab masalah kesehatan berkaitan erat dengan kemiskinan. Di tengah ramainya perbincangan tentang pertambangan di Konawe, alangkah lebih baik jika pemerintah daerah tidak hanya terfokus pada investor saja, melainkan mengawasi dan memenuhi kebutuhan ekonomi rakyatnya. 

Sebab, permasalahan gizi buruk ini tidak bisa jika dikembalikan kepada keluarga dan masayarakat saja dengan memberikan kesadaran mereka akan pentingnya menjaga kecukupan gizi terutama pada 1000 hari pertama kehidupan, namun perlu ada upaya serius dari negara untuk menangani permasalahan ini.

Sementara jika melihat bagaimana sistem Islam mampu mengatasi permasalahan kemiskinan yang memicu kerawanan pangan, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan persoalan tersebut, di antaranya: Pertama, secara individual. Allah Swt. memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233). Rasulullah Saw. juga bersabda, “Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain.” (HR ath-Thabarani).

Jika seseorang miskin, ia diperintahkan untuk bersabar dan bertawakal seraya tetap berprasangka baik kepada Allah sebagai Zat Pemberi rezeki. Haram bagi dia berputus asa dari rezeki dan rahmat Allah SWT. Nabi Saw. bersabda, Janganlah kamu berdua berputus asa dari rezeki selama kepala kamu berdua masih bisa bergerak. Sungguh manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah tanpa mempunyai baju, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla memberi dia rezeki (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Kedua, secara jama’i (kolektif) Allah Swt. memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. Bersabda, “Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu .” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Ketiga, Allah Swt. memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah Saw. bersabda, “Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Sungguh dalam Islam, pemimpin adalah penanggung jawab urusan dan kemaslahatan rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu di hadapan Allah Swt.  Nabi Saw. bersabda, “Seorang iman (pemimpin) pengatur dan pemelihara urusan rakyatnya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, hanya sistem Islam yang mampu memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada rakyat, salah satu di antaranya memberikan asupan gizi yang cukup bagi rakyatnya. Karena sesungguhnya semua itu merupakan tanggung jawab negara. 

Dalam sirah pun diceritakan bagaimana seorang Khalifah Umar bin Khatab setiap malam datang tidak pernah tidur nyeyak. Hal ini terjadi karena beliau khawatir jika masih ada warganya kelaparan. Maka tidak heran Khalifah Umar sering melakukan sidak ke rumah-rumah penduduknya untuk melihat bagaimana kondisi rakyatnya. Ketika mengetahui ada salah satu keluarga yang belum makan, beliau pun rela memanggul sendiri bahan pokok untuk diantar ke keluaga tersebut. 

Hal itu sungguh luar biasa, fenomena yang mungkin jarang dilakukan oleh pemimpin suatu negeri. Bahkan tak jarang, ketika penguasa turun ke jalan, mereka seolah hanya pencitraan. Karena nyatanya rakyat tidak mendapat solusi dari permasalahan yang di hadapinya. Bahkan penguasa dalam bingkai kapitalisme nampak lebih memihak kepada para pemilik modal dibanding berusaha menyejahterakan rakyat. 

Dengan demikian, tidak mudah mengatasai masalah kerawanan pangan yang mendera masyarakat, jika penguasa masih minim dalam mengatasi akar permasalah tersebut. Sementara   hal itu bukan hal yang sulit, jika aturan-Nya dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, penguasa dalam sistem Islam memahami betul bahwasanya amanah yang mereka pegang akan dimintai pertanggungjawaban tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Wallahu a’lam bisshowab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: